Pendahuluan
Beredar informasi tentang potensi banjir Rob menjelang tanggal 28-29 Maret 2026 di wilayah pesisir, khususnya Jakarta dan pantura Jawa. Fenomena ini perlu disikapi dengan tenang, rasional, namun tetap waspada, agar masyarakat tidak panik tetapi juga tidak lengah. Rob atau banjir pasang laut adalah fenomena alam yang rutin terjadi, terutama pada saat bulan purnama (full moon) atau bulan baru terjadi pasang maksimum (spring tide). Biasanya kombinasi dengan angin kencang dan tekanan atmosfer rendah. Tanggal waktu tersebut memang berdekatan dengan fase bulan yang dapat meningkatkan pasang laut. Walaupun potensi rob memang ada, namun tidak selalu berarti akan terjadi bencana besar. Bahaya terbesar Rob nanti adalah genangan air laut masuk ke permukiman, yang mengakibatkan kerusakan infrastruktur dan rumah atau bangunan, terkontaminasinya air bersih oleh air asin, payau dan limbah, gangguan listrik dan transportasi, serta penyakit pasca banjir. Walaupun Rob bukan hal baru, tetapi bisa menjadi berbahaya jika masyarakat tidak siap.
Daerah Rawan dan Persiapan Masyarakat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Wilayah yang paling rawan adalah Jakarta Utara, meliputi Muara Angke, Pluit, Cilincing dan Marunda, Bekasi pesisir daerah Muara Gembong, Karawang dan Subang pesisir, Indramayu, Cirebon dan Semarang yang secara historis sangat rawan, Demak dan Pekalongan.
Persiapan yang penting sebelum Rob:
a. Logistik dasar minimal untuk 2 sampai 3 hari, yaitu air bersih untuk minum lebih kurang 2 liter/orang/hari. Makanan siap saji seperti Mie instan, Sarden/kaleng, Biskuit, Roti kering, Susu & makanan bayi jika ada bayi.
b. Obat-obatan penting adalah Obat diare, Obat demam & flu, Antiseptik & obat luka, Oralit, Obat kulit untuk gatal dan jamur. Saat dan setelah rob, agar waspadai penyakit Diare dan muntaber akibat air tercemar, Infeksi kulit karena air kotor, Leptospirosis karena air tercemar urine tikus dan yang paling penting adalah bahaya penyakit DBD (Demam Berdarah) akibat genangan pasca-rob. Ringkasnya, waspadai ISPA = Infeksi Saluran Pernapasan Akut yang meliputi batuk, pilek, radang tenggorokan dan terkadang dalam kasus yang berat adalah sesak napas. Udara lembab & dingin menjelang Rob biasanya memicu virus/bakteri berkembang lebih cepat. Kualitas udara menurun dengan bau, gas dan partikel dari air Rob. Menjelang Rob, masyarakat terutama di pesisir perlu waspada terhadap peningkatan penyakit ISPA. Karenanya gunakan masker di lingkungan yang lembab/kotor dan jaga ventilasi rumah.
Transportasi Darurat: Perahu Karet & Alternatif
Siapkan Perahu karet kapasitas 4-6 orang untuk keluarga/RT, lengkapi dengan dayung, pelampung (life jacket), Tali pengikat. Jika tidak ada perahu karet ada alternatif langkah darurat. Masyarakat bisa membuat alat apung sederhana dari bahan Drum plastik / jerigen besar yang tertutup rapat, bisa juga dari bambu atau kayu ringan ikat dengan tali nilon yang kuat. Caranya: Ikat 4-6 drum sebagai pelampung, pasang rangka bambu di atasnya, Buat alas papan sederhana dan pastikan bahwa sudah stabil sebelum dipakai. Walaupun saran saya ini bukan ideal, tapi bisa menyelamatkan nyawa dalam kondisi darurat.
Siapkan Rumah Pengungsian
Tentukan lokasi lebih tinggi misalnya rumah tetangga, rumah family, masjid atau sekolah. Siapkan Tikar / selimut, Lampu darurat, Power bank. Prioritaskan kaum Lansia, Anak-anak dan Ibu hamil. Idealnya setiap RT sudah punya titik evakuasi bersama.
Keamanan dan Ketertiban
Pasa saat terjadi Rob, risiko bukan hanya serangan air tetapi juga kerawanan sosial.
Langkah penting yang perlu diambil oleh setiap RT/RW adalah mengaktifkan ronda/ siskamling, untuk amankan lingkungan dan rumah masing-masing termasuk rumah kosong dan kendaraan. Hindari penimbunan barang dan kepanikan massal, karena setiapkali terjadi bencana sering dimanfaatkan oleh pihak tidak bertanggung jawab.
Hal Yang Sering Terlupakan:
Matikan listrik jika air mulai masuk rumah, simpan dokumen penting dalam plastik kedap air. Siapkan nomor darurat untuk dapat menghubungi BPBD (Badan Penanggulangan Bancana Daerah), Puskesmas, RT/RW masing-masing, tetangga dan keluarga dengan cepat. Perlu disiapkan juga alat komunikasi Walky Talky (Handy talky) jarak pendek.
Penutup
Rob adalah fenomena alam biasa, tetapi dapat menjadi bencana sosial jika tidak diantisipasi dengan baik. Kunci utama bukan pada rasa ketakutan, tetapi pada kesiapan, ketertiban, dan kerja gotong royong masyarakat. Cukup dengan persiapan yang sederhana, asalkan cepat (Velox) dan tepat (Exactus) serta terorganisir, maka dampak Rob dapat dikendalikan sampai seminimal mungkin.
AM Hendropriyono, Sekretaris Pengendalian Operasional Pembangunan RI ( 1996-1998).
Lihat juga Video: BMKG Peringatkan Potensi Banjir Rob saat Lebaran di Pesisir Indonesia











































