Mudik, Data, dan Polri Prediktif
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Kolom

Mudik, Data, dan Polri Prediktif

Minggu, 12 Apr 2026 19:23 WIB
Endang Tirtana
Wakil Ketua Lembaga Kajian dan Kemitraan Strategis Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Petugas memantau pergerakan arus mudik melalui layar CCTV di Posko Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2026 di Kantor Kementerian Perhubungan, Jakarta, Kamis (19/3/2026). Posko yang beroperasi pada 13-30 Maret 2026 dan melibatkan pemangku kepentingan dari
Foto: Petugas memantau pergerakan arus mudik melalui layar CCTV di Posko Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2026 di Kantor Kementerian Perhubungan, Jakarta, Kamis (19/3/2026). (ANTARA FOTO/Putra M. Akbar)
Jakarta -

Hilir perjalanan mudik 2026 telah usai. Peristiwa tahunan ini menjadi kolosal yang menggerakkan jutaan warga, serta turut menghidupkan denyut ekonomi nasional. Berdasarkan laporan Kementerian Perhubungan, pergerakan warga mencapai 147,55 juta orang. Angka fantastis ini melampaui proyeksi awal yang diperkirakan sebesar 143,92 juta jiwa.

Kendati jumlah pemudik tahun ini bertambah, angka kecelakaan yang sering menjadi titik fokus perhatian publik menunjukkan capaian positif. Data Korlantas Polri mencatat menurun hingga 6,31 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Ini menjadi catatan yang baik bagi kinerja pemerintah, khususnya Polri yang mengawal secara intensif di lapangan.

Hal ini nampak dari respons publik terhadap kinerja Polri dalam menangani mudik 2026. Survei KedaiKOPI mencatat 88,8 persen responden menyatakan kepuasannya dalam penyelenggaraan mudik tahun ini. Temuan serupa juga pada hasil survei Indikator Politik Indonesia yang menyebut 85,3 persen publik puas terhadap layanan pada mudik edisi 2026. Lantas, apa kunci yang mendorong keberhasilan pelaksanaan mudik tahun ini?

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tentu, keberhasilan ini tidak dapat dilepaskan dari langkah maju yang dilakukan Polri dalam membangun sistem mitigasi risiko yang modern dan terintegrasi. Jargon Polri Presisi mampu diterapkan secara efektif, mulai dari tahap persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi yang dilakukan secara konsolidatif.

Membedah Strategi Polri

Ada satu benang merah yang menjadi kunci keberhasilan Polri dalam mengawal mudik 2026, yaitu pendekatan prediktif yang dilakukan oleh seluruh jajaran Polri. Pengambilan keputusan dijalankan melalui pendekatan sains dan data yang akurat.

Penerapan predictive traffic policing dan data driven management menjadi lompatan dalam tata kelola lalu lintas. Pendekatan ini berbasis teknologi melalui traffic counting dan perhitungan rasio volume kendaraan. Dengan pendekatan ini, potensi kemacetan, titik lelah pengemudi yang memicu kecelakaan, hingga gangguan keamanan dapat dimitigasi sejak awal. Semuanya dipetakan sebelumnya berdasarkan pola historis, data arus kendaraan terkini, dan analisis risiko yang mendalam.

Selain itu, kehadiran Electronic Traffic Law Enforcement (ETLE), penggunaan drone, strategi one way dan contra flow yang efektif, hingga pemanfaatan body cam oleh personel di lapangan menciptakan sebuah ekosistem informasi yang terintegrasi. Informasi yang sebelumnya parsial kini diolah di satu pusat komando untuk menjadi dasar tindakan yang presisi.

Strategi tersebut kemudian diimplementasikan ke berbagai simpul transportasi seperti jalan tol, jalan arteri, pelabuhan, terminal, bandara, stasiun, serta kawasan ibadah dan destinasi wisata. Dengan dukungan 2.746 posko pengamanan dan pelayanan, sistem ini bekerja seperti jaring yang saling terkoneksi untuk meminimalisir potensi risiko bahaya.

