NATO Tolak Gabung AS untuk Blokade Selat Hormuz
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Kolom

NATO Tolak Gabung AS untuk Blokade Selat Hormuz

Selasa, 14 Apr 2026 19:23 WIB
Laksamana TNI (Purn) Prof. Dr. Marsetio
Laksamana TNI (Purn) Prof. Dr. Marsetio Guru Besar Universitas Pertahanan, mantan Kepala Staf TNI Angkatan Laut
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
NATO flag flies in front of the Independence Monument during a rally of supporters of the Democratic Axe political party to thank all of Ukraines partners for political support and military aid, at Independence Square in Kyiv, Ukraine January 30,
Ilustrasi. (REUTERS/Valentyn Ogirenko)
Jakarta -

Perang antara Iran-AS-Israel diperkirakan akan kembali terjadi setelah gagalnya perundingan 21 jam di Pakistan di sela-sela gencatan senjata dua minggu sejak 8 April 2026. Tanda-tanda perang terlihat setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan AS memblokade Selat Hormuz menyusul gagalnya perundingan. Blokade dilakukan terhadap semua kapal yang menuju maupun keluar dari pelabuhan Iran di Selat Hormuz. Kapal perang AS juga memburu kapal-kapal yang membayar secara illegal kepada otoritas Iran agar bisa berlayar di selat trategis itu.

Selama gencatan senjata berlangsung, setelah berperang lebih dari sebulan, Iran membuka blokade Selat Hormuz, kemudian memberlakukan pungutan satu dolar AS per barel muatan kapal bagi semua kapal yang melintas di selat tersebut. Tindakan Iran itu menurut Organisasi Maritim Internasional (IMO) merupakan pelanggaran terhadap hukum internasional. Blokade Selat Hormuz yang dilakukan oleh Iran maupun AS tentu memunculkan kekhawatiran akan membuat harga minyak dunia kembali melonjak.

Kapal induk AS, USS Abraham Lincoln bersama kapal-kapal pengawalnya telah menempati posisinya tidak jauh dari Selat Hormuz untuk menegakkan blokade. Kondisi ini menambah rumit situasi, mengingat begitu banyak kapal yang melintas di selat tersebut, termasuk kapal-kapal berbendera China, Rusia dan Korea Utara. Apakah kapal-kapal dari tiga negara itu juga akan diperiksa juga oleh Angkatan Laut AS? Konsekwensinya tentu tidak dapat dianggap ringan dan bisa memicu situasi berkembang ke arah yang tidak menguntungkan dunia. Selain itu, Iran dipastikan tidak tinggal diam atas tindakan blokir yang dilakukan AS, apa lagi Presiden Trump pernah mengancam akan "menghancurkan seluruh peradaban Iran".

Sekutu AS di Eropa menolak bergabung untuk ikut memblokade Selat Hormuz. Perdana Menteri Inggris Keir Starmer sudah menyatakan penolakannya. Sebaliknya, Inggris bersama Perancis akan menyelenggarakan konferensi untuk membentuk misi multinasional. Presiden Prancis, Emmanuel Macron menyebut misi multinasional itu bersifat defensif dengan tugas mengawal kapal-kapal tanker saat melewati Selat Hormuz. Misi itu beranggotakan sekitar 30 negara, termasuk negaranegara Teluk. Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte menyebut misi itu akan terlaksana bila 32 negara anggota NATO menyetujui pembentukannya.

Iran Bukan Venezuela

Dalam perang yang berlangsung sebulan lebih, ternyata AS dan Israel "kewalahan" menghadapi Iran di medan pertempuran. Pasukan Iran bukan seperti yang dikalkulasi AS-Israel: mereka tangguh serta cerdik menggunakan berbagai peralatan perang, sehingga bisa meraih kemenangan politis, dengan AS memberlakukan gencatan senjata selama dua minggu untuk berunding di Pakistan.

Pada perang Februari-Maret lalu, dari segi peralatan militer, pasukan AS sesungguhnya bukan tandingan Iran, sehingga Presiden Trump menganggap enteng Iran. Bisa jadi Trump menyamakan Iran degan Venezuela yang presidennya dengan mudah ditangkap pasukan AS tanpa perlawanan. Dengan keyakinan serupa Trump melancarkan perang pada 28 Februari, dan berhasil menewaskan pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, Menteri Pertahanan Iran Aziz Nasirzadeh, serta Komandan Garda Revolusi (IRGC) Mohammad Pakpour.

Tapi Iran berbeda dengan Venezuela. Semula AS berharap dengan gugurnya Khamenei dan para petinggi Iran lainnya, rakyat negeri itu akan berontak sehingga terjadi pergantian kepemimpinan nasional. Namun, tindakan membunuh pemimpin Iran itu justru membuat rakyat Iran bersatu melawan AS-Israel. Iran meluncurkan ribuan drone ke berbagai pangkalan militer AS di Teluk. Inilah titik penentu kemenangan Iran dalam perang antara si kecil melawan raksasa tangguh bersenjata lengkap laksana David melawan Goliat.

Iran menjalankan skrenario perang atrisi sekaligus asimetris: melancarkan perang berlarut dan menyasar perekonomian AS maupun Israel yang harus membiayai perang berbiaya tinggi. Serangan udara menggunakan drone berharga hanya Rp 400 juta pe drone harus dibayar AS-Israel dengan meluncurkan rudal penangkis berharga Rp 60 miliar per rudal. Pada sisi lain, perang asimetris dilancarkan oleh proksi Iran di Lebanon melalui Hisbullah dan di Yaman menggunakan Houthi: menganggu lalu lintas kapal di Laut Merah dan Selat Bab el Mandeb.

Untuk mendukung efektifitas perang, Iran melakukan blokade Selat Hormuz sehingga aliran minyak dunia terganggu sebab 20 persen pasokan minyak dunia diangkut melewati selat sempit itu. Iran menyebar ranjau laut di sana, dan meledakkan kapal-kapal yang tidak mematuhi blokade. Kapal perang yang dikirim Trump ke sana tidak berhasil membuka selat itu. Kapal perang AS juga tidak mampu mengawal kapalkapal niaga untuk melintas di Selat Hormuz.

Pada sisi lain, rudal balistik Iran ternyata mampu menembus pertahanan Israel maupun AS. Bahkan rudal jelajah antar benua (ICBM) milik Iran bisa mencapai Diego Garcia di tengah Samudra Hindia yang berjarak 4000 km dari daratan Iran. Pesawat tempur F-15E Strike Eagle, A-10 Thunderbolt II milik AS juga bisa ditembak jatuh oleh rudal pertahanan udara Iran. Pesawat canggih AS, F-35 Lightning II juga dikabarkan mengalami kerusakan akibat serangan Iran. Kondisi di medan perang AS tersebut, semakin parah dengan adanya penolakan rakyat AS terhadap kebijakan Trump yang melakukan perang tanpa persetujuan Kongres AS. Demo rakyat berskala besar pun terjadi di dalam negeri, sementara sekutu-sekutu AS di Eropa menolak membantu AS dalam perang tersebut. Berbagai kondisi itu tampaknya menjadi penyebab disepakatinya gencatan senjata.

Perang untuk sementara memang berhenti selama dua minggu dan AS menerima 10 usulan Iran yakni: komitmen non-agresi terhadap Iran; Iran mengontrol Selat Hormuz; Iran berhak atas pengayaan uranium; pencabutan sanksi ekonomi atas Iran; pencairan aset-aset Iran yang dibekukan AS; pembatalan semua resolusi Dewan Keamanan PBB; pembatalan semua resolusi Dewan Gubernur Badan Atom Internasional; pembayaran kompensasi perang; penarikan pasukan AS, dan penghentian perang di semua front termasuk di Lebanon.

Sayangnya, sepuluh usulan Iran itu gagal total ketika dibahas di meja perundingan. Dengan kegagalan tersebut rasanya perang akan kembali berlanjut. Terlebih lagi, faktor Israel sebagai "anak nakal" sudah beraksi lebih dulu dengan melancarkan serangan ke Beirut, Libanon, bahkan di saat gencatan senjata baru saja diumumkan.

Jika perang terus berkecamuk, maka perang asimetris dan berkelanjutan akan berlangsung lama. Kalau itu terjadi, bagi Indonesia dampaknya adalah beban ekonomi yang semakin berat, mengingat harga bahan bakar minyak akan terus merangkak naik. Harapannya tentu saja adalah perang ini segera dapat diakhiri, dengan AS dan Israel dapat menemukan jalan keluar dari peperangan.

Jakarta, 14 April 2026

Laksamana TNI (Purn) Prof. Dr. Marsetio
Guru Besar Universitas Pertahanan, mantan Kepala Staf TNI Angkatan Laut

Simak juga Video 'Trump Sebut Tak Akan Biarkan Iran Memeras-Mengancam Dunia':

Halaman 2 dari 2
(rfs/rfs)


Berita Terkait