Revolving Door Birokrasi dan Pelarian Talenta Muda
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Kolom

Revolving Door Birokrasi dan Pelarian Talenta Muda

Senin, 23 Mar 2026 17:22 WIB
Gita Sulika Sari
ASN dan Mahasiswa Magister Universitas Indonesia.
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Ilustrasi ASN di Mataram.
Foto: Ilustrasi ASN (Nathea Citra/detikBali)
Jakarta -

Seleksi CASN 2024 kembali mencatatkan angka pendaftar fantastis. Jutaan anak muda, yang mayoritas didominasi Gen Z, rela berdesakan secara virtual demi memperebutkan secarik SK Pegawai Negeri. Namun, di balik keriuhan dan antusiasme itu, ada fenomena sunyi yang mengkhawatirkan: "Revolving Door" atau pintu berputar di dalam tubuh birokrasi kita.

Istilah ini biasanya merujuk pada perpindahan pejabat tinggi ke sektor privat. Namun hari ini, "pintu berputar" itu terjadi pada level talenta dasar. Banyak anak muda kompeten masuk dengan ekspektasi tinggi, namun tak lama kemudian memilih berputar keluar.

Mereka berani mengambil keputusan ekstrem: mengundurkan diri hanya dalam hitungan bulan atau tahun setelah diterima. Pertanyaannya, mengapa birokrasi yang kini dipersenjatai regulasi modern justru gagal mengikat orang-orang yang paling ia butuhkan?

Penjara Profesional

Secara regulasi, pemerintah sejatinya telah merespons tantangan ini melalui UU No. 20 Tahun 2023 tentang Aparatur Sipil Negara. Undang-undang ini membawa paradigma baru, yakni transisi dari sekadar administrasi kepegawaian menuju Human Capital Management. Janjinya sangat menggiurkan: pengembangan karier yang lebih lincah dan meritokratis.

Sayangnya, di lapangan, niat baik regulasi ini sering kali membentur tembok tebal budaya organisasi. Meskipun PP tentang Manajemen ASN sudah mengatur pola promosi sedemikian rupa, praktiknya masih kerap tersandera oleh pakem senioritas yang kaku.

Mengutip Self-Determination Theory dari pakar psikologi Edward Deci dan Richard Ryan, manusia butuh tiga hal untuk termotivasi: otonomi, kompetensi, dan keterhubungan. Masalahnya, birokrasi kita sering kali tanpa sadar "membunuh" otonomi tersebut lewat rutinitas administratif yang monoton. Bagi talenta dengan orientasi pencapaian tinggi, sistem kerja yang nir-tantangan bukanlah zona nyaman, melainkan sebuah penjara profesional.

Bukan Sekadar Gaji

Sering terdengar cibiran usang bahwa anak muda sekarang tidak tahan banting dan hanya mengejar kelimpahan materi. Padahal, jika kita telisik, banyak dari mereka yang "hijrah" dari birokrasi justru memilih bekerja di BUMN atau startup dengan tekanan kerja dan jam lembur yang jauh lebih brutal.

Fenomena ini sejalan dengan Expectancy Theory dari Victor Vroom. Seseorang rela bekerja keras asalkan ada korelasi yang jelas antara usaha, kinerja, dan apresiasi. Di sektor privat, sistem reward and punishment berjalan matematis dan terukur.

Sementara di birokrasi, sistem penilaian kinerja sering kali menguap menjadi sekadar formalitas tampak komprehensif di atas kertas, namun hampa di eksekusi. Saat keringat pegawai berprestasi disamaratakan nilainya dengan mereka yang sekadar "datang, duduk, diam", harga diri profesional talenta unggul pun terluka. Mereka lebih memilih lelah berkarya di tempat yang menghargai kapasitas, ketimbang menua dalam stabilitas yang stagnan.

Krisis Mentor dan Benturan Budaya

Pemicu krusial lain dari eksodus ini adalah kegagalan Leader-Member Exchange (LMX), atau buruknya kualitas hubungan antara atasan dan bawahan. Birokrasi kita masih sangat kental dengan gaya kepemimpinan top-down. Karakter Gen Z yang haus akan transparansi, dialog, dan kejelasan tujuan sering kali berbenturan keras dengan hierarki ini.

Banyak pimpinan menuntut staf baru untuk langsung mahir berpikir taktis layaknya veteran puluhan tahun, tapi dibiarkan meraba-raba tanpa mentoring atau coaching yang memadai. Lebih ironis lagi, ketika muncul aspirasi inovatif, hal itu kerap dilabeli sebagai "pembangkangan" terhadap kasta senioritas. Akibatnya, motivasi pengabdian publik yang awalnya membara langsung terjun bebas.

Menutup Pintu Berputar

Indonesia sejatinya tidak kekurangan orang cerdas. Antrean beasiswa LPDP yang selalu membeludak tiap tahun adalah buktinya. Namun, terjadi mismatch kronis saat talenta-talenta emas ini kembali dan masuk ke dalam sistem. Kebocoran talenta ini adalah kerugian investasi negara yang luar biasa. Kita sedang mengejar visi Indonesia Emas 2045, namun bagaimana mungkin itu tercapai jika mesin birokrasi terus kehilangan "suku cadang" terbaiknya?

Menahan talenta unggul jelas tidak bisa lagi hanya mengandalkan ancaman denda ratusan juta atau sanksi blacklist bagi yang mengundurkan diri. Solusinya harus menyentuh akar kultural dan struktural. Instansi wajib menciptakan ekosistem yang menghargai ide dan membuka ruang eksperimen yang terukur.

Selain itu, jalur karier yang transparan, termasuk percepatan implementasi single salary system yang berkeadilan, menjadi fondasi krusial. Di saat yang sama, para pemimpin birokrasi harus mendesak dirinya bertransformasi menjadi seorang pelatih (coach), bukan sekadar mandor pemegang stempel.

Birokrasi tidak boleh lagi sekadar jadi tempat berlindung bagi mereka yang mencari kemapanan statis. Ia harus menjadi panggung megah bagi mereka yang bernyali membawa perubahan. Jika kita gagal melakukan kalibrasi ini, bersiaplah melihat pintu birokrasi kita terus berputar melepas talenta terbaik bangsa, satu per satu, menuju sektor lain yang lebih memanusiakan kompetensi mereka.

Gita Sulika Sari. ASN dan Mahasiswa Magister Universitas Indonesia.

Tonton juga video "Pramono Larang ASN DKI Pakai Mobil Dinas untuk Mudik"

(rdp/imk)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads