Ramadhan segera berlalu. Tak terasa hari demi hari kita terlengah, larut dalam kesibukan untuk dekat dengan bulan mulia ini. Padahal, setiap detik di bulan penuh berkah ini adalah kesempatan emas untuk memperbaiki diri melalui pengekangan nafsu.
Disadari bahwa nafsu merupakan wujud kita yang lain. Sosok yang diperkenalkan kepada kita secara perlahan. Ia tidak datang sebagai musuh yang mencolok, melainkan sebagai bisikan halus yang terasa wajar.
Ia membujuk tanpa memaksa, menawarkan tanpa terlihat memerintah. Itulah yang membuat kehadirannya diam-diam menyelinap akrab. Lantaran demikian, kita hampir-hampir tidak mampu mengenali lagi apa-apa yang ganjil padanya. Namun yang pasti, apapun hasratnya ia akan memburu dengan sedemikian ganas.
Untuk itu, Ramadhan hadir sebagai dering pengingat bahwa menahan diri bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan menata kiblat hati agar tidak mudah tergoda oleh keserakahan, amarah serta keinginan sesaat. Kehadirannya telah menyajikan pada kita kurikulum moral sebagai abdi nurani dengan meminimalisasi hasrat, abrapxeia.
Madrasahnya mendidik sikap ugahari, urip sak madyo, tahu kapan merasa cukup. Kita makin menyadari sejatinya tak banyak yang dibutuhkan oleh manusia. Toh secara empiris, nada dasarnya adalah menahan diri. Kita disadarkan bahwa gumpalan kolesterol keserakahan memicu stroke kemanusiaan. Aktif secara motorik namun lumpuh pada saraf-saraf nurani.
Mission sacre, tugas sucinya adalah mengingatkan fitrah kita guna menyederhanakan hasrat. Ia mewedarkan nilai bahwa manusia dinilai bukan pada kulitnya. Raihan materi bukan untuk dibanggakan, apalagi jadi obyek sesembahan, melainkan ia adalah pengingat akan hak yang fakir. Percuma kaya akan materi namun miskin empati.
Laku spiritual yang telah kita jalani selama hampir sebulan ini semestinya mampu menggeser orientasi dari sekedar logika menimbun dan memiliki menjadi ikhlas berbagi. Kita diajarkan bahwa kelapangan bukan terletak pada seberapa banyak yang dimiliki, melainkan pada seberapa ringan hati melepaskan. Terhenyak bahwa sebetulnya yang memberatkan langkah bukanlah beban hidup, melainkan keterikatan kita sendiri pada hal-hal yang fana.
Tak cukup itu, diantara kemewahan Ramadhan ialah hadirnya fasilitas lailatul qadar sebagai the leap of faith (lompatan keimanan) di sepuluh malam terakhir. Momen penting untuk melenting lebih tinggi dalam laku perjalanan spiritual kita. Saat dimana ibadah yang ditunaikan di dalamnya lebih baik dari seribu bulan sebagai sarana penuh ampunan dan keberkahan. Ia bukan sekadar peristiwa waktu, melainkan ruang perjumpaan antara harap dan pengampunan, antara kedhaifan insani dan rahmat Allah yang tak terbatas.
Iktikaf sebagai laku ifah tampak semarak di masjid-masjid. Ia seolah menjadi jeda pengingat bahwa di tengah dunia yang serba cepat, kita tetap membutuhkan ruang untuk berefleksi dan berhibernasi. Setiap lantunan tadarus dan sujud tarawih adalah benih transformasi ruhani yang siap untuk tumbuh dan dirawat. Doa-doa-pun meluncur deras tanpa sekat. Malam-malam terakhir ini sungguh dipenuhi harap yang tak selalu terucap.
Jangan biarkan kesibukan mudik menutupi kesempatan untuk mereguk momen berharga ini. Mudik bukan sekadar mobilitas geografis, melainkan perjalanan batin untuk merapikan kembali orientasi hidup. Nafasnya mengajak kita menanggalkan segala atribut kebanggaan yang tak jarang berimbas terkelupasnya kulit realitas yang sebenar-benarnya. Pulang kampung mengajak kita untuk menemukan kepingan diri yang terlupa dan tercecer. Pun, berpulang yang hakiki bukanlah tentang tiba di kampung halaman, melainkan kembali pada diri yang tahu dari mana ia tercipta dan berasal.
Mudik adalah peristiwa hijrah karena kita rindu, berpulang pada asal-muasal. Pulang kampung adalah saat refleksi akan kesejatian diri. Jangan sampai seseorang lupa muasalnya, lalu berevolusi menjadi angkuh yang mengingini prestise dan privilege. Untuk itu momen mudik lebaran kali ini jangan sampai kehilangan nilai kesejatiannya.
Jangan sampai laku mudik berubah menjadi momen saling bertanya telah "menjadi apa" dan "siapa". Berondongan pertanyaan eksistensial sudah terlampau usang untuk dipertanyakan hingga berpotensi melecutkan iri dan dengki. Alih-alih basa-basi yang menghangatkan, percakapan semacam itu justru menciptakan hentakan jarak. Nilai seseorang hanya diringkus dalam profesi, jabatan, atau capaian material. Padahal hidup tak sesederhana itu.
Bila sebentar lagi Ramadhan berlalu, fitrah kemanusiaan kita semestinya beranjak paripurna. Yang tersisa seharusnya bukan sekadar kenangan kuantitas ritual, melainkan jejak nilai yang ajeg. Jangan sampai narasi mulianya hanya ditelan tanpa dikunyah. Kesuksesannya tidak diukur dari seberapa khusyuk kita di penghujungnya, melainkan seberapa istiqomah kita setelahnya.
Diinsafi bahwa kita hakikatnya bukanlah abdi Ramadhan, melainkan hamba Allah semata. Maka biarlah ia pamit baik-baik sebagai penanda, bukan penutup. Toh, pada akhirnya nanti, yang akan kita bawa bukanlah seberapa meriah kita menekuni satu bulan, melainkan seberapa tekad kita menghidupi maknanya sepanjang usia. Wallahu a'lam bis shawab.
Mohammad Farid Fad. Wakil Katib Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah.











































