Darurat Mitigasi Perubahan Iklim Menghadapi El Nino Godzilla
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Kolom

Darurat Mitigasi Perubahan Iklim Menghadapi El Nino Godzilla

Selasa, 07 Apr 2026 15:30 WIB
Ica Wulansari
Dosen Ilmu Hubungan Internasional Universitas Paramadina dan Pengkaji isu sosial-ekologi.
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Kekeringan parah juga melanda Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Tak hanya petani yang merana, warga juga harus menelan pil pahit karena langkanya air, sawahnya kering dan gagal panen.
Kekeringan yang terjadi di wilayah Kabupaten Bekasi dan sekitarnya
Foto: Ilustrasi kemarau dampak El Nino (Pradita Utama)
Jakarta -

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah memberikan informasi kepada publik bahwa tidak lama lagi Indonesia akan mengalami fenomena perubahan iklim 'El Nino Godzilla'. Menurut BMKG yang membedakan El Nino dan El Nino Godzilla adalah intensitasnya.

Sebagai pengkaji keilmuan interdisipliner sosial dan ekologi, saya mengintepretasikan fenomena ini dengan 'kedaruratan'. Mengapa? Karena kejadian El Nino berkepanjangan saja sudah membuat petani, nelayan maupun peladang maupun pihak-pihak yang bermata pencaharian yang tergantung pada sumber daya alam mengalami kesulitan melakukan adaptasi.

Maka, El Nino Godzilla ini tentu menjadi tantangan yang lebih kompleks yang akan memberikan tambahan kerentanan bagi kelompok rentan dan kelompok yang penghidupannya tergantung pada alam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Climate Action Tracker, Indonesia berada pada level kritis karena perangkat aksi, kebijakan, dan keuangan untuk mitigasi dan adaptasi perubahan iklim yang berada pada kategori 'tidak mencukupi'. Hal tersebut diperkuat dengan Climate Change Perfomance Index yang menunjukkan Indonesia pada urutan ke-43 yang memiliki performa mitigasi perubahan iklim yang belum memadai. Maka, peringatan BMKG mengenai gejala iklim El Nino Godzilla perlu menjadi alarm untuk mendorong kebijakan mitigasi perubahan iklim.

Mitigasi perubahan iklim yang mendesak adalah perlunya narasi dan penjelasan melalui visual atau pun audio visual mengenai fenomena 'El Nino Godzilla' yang lebih mudah dipahami oleh semua pihak. Tentu, konteks berdasarkan disiplin ilmu yang dapat menjelaskan fenomena iklim yang saintifik perlu dikembangkan bersama ilmu sosial.

ADVERTISEMENT

Tanpa kolaborasi disiplin ilmu, maka penjelasan atau pun narasi tidak akan memberikan manfaat kepada masyarakat. Karena penjelasan dan narasi ini merupakan bentuk edukasi, sosialisasi, dan informasi kepada publik. Fenomena iklim merupakan ranah keilmuan sains yang penting untuk dinarasikan agar memudahkan pemahaman dan mendorong tindakan sosial yang efisien dan efektif.

Akan tetapi, hingga saat ini penarasian ini belum secara inklusif diakses melalui visual dan audio visual. Videotron dan reklame dapat menjadi media untuk informasi iklim ini sehingga penggunaan videotron dan reklame menjadi hak publik dan corong publik untuk mendapatkan informasi yang menjadi pertimbangan untuk menentukan keputusan tindakan bagi kehidupan keseharian.

Fenomena 'El Nino Godzilla' merupakan fenomena darurat yang semestinya disampaikan kepada publik dengan lebih inklusif dan informatif. Negara memiliki kewajiban perlindungan kepada warga negara, terutama kelompok rentan dalam menghadapi perubahan iklim. Dewan Hak Asasi Manusia PBB telah menekankan bahwa perlindungan iklim merupakan implementasi hak asasi manusia. Maka, negara perlu memberikan perlindungan secara kongkrit yang diawali dengan aksi mitigasi perubahan iklim.

