Belajar dari COVID: Jangan Menunggu Hantavirus Meledak
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Kolom

Belajar dari COVID: Jangan Menunggu Hantavirus Meledak

Senin, 11 Mei 2026 08:36 WIB
Kamaluddin Latief
Epidemiolog Senior, dan Pengamat Global Health Security.
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
handwriting alert hantavirus on chalkboard
Foto: Ilustrasi hantavirus (Getty Images/ninitta)
Jakarta - Di malam hari, siluet kota-kota besar Indonesia tampak modern. Lampu gedung perkantoran, jalan layang ramai kendaraan, dan baliho "smart city" berjejer di jalan. Namun di lorong sempit di belakang bangunan, gambarnya lain: tumpukan sampah, selokan tersumbat, dan tikus yang bebas berlari.

Di ruang seperti inilah, jauh dari panggung diskusi, hantavirus bergerak senyap.

Hantavirus sering dianggap penyakit luar negeri. Padahal, sejak 1980‑an, virus ini berulang kali ditemukan pada tikus dan manusia di berbagai kota Indonesia. Kajian puluhan tahun penelitian yang terbit 2019 menunjukkan bahwa Indonesia bukan pemain pinggiran dalam peta hantavirus dunia.

Di Asia Tenggara, analisis atas lebih dari 11.000 mamalia kecil memperkirakan sekitar satu dari enam di Indonesia membawa hantavirus, tertinggi di kawasan.

Di sisi manusia, sebuah studi pada pasien demam akut di delapan rumah sakit besar menunjukkan sekitar satu dari sepuluh pasien punya antibodi terhadap hantavirus. Ini bukti paparan masa lalu yang luput dari statistik.

Setelah pandemi COVID‑19, istilah "zoonosis" mulai akrab di telinga, tapi perhatian kita tetap tertuju pada ancaman yang seolah datang dari luar: virus dari hutan tropis yang belum dikenal, atau dari benua lain.

Sementara itu, hantavirus, yang hidup bersama kita di selokan dan los pasar, tetap menjadi catatan kaki. Mengabaikan virus yang sudah di depan mata, dan yang datanya menempatkan Indonesia sebagai kantong hantavirus di Asia Tenggara, adalah bentuk buta epidemiologis yang berbahaya.

Secara sederhana, hantavirus bisa menyerang paru‑paru dan ginjal. Pada sebagian orang, infeksi menyebabkan radang paru dan napas sesak. Pada orang lain, virus ini merusak ginjal sehingga penderitanya sulit buang air kecil dan tubuh membengkak. Gambaran kasarnya: demam, nyeri otot, mual, trombosit turun, lalu berlanjut ke sesak napas dan gagal ginjal.

Sering kali, gejalanya menyerupai dengue berat atau leptospirosis. Salah diagnosis yang berlarut-larut ini bukan hanya soal nyawa, tetapi juga soal efisiensi anggaran. Penanganan gagal ginjal kronis di tingkat lanjut, jauh lebih mahal dibandingkan pencegahan di hulu.

Di Indonesia, hampir semua infeksi hantavirus akut awalnya didiagnosis dengue. Dokter melihat demam tinggi, trombosit rendah, kadang ruam dan perdarahan ringan, refleks pertama adalah dengue, terutama saat outbreak. Baru ketika sampel diperiksa ulang di laboratorium penelitian, terungkap bahwa sebagian pasien sebenarnya terinfeksi Seoul virus.

Temuan serupa muncul di Jakarta, Maumere, hingga klinik ginjal di Makassar. Bukan virusnya yang "jarang"; sistem kita yang jarang menoleh.

Kalau mengikuti jejak tikus, gambarnya makin jelas. Sejak 1980 an, studi di pelabuhan dan permukiman Indonesia menemukan 10-30 persen tikus membawa hantavirus. Mayoritas adalah Seoul virus pada tikus got dan tikus rumah, serta varian lokal yang disebut Serang virus.

Temuan terbaru di pasar Bogor bahkan menunjukkan satu ekor tikus bisa membawa hantavirus dan bakteri leptospirosis; sumber infeksi ganda mematikan bagi manusia.

Di atas kertas, ini sudah cukup menyalakan lampu kuning: hantavirus banyak ditemukan pada tikus, jejaknya jelas di darah manusia, dan beberapa kasus berat sudah muncul.

Di lapangan, lampu kuning itu nyaris tak tampak, tertelan rutinitas. Hal ini diperparah oleh normalisasi risiko; kita sudah terlanjur menganggap tikus sebagai penghuni tetap rumah, sehingga kehadirannya tidak lagi dianggap sebagai ancaman kesehatan, melainkan hanya gangguan estetika.

Salah satu penyebabnya adalah cara sistem melihat demam. Di banyak fasilitas kesehatan, pola pikirnya baku: cari dulu dengue dan leptospirosis karena alat tersedia, dan masuk program. Hantavirus terpinggirkan karena absennya 'ruang resmi' dalam sistem pelaporan.

Di luar sektor kesehatan, data tentang tikus jarang dibaca sebagai sinyal kesehatan. Ledakan populasi tikus di pelabuhan, pasar, dan permukiman padat masih diperlakukan sebagai urusan kebersihan kota, bukan sebagai indikator risiko penyakit yang dibawa tikus.

Padahal, dokumen kesiapsiagaan global merekomendasikan agar indikator lingkungan seperti ini dibaca bersama data klinis, terutama dalam kerangka 7‑1‑7: tujuh hari deteksi, satu hari notifikasi, tujuh hari respons.

Kita rajin menyebut One Health dalam presentasi. Di lapangan, data kesehatan, lingkungan dan hewan berjalan sendiri, jarang bertemu di meja yang sama.

Apa yang bisa dilakukan agar hantavirus tidak menjadi COVID kecil yang terlambat kita tanggapi?

Pertama, pilih beberapa rumah sakit besar sebagai pos pantau. Di kota-kota dengan bukti hantavirus kuat seperti Jakarta, Semarang, Denpasar, Makassar, Maumere, Bogor-pasien demam dengan gangguan ginjal atau paru yang hasil uji dengue dan leptospirosisnya negatif bisa ditawarkan pemeriksaan hantavirus, minimal dengan tes antibodi. Dari sini, kita akan mendapat gambaran lebih jernih tanpa harus memeriksa semua orang.

Kedua, angkat data tentang tikus ke meja kesehatan. Dinas kesehatan, lingkungan hidup, dan kebersihan sebenarnya sudah memiliki potongan data: jumlah tikus yang tertangkap, hasil pemeriksaan hantavirus dan Leptospira di tikus, titik-titik sampah yang menumpuk. Satukan dan baca bersama data pasien demam dari puskesmas dan rumah sakit.

Ketiga, bekali dokter dan petugas pelacak kasus dengan alat bantu yang praktis. Misalnya, kartu saku tentang kapan harus curiga hantavirus: demam, trombosit rendah, ada gangguan ginjal atau paru; tes dengue dan leptospirosis negatif; dan ada cerita jelas soal tikus di rumah, di tempat kerja, atau di lingkungan pasien.

Jika pola ini muncul di daerah dengan banyak tikus, kirim sampel darah ke laboratorium yang bisa memeriksa hantavirus.

Keempat, buat komunikasi risiko ke warga lebih konkret. Bukan hanya "jaga kebersihan", tetapi langkah spesifik: simpan makanan agar tak dijangkau tikus, tutup lubang di dapur dan gudang, kelola sampah rumah tangga, dan jangan menyapu kotoran tikus kering.

Membasahi lantai dan memakai disinfektan sebelum dibersihkan adalah langkah kecil yang menyelamatkan nyawa karena mencegah virus terhirup sebagai aerosol.

Ini semua tidak akan mengubah hantavirus menjadi epidemi besok pagi. Tujuannya justru memastikan; kalau suatu saat hantavirus mulai "mengangkat suara", kita tidak lagi tuli.

Selama ini, hantavirus hidup di persimpangan antara pengetahuan dan kebijakan. Di meja peneliti, ia tampak jelas: angka, peta, dan sekuens virus. Di meja pengambil keputusan, namanya nyaris tak terdengar.

Indonesia sudah membayar mahal untuk belajar bahwa menunggu kurva kasus naik sebelum bertindak adalah strategi yang buruk. Kali ini, kita punya keuntungan; data hantavirus sudah ada, bahkan lebih dari tiga dekade. Pertanyaannya, apakah kita berani melihatnya dengan jujur.

Membangun sistem yang tangguh bukan soal menebak virus baru apa yang akan muncul, tetapi soal kejujuran membaca data yang sudah ada dan menutup celah yang jelas di depan mata. Hantavirus adalah salah satu ujiannya.

Kamaluddin Latief. Epidemiolog Senior, Pengamat Global Health Security, Wasekjen Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI).

Tonton juga video "Dirjen WHO soal Hantavirus: Ini Bukan Covid!"

(rdp/imk)



Berita Terkait