Paskah dan Keberagaman: Merawat Harapan di Tengah Pluralitas
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Kolom

Paskah dan Keberagaman: Merawat Harapan di Tengah Pluralitas

Senin, 06 Apr 2026 16:17 WIB
B Agus Rukiyanto
Dosen Universitas Sanata Dharma, Program Studi Pendidikan Keagamaan Katolik. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Jesus Christ cross. Christian wooden cross on a background with dramatic lighting, colorful sunset, twilight and orange -  purple clouds and sky.  Easter, resurrection,Good Friday concept
Foto: Ilustrasi paskah (Getty Images/marydan15)
Jakarta -

Paskah selalu datang dengan pesan yang kuat: kehidupan mengalahkan kematian, terang mengusir kegelapan, dan harapan melampaui keputusasaan. Namun di tengah dunia yang semakin plural dan kompleks, Paskah tidak hanya relevan bagi umat Kristiani, melainkan juga memiliki resonansi yang lebih luas—terutama dalam konteks keberagaman.

Indonesia adalah rumah bagi keberagaman. Di satu sisi, keberagaman ini adalah kekayaan yang tak ternilai harganya. Namun di sisi lain, keberagaman juga menyimpan potensi gesekan jika tidak dirawat dengan bijaksana. Dalam situasi seperti ini, Paskah dapat dibaca bukan hanya sebagai perayaan iman, melainkan sebagai inspirasi untuk membangun relasi antar umat beriman yang lebih dalam, jujur, dan transformatif.

Kebangkitan sebagai Bahasa Universal

Dalam tradisi Kristiani, Paskah merayakan kemenangan Kristus atas dosa dan maut. Kebangkitan berbicara tentang kehidupan baru. Namun jika kita melihat lebih luas, pesan kebangkitan memiliki dimensi universal: setiap tradisi agama mengenal dinamika "mati dan bangkit" dalam bentuknya masing-masing.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia dari berbagai agama mengalami "kematian" dalam arti simbolik: kegagalan, kehilangan, konflik, dan luka batin. Namun manusia juga memiliki kemampuan untuk bangkit—untuk memulai kembali, untuk berdamai, dan untuk menemukan makna baru.

Di sinilah Paskah dapat menjadi jembatan dialog. Paskah menawarkan bahasa bersama tentang harapan. Harapan yang tidak naïf, tetapi lahir dari pengalaman nyata akan kerapuhan manusia.

Dari Kecurigaan ke Kepercayaan

Salah satu tantangan terbesar dalam dialog antaragama adalah kecurigaan. Perbedaan sering kali dipahami sebagai ancaman, bukan sebagai peluang. Di dunia yang dipenuhi dengan narasi eksklusivisme dan identitas sempit, dialog antaragama sering terhambat oleh syak-prasangka.

Paskah mengajarkan sebuah dinamika yang berbeda. Kebangkitan tidak terjadi dengan mudah. Kebangkitan lahir dari pengkhianatan, penolakan, dan penderitaan. Namun justru dari situ, muncul rekonsiliasi dan pengampunan.

Bagi kehidupan antar umat beriman, hal ini berarti bahwa dialog tidak boleh berhenti pada tataran formal atau seremonial. Dialog sejati menuntut keberanian untuk keluar dari zona nyaman, untuk mendengarkan yang berbeda, dan untuk membangun kepercayaan secara perlahan-lahan.

Kepercayaan tidak dibangun dalam semalam, tetapi lahir dari perjumpaan yang jujur, kerja sama yang nyata, dan komitmen untuk melihat sesama sebagai saudara, bukan pesaing.

Solidaritas dalam Dunia yang Terluka

Dunia hari ini menghadapi banyak luka bersama: kemiskinan, ketidakadilan, krisis lingkungan hidup, konflik social, dan perang. Luka-luka ini tidak mengenal batas agama. Semua orang merasakannya.

Dalam konteks ini, Paskah mengajak umat beriman untuk tidak tinggal dalam eksklusivitas. Kebangkitan bukan hanya pengalaman pribadi atau komunitas tertentu, tetapi panggilan untuk terlibat dalam pemulihan dunia.

Dialog antaragama menemukan maknanya yang paling konkret dalam solidaritas. Ketika umat dari berbagai agama bekerja bersama membantu yang miskin, merawat lingkungan hidup, dan membangun perdamaian, di situlah dialog menjadi hidup. Dialog bukan sekadar percakapan, melainkan aksi bersama.

Menghadirkan Terang di Ruang Publik

Terang Paskah merupakan simbol yang kuat. Lilin yang dinyalakan di tengah kegelapan bukan hanya simbol liturgis, melainkan juga merupakan panggilan etis untuk semua orang: menjadi terang bagi dunia.

Dalam masyarakat plural seperti Indonesia, menjadi terang berarti menghadirkan nilai-nilai kemanusiaan yang melampaui sekat-sekat agama. Hal ini berarti menolak kekerasan atas nama agama, melawan intoleransi, dan membangun budaya saling menghormati.

Terang tidak perlu besar untuk mengusir kegelapan. Satu tindakan kecil—sapaan yang tulus, bantuan yang sederhana, atau sikap terbuka terhadap perbedaan—dapat menjadi awal perubahan.

Dalam perspektif ini, Paskah mengingatkan bahwa setiap orang beriman memiliki tanggung jawab sosial. Iman tidak boleh berhenti di ruang ibadah, tetapi harus menjelma dalam kehidupan publik.

Paskah sebagai Jalan Bersama

Dialog antaragama bukan tentang menyeragamkan perbedaan, tetapi tentang berjalan bersama dalam perbedaan. Paskah menawarkan inspirasi untuk perjalanan itu.

Kebangkitan mengajarkan bahwa masa depan selalu terbuka. Tidak ada konflik yang sepenuhnya buntu, tidak ada perpecahan yang tidak mungkin dijembatani. Selalu ada kemungkinan baru, selama manusia mau membuka diri.

Dalam konteks Indonesia, pesan ini adalah pesan yang sangat penting. Keberagaman bukanlah masalah yang harus dihindari, tetapi realitas yang harus dikelola dengan bijaksana. Dialog antaragama menjadi salah satu kunci untuk menjaga keutuhan bangsa.

Namun dialog tidak akan berhasil tanpa dasar spiritual yang kuat. Paskah mengajak setiap umat beriman untuk terlebih dahulu mengalami "kebangkitan" dalam dirinya: keluar dari egoisme, prasangka, dan ketakutan. Dari sana, dialog menjadi lebih dari sekadar wacana dan menjadi jalan untuk merawat kehidupan.

Harapan yang Menghubungkan

Pada akhirnya, Paskah adalah tentang harapan. Harapan yang tidak eksklusif, tetapi inklusif. Harapan yang tidak memisahkan, tetapi menghubungkan.

Di tengah dunia yang sering kali terpecah-belah oleh perbedaan, harapan menjadi jembatan. Harapan memungkinkan manusia untuk melihat melampaui batas-batas identitas dan menemukan kemanusiaan yang sama.

Paskah mengingatkan bahwa terang selalu mungkin, bahkan dalam kegelapan yang paling pekat. Dan dalam terang itulah, dialog antaragama menemukan maknanya yang terdalam: bukan sekadar hidup berdampingan, tetapi bertumbuh bersama dalam damai.

B Agus Rukiyanto. Dosen Universitas Sanata Dharma, Program Studi Pendidikan Keagamaan Katolik. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.

Simak juga Video: Pesan Paskah Uskup Agung Jakarta soal Perang AS-Iran

(rdp/imk)


Berita Terkait