Intensitas kekeringan dan dampaknya merupakan dua hal yang penting untuk disoroti. Kondisi cuaca atau pun temperatur kering pun perlu mendapatkan penjelasan mengenai kondisi, tingkatan hingga hal-hal yang perlu diantisipasinya. Misalnya dalam penelitian saya mengenai petani menghadapi perubahan iklim dimana petani memberikan gambaran perbedaan musim kekeringan dalam kurun waktu 10 tahun lalu dan dalam kurun waktu 5 tahun belakangan.

Perbedaan tersebut ditunjukkan dengan periode waktu yang lebih panjang dan intensitas kering yang lebih kuat yang mempengaruhi ketersediaan air, bermunculannya hama dan penyakit pada tanaman karena dipengaruhi tingkat serapan air pada tanaman hingga kondisi kelembapannya. Selanjutnya, kondisi kekeringan El Nino Godzilla yang akan terjadi maka petani membutuhkan ilustrasi intensitas kekeringannya seperti apa, bagaimana pengaruhnya kepada tanaman, ketersediaan airnya bagaimana dan dalam kondisi darurat bagaimana menjaga agar tanaman toleran terhadap kekeringan.

Tidak hanya pada tanaman, untuk petani selaku aktor utama dalam pertanian membutuhkan informasi bagaimana menghadapi El Nino Godzilla agar tetap terjaga kesehatannya dan petunjuk waktu atau pun kondisi yang harus dihindari apabila terjadi kejadian cuaca ekstrem sehingga petani dalam melindungi dirinya dan dapat melakukan antisipasi terhadap tanamannya.

Selain petani, aktor lainnya yang berisiko terdampak langsung akibat paparan kondisi kekeringan adalah kelompok pekerja yang banyak menghabiskan waktu bekerja di lapangan seperti pekerja bangunan, kurir, pekerja transportasi, pekerja kebersihan, pedagang kecil, dan lainnya. Kelompok ini perlu diberikan kemudahan dan dipenuhi haknya dalam akses informasi yang aksesibel sehingga mereka mendapatkan perlindungan dan memiliki kecukupan informasi agar dapat melakukan tindakan yang mitigatif terhadap potensi krisis.

Bagi kelompok ini membutuhkan informasi kondisi El Nino Godzilla dan dampaknya terhadap kesehatan serta antisipasi terhadap potensi penyakit yang ditimbulkan. Sehingga mereka dapat melakukan antisipasi agar tidak terdampak terhadap kesehatannya yang akan berdampak pada kondisi ekonominya.

Fenomena El Nino Godzilla merupakan salah satu fenomena variabilitas iklim. Indonesia telah memiliki pengalaman menghadapi variabilitas iklim dalam kurun waktu 10 tahun ini. Yang terjadi pada tahun 2025 adalah siklon tropis dan musim penghujan yang ekstrem. Maka, beberapa kejadian variabilitas iklim tersebut perlu didokumentasikan secara inklusif dan aksesibel untuk menjadi pembelajaran agar kita mampu melakukan adaptasi di masa depan serta evaluasi mitigasi yang perlu menjadi prioritas.

Apabila mitigasi tidak mendapatkan perhatian dari negara, maka warga tidak akan mampu beradaptasi menghadapi perubahan iklim. Terutama kelompok rentan dan miskin tidak akan dapat beradaptasi. Tentu, pilihan untuk bertahan hidup menjadi penting namun tidak sekedar bertahan hidup dengan kondisi minimal.

Kita membutuhkan upaya bertahan hidup yang mendukung kehidupan berkelanjutan dan kehidupan yang bermartabat. Apabila mitigasi tidak menjadi kebijakan prioritas, maka kita hanya akan menunggu punah dan tenggelam.

Ica Wulansari. Dosen Ilmu Hubungan Internasional Universitas Paramadina dan Pengkaji isu sosial-ekologi.

(rdp/imk)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads