Ketahanan Energi yang Dipinjam
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Kolom

Ketahanan Energi yang Dipinjam

Senin, 06 Apr 2026 11:50 WIB
Andri Yudhi Supriadi
Statistisi Ahli Madya BPS RI, Alumni Program Pascasarjana Ilmu Ekonomi Universitas Indonesia.
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
The Russian-flagged oil tanker Anatoly Kolodkin manoeuvres in Matanzas Bay, Cuba, whose economy has ground to a halt under a de facto oil blockade imposed by the U.S., resulting in an energy crisis that has led to strict gasoline rationing and a seri
Foto: Ilustrasi kapal tanker minyak (REUTERS/Norlys Perez)
Jakarta -

Indonesia tampak tenang saat banyak negara mulai mengencangkan sabuk energi. Harga dijaga, konsumsi tidak dibatasi, dan tidak ada kesan darurat. Tapi ketenangan ini menyisakan satu pertanyaan: apakah kita benar-benar aman, atau sekadar meminjam rasa aman dari dunia yang kebetulan masih stabil?

Ketika ancaman krisis energi global menguat, banyak negara memilih langkah tidak populer. Harga energi dinaikkan, konsumsi ditekan, efisiensi dipaksakan. Kebijakan ini mahal secara politik, tetapi rasional dalam manajemen risiko. Indonesia mengambil jalur berbeda.

Tidak ada pembatasan besar, tidak ada koreksi harga signifikan, dan tidak ada urgensi yang terasa di ruang publik. Narasi yang dominan tetap sama: pasokan aman. Di sinilah paradoks itu muncul.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Secara struktural, Indonesia masih bergantung pada impor energi dalam porsi besar, sementara kapasitas cadangan relatif terbatas. Dalam logika konvensional, kondisi ini seharusnya mendorong kewaspadaan lebih tinggi. Namun yang terlihat justru ketenangan. Penjelasannya bukan pada angka, melainkan pada cara negara mengelola risiko.

Negara-negara maju menggunakan pendekatan risk anticipation yaitu membayar biaya di awal untuk memperpanjang daya tahan. Indonesia lebih dekat pada risk absorption, menyerap guncangan selama sistem masih berjalan.

ADVERTISEMENT

Pendekatan ini tidak keliru. Dalam konteks tertentu, ia bahkan rasional. Namun pertanyaan kuncinya: dari mana daya tahan itu sebenarnya berasal?

Jawabannya mengarah pada satu konsep, Indonesia menjalankan "externalized energy buffering" yaitu ketahanan energi yang sebagian bertumpu pada stabilitas sistem global, bukan sepenuhnya pada kapasitas domestik.

Alih-alih membangun bantalan besar di dalam negeri, Indonesia memanfaatkan kelancaran pasar global. Pasokan dapat dialihkan, kontrak disesuaikan, dan jalur distribusi sejauh ini masih bekerja. Selama itu terjadi, sistem domestik tampak stabil.

Namun implikasinya tegas, yang membuat Indonesia terlihat stabil hari ini bukan kekuatan internal, tetapi karena fungsi bantalan itu sebagian besar berada di luar sistem kita sendiri.

Ini bukan strategi ketahanan energi yang ideal. Ini adalah adaptasi dari keterbatasan, yang selama dunia stabil terlihat seperti kekuatan.

Untuk melihat posisinya secara ringkas, cukup menoleh ke kawasan. Negara seperti Thailand menggunakan dana stabilisasi untuk meredam gejolak harga, Vietnam menyesuaikan harga secara berkala agar tekanan tidak menumpuk, Malaysia mengarahkan subsidi agar lebih tepat sasaran, sementara Singapore mengandalkan disiplin pasar dan efisiensi. Intinya sama: mereka mulai membagi beban risiko, bukan menahannya di satu titik. Indonesia masih menahan sebagian besar penyesuaian itu di depan.

Hasilnya memang stabil dalam jangka pendek. Namun stabilitas ini tidak sepenuhnya berasal dari dalam sistem. Ia ditopang oleh asumsi bahwa sistem global akan terus berjalan tanpa gangguan besar.

Masalahnya, sistem seperti ini tidak memberi tanda-tanda awal. Ia terlihat baik-baik saja, sampai satu gangguan kecil membuatnya langsung goyah sekaligus. Di sinilah kerentanannya.

Dalam sistem dengan cadangan panjang atau mekanisme penyesuaian harga, gangguan dapat diserap bertahap. Dalam sistem dengan bantalan terbatas, gangguan yang sama langsung mempersempit ruang kebijakan.

Perbedaannya bukan sekadar tingkat risiko, melainkan kecepatan krisis itu membesar.

Bayangkan gangguan distribusi global selama beberapa minggu. Negara dengan buffer kuat masih punya waktu untuk beradaptasi. Indonesia memiliki ruang yang jauh lebih sempit.

Artinya, stabilitas yang kita rasakan hari ini sangat sensitif terhadap durasi dan skala gangguan eksternal. Mengapa pendekatan ini tetap dipilih?

Jawabannya ada pada realitas domestik. Energi di Indonesia bukan hanya komoditas, tetapi instrumen stabilitas. Harga BBM memengaruhi inflasi, daya beli, hingga persepsi publik terhadap kondisi ekonomi. Menjaga stabilitas jangka pendek sering kali menjadi pilihan rasional.

Di sisi lain, membangun cadangan besar membutuhkan biaya fiskal dan infrastruktur yang tidak kecil. Kombinasi ini menciptakan keseimbangan yang tidak ideal: sistem tetap berjalan, tetapi dengan margin keamanan yang tipis.

Kondisi Indonesia hari ini tidak bisa dilabeli sederhana sebagai kuat atau lemah. Ia stabil selama lingkungan eksternal mendukung. Namun justru di situlah titik rawannya.

Ketahanan yang dipinjam ini tidak melemah perlahan. Ia bisa berubah cepat ketika kondisi global berubah.

Negara yang sudah lebih dulu menyesuaikan akan memiliki ruang manuver lebih luas. Negara yang menunda penyesuaian akan dipaksa beradaptasi dalam waktu sempit dan sering kali dengan biaya lebih tinggi. Indonesia berada di posisi itu.

Maka ketenangan hari ini seharusnya tidak dibaca sebagai ketiadaan risiko, melainkan sebagai risiko yang belum muncul ke permukaan.

Ini seperti rumah tanpa cadangan air: selama aliran lancar, semua terasa normal. Tetapi ketika aliran tersendat, masalah tidak datang bertahap namun ia datang sekaligus. Pada akhirnya, persoalannya bukan apakah Indonesia aman hari ini.

Melainkan, apakah kita sedang membangun ketahanan atau sekadar meminjam waktu dari stabilitas yang bukan kita kendalikan?

Karena pada akhirnya, ini bukan soal apakah kita aman hari ini, tetapi apakah kita siap ketika stabilitas yang kita pinjam itu ditarik kembali.

Andri Yudhi Supriadi. Statistisi Ahli Madya BPS RI, Alumni Program Pascasarjana Ilmu Ekonomi Universitas Indonesia dengan konsentrasi Ekonomi Energi.

(rdp/imk)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads