Di balik perdebatan anggaran MBG terbuka peluang strategis untuk memulihkan hutan sebagai fondasi ekologis yang sekaligus menopang masa depan nutrien bangsa.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) lahir dari mandat politik yang menempatkan kualitas manusia sebagai fondasi Indonesia Emas 2045. Dengan 30.000 dapur SPPG beroperasi penuh, 82 juta penerima manfaat akan terlayani setiap hari. Program ini menjadi salah satu intervensi sosial terbesar dalam sejarah kebijakan pangan nasional. Namun perdebatan publik sering berhenti pada satu hal: anggaran.
Program ini dikritik keras karena kerap dipersempit sebagai beban fiskal, sementara potensi strategisnya belum dibaca melampaui fungsi distribusi makan bergizi semata.
Di sinilah muncul defisit paradigma. Kebijakan berskala besar seperti MBG seharusnya tidak hanya dibaca sebagai belanja negara, tetapi sebagai instrumen transformasi sistem. Tanpa imajinasi strategis, risiko tampak dominan. Dengan perspektif sistemik, kebijakan justru dapat menjadi daya ungkit perubahan. Spektrum mandat MBG karena itu perlu dibaca lebih luas. Program ini tidak hanya menyediakan makanan, tetapi juga dapat memperkuat fondasi produksi nutrien bangsa.
Dalam perspektif kapabilitas yang diperkenalkan Sen (1999), pembangunan dimaknai sebagai perluasan kebebasan untuk mencapai keberfungsian yang bernilai. Dalam konteks nutrien bangsa, keberfungsian tersebut terwujud dalam generasi sehat, bebas stunting, dan memiliki kapasitas belajar optimal. Karena itu kapabilitas perlu diperluas dari ranah individual menuju kemampuan kolektif bangsa untuk memproduksi dan meregenerasi sumber nutrien berbasis lanskap hutan Nusantara.
Restorasi hutan dalam kerangka ini bukan sekadar agenda tanam-menanam, tetapi investasi jangka panjang bagi reproduksi nutrien nasional. Integrasi restorasi hutan dan MBG membuka peluang tersebut. Selama ini kebijakan gizi dipisahkan dari kebijakan lanskap. Hutan dipandang sebagai ruang konservasi yang jauh dari dapur sekolah. Sebaliknya, dapur sekolah bergantung pada rantai pasok panjang yang rentan terhadap gejolak pasar. Integrasi keduanya memungkinkan paradigma baru. Hutan menjadi daya ungkit strategis sumber nutrien yang menopang sistem gizi nasional.
Hutan dan Gizi: Dua Krisis, Satu Fondasi
Selama ini restorasi hutan belum menyentuh dimensi kebijakan yang lebih strategis. Hutan tidak hanya ruang ekologis, tetapi juga ruang produksi pangan. Pengetahuan lokal memperlihatkan bagaimana masyarakat tradisional mengelola lanskap melalui sistem perhutanan agroforestri.
Sistem ini lahir dari praktik perladangan berputar yang berkembang jauh sebelum kehutanan industri dikenal. Perhutanan agroforestri memandang hutan sebagai ruang kehidupan sekaligus ruang pangan. Lanskap yang terbentuk menyerupai hutan alam sekaligus menghasilkan keragaman nutrien tinggi tanpa memutus kapasitas regenerasi ekosistem.
Dalam satu kesatuan ekologis, lanskap hutan menghadirkan keragaman sumber pangan, berupa buah-buahan seperti durian hutan, cempedak, tampoi, kemayau, dan duku, serta umbi, rempah, kacang-kacangan, hingga protein nabati yang berpadu dengan sayuran liar, jamur, dan ikan rawa, membentuk sistem pangan kaya nutrien yang hidup dan berkelanjutan. Keragaman ini menegaskan hutan sebagai sistem pangan yang produktif dan resilien. Prinsip yang telah lama hidup dalam praktik masyarakat Nusantara dan kini justru kembali menemukan relevansinya dalam diskursus global tentang pangan sehat (fungsional).
Prevalensi stunting Indonesia masih berada di kisaran dua puluh persen menurut survei nasional terbaru. Angka ini menunjukkan kemajuan sekaligus menegaskan bahwa kualitas nutrien tetap menjadi tantangan mendasar. Stunting bukan semata persoalan kekurangan kalori, melainkan terkait dengan mutu dan keragaman nutrien dalam sistem pangan. Pada saat yang sama, ketergantungan terhadap impor pangan strategis masih tinggi.
Impor gandum Indonesia bahkan telah melampaui 10 juta ton per tahun. Kondisi ini mencerminkan kerentanan struktural sistem pangan nasional terhadap dinamika global. Dalam kerangka ini, MBG dapat dibaca sebagai momentum untuk menata ulang fondasi produksi nutrien nasional. Sebagaimana disampaikan CEO Danantara, Rosan Roeslani (2026), MBG menghadirkan dua wajah: kebanggaan atas capaian gizi, sekaligus kegelisahan pada struktur pasokan yang sempit.
Dengan perspektif ini, hutan dapat dibaca sebagai infrastruktur nutrien. Restorasi tidak lagi berhenti pada penanaman pohon, tetapi menjadi strategi memperluas diversifikasi pangan. Buah hutan kaya vitamin, protein nabati, serta berbagai hasil hutan non-kayu dapat memperkaya sistem nutrien masyarakat.
Hutan yang pulih memperbaiki ekosistem sekaligus membuka kembali sumber nutrien. Karena itu, sudah waktunya Indonesia membangun arah baru restorasi hutan melalui kehutanan berkenusantaraan tinggi dengan konsep mahataman peragroforestrian Indonesia (Suryanto, 2025). Pendekatan ini bertumpu pada literasi warisan ekologis Nusantara yang telah terbukti mampu mengelola hutan dengan meminimalkan deforestasi dan degradasi.
Ketahanan Strategis Nutrien Bangsa
Kesadaran terhadap pangan sehat dan berkelanjutan terus meningkat. Dalam konteks tersebut, pangan fungsional mulai dipandang sebagai arah baru sistem pangan masa depan. Sistem monokultur intensif semakin dipertanyakan karena menghasilkan pangan yang homogen dan rentan secara ekologis. Perhutanan agroforestri menawarkan jalan berbeda dengan memadukan produktivitas dan keseimbangan ekosistem.
Berbagai riset menunjukkan bahwa kopi dari agroforestri lanjut memiliki kandungan protein lebih tinggi dibandingkan kopi dari kebun monokultur. Temuan serupa juga terlihat pada jagung dan sorgum yang menunjukkan perbedaan kandungan protein yang signifikan dibandingkan sistem monokultur. Agroforestri dengan demikian bukan sekadar teknik budidaya, melainkan fondasi strategis produksi pangan fungsional yang sehat, resilien, dan selaras dengan alam.
Dalam sistem pangan nasional, kontribusi hutan tentu tidak dimaksudkan untuk menggantikan sistem pangan utama. Namun hutan dapat memperkaya keragaman nutrien yang selama ini hilang dari rantai pasok pangan modern. Keragaman nutrien tersebut sering menjadi kunci dalam mengatasi persoalan gizi masyarakat. Oleh karena itu, restorasi hutan tidak boleh dipandang semata sebagai agenda ekologis.
Restorasi hutan perlu ditempatkan sebagai bagian dari haluan strategis ketahanan nutrien bangsa. Dalam kerangka tersebut, restorasi hutan dan program MBG tidak berada pada dua jalur kebijakan yang terpisah. Keduanya berpotensi membentuk haluan kebijakan terpadu yang memulihkan ekologi sekaligus memperkuat fondasi nutrien bangsa melalui keragaman pangan berbasis lanskap hutan dengan perhutanan agroforestrinya.
Di titik ini, simpul strategis antara restorasi hutan dan MBG menjadi jelas. Restorasi hutan memulihkan fondasi ekologis produksi nutrien, sementara MBG memperkuat distribusi nutrien bagi generasi masa depan. Tanpa lanskap hutan yang hidup dan produktif, program gizi sebesar apa pun berisiko bertumpu pada fondasi produksi yang rapuh. Sebaliknya, tanpa kebijakan gizi yang kuat, kekayaan nutrien dari lanskap hutan akan tetap terpisah dari sistem produksi nutrien bangsa. Di sinilah arah baru pembangunan bangsa terbuka: memulihkan hutan sekaligus menegakkan fondasi kedaulatan nutrien bangsa.
Refleksi Lebaran tidak berhenti pada perayaan, melainkan menjadi momentum untuk melebarkan horizon pandang. Di balik MBG terbuka ruang strategis bagi ketahanan nasional melalui penegakan kedaulatan nutrien berbasis restorasi hutan yang produktif.
Priyono Suryanto. Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Ketua Prodi Ketahanan Nasional Sekolah Pascasarjana UGM.
Tonton juga video "Legislator PDIP Usul Anggaran MBG 1 Minggu Dialihkan ke Bencana Sumatera"
(rdp/rdp)