Bencana Debu Perang
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Kolom

Bencana Debu Perang

Minggu, 19 Apr 2026 11:30 WIB
Fotarisman Zaluchu
Dosen di FISIP, Universitas Sumatera Utara.
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Rubble of a building at Sharif University of Technology, which was damaged in a strike, amid the U.S.-Israeli conflict with Iran, in Tehran, Iran, April 7, 2026. Majid Asgaripour/WANA (West Asia News Agency) via REUTERS ATTENTION EDITORS - THIS PICTU
Foto: Serangan AS-Israel Hantam Universitas Top Iran (Majid Asgaripour/WANA via REUTERS)
Jakarta -

Di samping bencana kemanusiaan, dampak perang akan berkelanjutan akibat puing-puing bangunan. Partikel debu yang berasal dari reruntuhan dan kehancuran fisik bangunan, terbukti mengancam nyawa penduduk lokal bahkan setelah bertahun-tahun perang nantinya usai.

Sejak perang besar-besaran meletus, Amerika-Israel telah menargetkan bangunan dan infrastruktur penting milik Iran. Pabrik, jembatan, bandara dan pelabuhan di berbagai kota di Iran dihantam dengan rudal dahsyat. Berton-ton bahan peledak digunakan oleh kedua negara tersebut untuk menyerang Iran. Dan Iran pun luluh lantak. Amerika-Israel paham jika Iran menyimpan amunisi dan peralatan tempurnya di bawah tanah.

Maka tidak main-main, untuk menghancurkan satu bunker saja, diperkirakan sebanyak 1 ton bom digunakan. Alhasil, perang telah meratakan begitu banyak bangunan di Iran. Citra satelit yang banyak tersebar di media massa menunjukkan wilayah-wilayah yang tadinya berdiri bangunan, kini rata dengan tanah. Dalam dua hari pertama, lebih dari 1200 target dihancurkan oleh serangan Amerika-Israel.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Terlepas dari dari bencana kemanusiaan yang diakibatkan oleh jatuhnya ribuan korban sipil dan hancurnya berbagai fasilitas umum (rumah sakit, sekolah, perkantoran) di Iran, sebuah bencana lain diam-diam mengintai di Iran. Dan bencana ini bahkan mungkin saja akan terus menetap meski perang nantinya berhenti secara total. Bencana itu bernama partikel debu.

Partikel debu tersebut berasal dari bangunan tempat tinggal, hotel, pemukiman, bahkan kawasan industri yang diratakan oleh bom-bom dahsyat. Sampai dengan minggu ketiga Maret atau hampir sebulan setelah serangan dilakukan, media melaporkan jika sebanyak 36.489 kawasan pemukiman telah dihancurkan oleh Amerika-Israel, dan 6.179 bangunan komersil lebur dengan tanah. Itu belum termasuk kawasan-kawasan strategis lainnya.

Inilah sumber-sumber debu bagi penduduk di kawasan perang. Debu-debu reruntuhan atau tanah yang dihancurkan ini bukan sekedar debu. Debu-debu ini memiliki konsekuensi panjang bagi kesehatan penduduk di Iran.

Studi kasus WTC

Salah satu studi kasus yang menarik untuk memperjelas masalah ini adalah debu dari runtuhnya menara kembar, World Trade Center (WTC), pada tanggal 11 September 2001. Saat masih berdiri, kedua bangunan tersebut memiliki lebih dari 100-an lantai dan tegak setinggi masing-masing 400-an meter. Namun saat runtuh, kedua bangunan itu diperkirakan membawa sebanyak 1 juta ton reruntuhan material, menyebar ke seluruh kawasan tersebut.

Debu yang dihasilkan oleh keruntuhan menara tersebut memiliki berbagai macam ukuran. Namun begitu masifnya sisa reruntuhan, sampai-sampai tebalnya endapan debu mencapai ketebalan beberapa sentimeter. Debu yang mengendap ini kemudian dapat terbang lagi oleh karena angin yang bertiup. Sementara itu debu yang berukuran lebih kecil, terbang kesana-kemari, tertiup angin, dan kemudian terhirup oleh manusia melalui saluran pernapasan.

Berbagai laporan ilmiah sebenarnya telah mengungkapkan hal ini kepada publik. Ternyata, masalah besar kemudian muncul karena debu-debu ini turut membawa serta partikel berbahaya. Partikel-partikel berbahaya ini berasal dari sisa material bangunan, material-material aktifitas dalam bangunan yang turut hancur bersama bangunan, serta sisa-sisa bahan bakar yang dibawa oleh pesawat terbang yang menabrak kedua menara.

Berdasarkan identifikasi, debu reruntuhan WTC diketahui mengandung metal, asbestos, polycyclic aromatic hydrocarbons (PAHs), persistent organic pollutants (POPs, termasuk di dalamnya polychlorinated biphenyls (PCBs) dan dioxins), serta benzena. Material-material tersebut jelas berbahaya jika terhirup terlebih dalam konsentrasi tinggi dan permanen.

Penelitian yang dilakukan terhadap partikel-partikel debu dari kehancuran WTC menunjukkan masalah yang sangat serius. Diantara dua yang serius adalah terjadinya peradangan di seluruh saluran pernapasan, termasuk paru-paru, dan bahkan debu dengan ukuran sangat kecil, dapat mencapai jaringan pembuluh darah dan jantung. Partikel-partikel debu yang berukuran jauh lebih kecil juga dilaporkan dapat mencapai sistem persarafan.

Lebih dari 20 tahun setelah kejadian runtuhnya WTC, laporan lain bahkan menunjukkan jika paparan ini memicu terjadinya multiple myeloma (MM) dan kanker prostat. Keluhan kesehatan bahkan penyakit ini terjadi dalam periode yang sangat lama, bahkan ketika sisa-sisa reruntuhan WTC telah dibangun kembali.

Debu Perang

Gambaran berbahayanya kesehatan warga lokal dari peristiwa WTC tersebut membawa kita pada keprihatinan yang mendalam pada kondisi penduduk lokal di Iran. Dengan menggunakan kasus WTC, maka dapat ditebak jika masalah kesehatan masyarakat yang sangat serius tersebut sebenarnya saat ini telah dimulai di Iran.

Ketika bangunan tempat tinggal, hotel, dan kawasan industri diratakan oleh bom-bom dahsyat, bangunan-bangunan tersebut akan melepaskan gumpalan zat karsinogen yang terkonsentrasi, termasuk di dalamnya adalah serat asbes, timbal, mungkin saja merkuri, serta residu dari amunisi canggih yang telah melebur maupun yang masih belum. Belum lagi jika sisa-sisa bahan radioaktif yang ada telah meledak atau melebur ke dalam berbagai partikel dan melekat ke dalam debu sisa-sisa bangunan yang hancur.

Keadaan semakin parah karena dalam sebulan ini hampir setiap hari kita menyaksikan bangunan dan fasilitas publik yang hancur. Paparan debu yang berlangsung terus menerus itu, baik yang berada dalam ruangan maupun di luar ruangan, tersebar dimana-mana baik di jalan, rumah, pertokoan bahkan di lubang-lubang perlindungan sekalipun.

Amerika-Israel mungkin sangat cerdas untuk memikirkan risiko debu ini. Lihatlah bagaimana mereka hanya mengandalkan serangan udara saja. Ironisnya, di bawah, di tanah, kota-kota di Iran telah menjadi area beracun bagi siapapun yang berada disana. Tanpa disadari, partikel-partikel ini menimbulkan ancaman yang menetap yang mengancam jiwa warga sipil, terlebih anak-anak yang menghirup racun-racun ini setiap harinya.

Partikel-partikel berukuran kecil berpotensi dihirup secara ekstensif oleh penduduk di wilayah perang, dibawa oleh mobilitas penduduk yang bergerak seiring dengan situasi perang yang terjadi. Belum lagi kondisi debu ini dipengaruhi oleh cuaca yang meliputi area yang mengalami kehancuran. Debu-debu dengan partikel berbahaya di dalamnya ini akan berujung pada penurunan kapasitas paru-paru penduduk lokal dan membuat populasi lebih rentan terhadap hadirnya penyakit menular lain seperti tuberkulosis atau pneumonia.

Tidak terhitung gangguan penglihatan dan gangguan di saluran pernapasan lain. Maka di masa depan, dapat ditebak jika Iran harus membayar biaya perang yang tidak kasat mata, yang menimpa penduduknya. Tagihan biaya itu mungkin baru akan "disampaikan" setelah dua hingga tiga dekade dari sekarang.

Bantuan

Maka zona perang sebenarnya adalah pusat sumber debu beracun. Mengabaikan situasi ini adalah sama saja dengan menghukum seluruh populasi lokal di Iran, termasuk di kawasan yang juga mengalami kehancuran. Kita harus merasa sangat prihatin bahwa perang memiliki dampak jangka panjang yang sangat serius.

Tetapi untuk membantu memulihkan kondisi ini, kita perlu menyiapkan tenaga bantuan yang terlatih. Literatur yang telah ada mengenai paparan debu, termasuk WTC, akan menuntun kita menyeleksi komponen debu dan elemen yang melekat bersamanya, sehingga upaya mempersiapkan sumber daya menjadi lebih terencana.

Tenaga kesehatan yang berhubungan langsung dengan kondisi debu perang harus benar-benar memiliki keahlian yang spesifik, memiliki kemampuan mendeteksi tanda dan gejala penyakit yang ditimbulkan oleh debu perang. Kita juga perlu menggalang komunitas internasional agar dapat membangun database penduduk lokal yang telah terpapar debu perang ini agar kesehatannya dapat dipantau di masa depan.

Perang memang tidak pernah ada yang baik. Bahkan perang yang melelahkan dapat terus terjadi saat perang fisik telah selesai.

Fotarisman Zaluchu. Dosen di FISIP, Universitas Sumatera Utara.

(rdp/imk)



Berita Terkait