Strategi yang dilakukan Polri dalam mengawal mudik 2026 sejatinya berakar pada perubahan paradigma di tubuh Polri. Pendekatan prediktif yang selama ini menjadi jargon Polri Presisi mampu diterjemahkan dan diaktualisasikan dengan sangat cermat. Hal ini sekaligus mencerminkan pola pendekatan manajemen risiko yang mampu dikelola dengan baik.

Manajemen risiko yang dilakukan polri sebagai proses sistematis dalam mitigasi ancaman dan bahaya yang berpotensi menghambat tujuan (OECD, 2024). Secara progresif, Polri berhasil memetakan titik rawan dan potensi-potensi kegagalan dalam tata kelola mudik berbasis data yang akurat. Langkah prediktif tidak didasarkan pada asumsi, namun secara real time dan saintifik sebagai dasar pengambilan keputusan di lapangan.

Mudik Sebagai Model

Keberhasilan ini patut kita apresiasi sebagai bagian dari perbaikan institusi Polri yang selama ini menjadi tuntutan publik. Dan oleh sebab itu, publik pun perlu membuka mata bahwa organisasi Polri semakin menunjukkan perubahan yang positif dan menggembirakan.

Namun, catatan positif ini tidak boleh membuat kita terlena. Keberhasilan mudik tahun ini tidak boleh berhenti hanya sebagai success story yang berlalu tanpa perbaikan pada sektor lain. Tantangan sesungguhnya, bagaimana pengamanan yang progresif dan berbasis data ini dapat direplikasi dalam berbagai lini kerja Polri lainnya?

Perlu disadari bersama, bahwa tantangan Polri ke depan akan semakin kompleks dan dinamis. Terutama pada kejahatan di era masa kini yang tak kasat mata namun berdampak sistemik bagi masyarakat dan negara. Kita menghadapi ancaman siber, serangan disinformasi yang berpotensi merusak kohesi sosial, hingga potensi konflik yang dipicu oleh ketimpangan ekonomi dan polarisasi politik. Dalam situasi ini, pendekatan yang dilakukan Polri tidak cukup mengandalkan pendekatan reaktif dan bersifat jangka pendek. Bergerak saat api berkobar sudah tidak lagi relevan. Untuk itu, langkah-langkah prediktif perlu menjadi titik kunci yang menggerakkan Polri dalam bertugas.

Keberhasilan Mudik 2026 harus menjadi model yang dikembangkan sebagai arus utama dalam sistem kerja kepolisian kita secara menyeluruh. Polri perlu menjadikan data dan pendekatan saintifik sebagai napas yang menggerakkan setiap pengambilan keputusan.

Setiap kebijakan dari pusat hingga pelayanan di tingkat Polsek harus didasarkan pada analisis data yang terukur berbasis mitigasi risiko. Oleh sebab itu, kerja seluruh anggota Polri tidak lagi sekadar berdasar intuisi, as usual, dan formalitas. Replikasi model manajemen mudik ke dalam tugas-tugas kepolisian lainnya akan menciptakan institusi yang lebih modern, akuntabel dan transparan sehingga dapat terus memupuk kepercayaan masyarakat.

Seperti diungkapkan oleh W. Edwards Deming, In God we trust. All others must bring data, bahwa setiap keputusan yang berdampak luas harus ditopang oleh data yang kuat. Prinsip ini menjadi kunci penting bagi Polri untuk menjaga kepercayaan publik sekaligus memastikan bahwa setiap langkah yang diambil dapat cepat dan tepat. Jika arah ini terus dijaga, maka kehadiran Polri akan terasa mendalam, bahkan saat masalah masih dalam bayang-bayang. Selamat untuk Polri Presisi!


Endang Tirtana. Wakil Ketua Lembaga Kajian dan Kemitraan Strategis Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Lihat juga Video 147,55 Juta Orang Mudik saat Lebaran 2026

(rdp/imk)


Berita Terkait