Otak Anak Sedang 'Diretas' Algoritma, Negara Harus Bertindak Sekarang!
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Kolom

Otak Anak Sedang 'Diretas' Algoritma, Negara Harus Bertindak Sekarang!

Kamis, 26 Mar 2026 12:36 WIB
Dr Devie Rahmawati, CICS
Peneliti dan Pengajar Komunikasi Digital Vokasi UI
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Dr Devie Rahmawati
Foto: Dr Devie Rahmawati, CICS
Jakarta -

Mengapa negara harus menarik rem darurat digital untuk anak pada 28 Maret 2026? Kita sering mengira masalah anak dan media sosial hanya soal lamanya anak menatap layar (screen time). Padahal, sains menunjukkan sesuatu yang jauh lebih serius yaitu perubahan perilaku anak dan otaknya.

Smartphone Tidak Membuat Anak Pintar, Justru Melemahkan Fungsi Otak

Riset neuroscience dari Universitas Macquarie, Australia menyebut bahwa penggunaan smartphone dan perangkat digital:

• menurunkan kemampuan kognitif
• melemahkan daya ingat
• mengganggu konsentrasi
• meningkatkan kecenderungan depresi dan kecemasan
• serta membuat individu lebih mudah terdistraksi dan kurang mampu berpikir mendalam. Kondisi yang lebih mengkhawatirkan, Prof. Mark Williams menegaskan bahwa Informasi yang dipelajari melalui perangkat digital tidak tersimpan dengan baik dan tidak mudah ditransfer ke kehidupan nyata. Artinya anak mungkin terlihat "banyak tahu", tetapi sebenarnya tidak benar-benar memahami, yang kemudian disebut sebagai ilusi kecerdasan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Masalah utama bukan pada kontennya, tetapi pada mekanisme kerja platform digital. Smartphone dan media sosial membentuk pola yang disebut attention fragmentation, yaitu Anak terus-menerus:

• berpindah dari satu stimulus ke stimulus lain
• merespons notifikasi, bunyi, visual bergerak
• kehilangan kemampuan mempertahankan fokus dalam satu tugas

ADVERTISEMENT

Neurosains menegaskan bahwa otak manusia tidak bisa multitasking, yang terjadi adalah switching, yang memiliki "biaya kognitif" berupa :

• kemampuan membaca panjang menurun
• kesabaran berpikir berkurang
• analisis mendalam tergantikan oleh reaksi cepat

Situasi inilah yang terjadi, hingga generasi digital sering disebut-sebut sebagai generasi yang cepat, tetapi dangkal.

Digital sebagai "Gateway Drug", yaitu Pintu Masuk ke Adiksi yang Lebih Dalam

Salah satu temuan paling kritis dari riset Macquarie adalah kecanduan digital bukan hanya masalah tersendiri, tetapi gerbang menuju kecanduan lain. Secara neurologis semua adiksi bekerja pada sistem dopamine yang sama, yaitu semakin sering distimulasi, semakin tinggi kebutuhan untuk stimulus berikutnya. Lalu terjadi proses toleransi yaitu kebutuhan menjadi lebih banyak, lebih cepat dan lebih ekstrem.

Williams menegaskan bahwa kecanduan smartphone bekerja untuk persis sama seperti kecanduan narkoba atau perjudian. Lebih jauh lagi, individu yang sudah kecanduan satu hal, akan menjadi lebih rentan terhadap adiksi lainnya. Temuan ini yang menjelaskan mengapa:

• kecanduan game dapat meningkat ke konten ekstrem
• konsumsi konten ringan, mampu berkembang ke konten berisiko
• media sosial, justru membuka jalan ke perilaku impulsif dan destruktif

Efek digital tidak berhenti pada kognisi atau akal, tetapi Penelitian menunjukkan:

• semakin lama anak di layar, semakin rendah empati
• kemampuan membaca ekspresi wajah menurun
• interaksi sosial nyata pun melemah

Kita sedang menghadapi generasi yang:

• sangat terhubung secara digital
• tetapi semakin terputus secara emosional. Sehingga muncullah fenomena global yaitu:
• meningkatnya kesepian (loneliness epidemic)
• meningkatnya depresi remaja
• meningkatnya kecenderungan bunuh diri

Mengapa Anak Lebih Rentan Dibanding Generasi 20-30 Tahun Lalu

Studi Perbandingan lintas generasi menunjukkan perbedaan fundamental, dimana Generasi sebelum teknologi digital seperti hari ini, ditandai dengan :
• otak berkembang dalam lingkungan stabil
• stimulasi datang secara natural (bermain, interaksi sosial)
• fokus dilatih secara bertahap

sedangkan, generasi media sosial kondisinya:

• otak berkembang dalam lingkungan hiper-stimulus
• paparan dopamin instan sejak usia dini
• tidak pernah dilatih untuk "menunggu, akibatnya:
• toleransi terhadap kebosanan yang sangat rendah
• ketahanan mental yang melemah
• kemampuan berpikir kompleks terus tergerus

Fenomena ini bukan soal "anak sekarang beda", namun soal lingkungan perkembangan otak yang memang berubah drastis.

Negara Tidak Punya Pilihan Selain Intervensi

Dalam konteks ini, kebijakan pemerintah melalui PP TUNAS bukan hanya relevan, tetapi ilmiah dan mendesak. Kebijakan penundaan akses bukan pelarangan, namun hadirnya negara karena, algoritma terlalu kuat untuk dilawan oleh setiap individu, apalagi hanya oleh anak dan remaja kita sendirian.

Penulis pernah memberikan kuliah Kecanduan Game Online di Swansea University, UK

(zap/zap)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads