Merawat Indonesia dengan Spirit Fitrah
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Kolom

Merawat Indonesia dengan Spirit Fitrah

Rabu, 18 Mar 2026 17:22 WIB
Ahmad Tholabi Kharlie
Guru Besar dan Wakil Rektor bidang Akademik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Ilustrasi Khutbah Idul Fitri.
Foto: Ilustrasi idul fitri (Mohammed Alim/Pexels)
Jakarta -

Setiap tahun umat Islam merayakan Idul Fitri sebagai penanda berakhirnya Ramadan. Hari raya ini menghadirkan momentum spiritual yang mengajak manusia kembali kepada fitrah, yaitu keadaan jiwa yang bersih, hati yang jernih, dan kesadaran moral yang menemukan kembali arah kebaikan.

Dalam tradisi Islam, fitrah dipahami sebagai kesucian pribadi yang di dalamnya tersimpan potensi kemanusiaan untuk tumbuh menuju kebenaran, keadilan, dan kasih sayang. Rasulullah Saw. pernah bersabda bahwa setiap manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah, yaitu keadaan yang lurus dan bersih dari kepentingan-kepentingan yang menodai nurani.

Ramadan hadir sebagai ruang pendidikan spiritual yang menuntun manusia untuk membersihkan diri dari kerak keserakahan, kebencian, dan egoisme. Setelah sebulan menjalani latihan pengendalian diri, manusia diharapkan kembali kepada kesadaran fitrahnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Karena itu, Idul Fitri tidak berhenti pada makna kemenangan atas lapar dan dahaga. Momentum ini juga menghadirkan kemenangan manusia atas diri sendiri dengan mengendalikan nafsu yang kerap menjerumuskan pada sikap keras hati dan pandangan yang sempit. Kemenangan ini menuntun manusia untuk kembali melihat sesama dengan hati yang lapang.

Fitrah dan Kesadaran Moral

Dalam masyarakat Indonesia, makna fitrah ini tercermin dalam tradisi Idul Fitri yang begitu khas. Orang-orang saling mengunjungi, berjabat tangan, dan saling memaafkan. Rumah-rumah terbuka bagi keluarga, tetangga, dan sahabat. Sekat-sekat sosial yang sebelumnya terasa kaku perlahan mencair. Bahkan, jarak yang selama ini memisahkan manusia, baik karena perbedaan status sosial, pilihan politik, maupun pandangan hidup, seolah mencair dalam suasana silaturahmi.

ADVERTISEMENT

Tradisi ini melampaui sekadar kebiasaan sosial. Di dalamnya tersimpan nilai moral yang mendalam berupa kesediaan untuk memaafkan dan menghidupkan kembali ruang persaudaraan. Dalam konteks kehidupan berbangsa, nilai ini memiliki makna yang sangat penting. Kebesaran sebuah bangsa lahir dari kemajuan ekonomi dan teknologi yang berjalan seiring dengan ketulusan hati warganya dalam merawat kehidupan bersama.

Indonesia adalah bangsa yang berdiri di atas keragaman. Perbedaan suku, agama, bahasa, dan budaya merupakan kenyataan yang tak terpisahkan dari identitas nasional. Dalam situasi seperti ini, kebangsaan perlu dipahami sebagai kesadaran yang tumbuh dari nilai moral dan etika sosial yang kuat. Di sinilah nilai fitrah yang dirayakan dalam Idul Fitri menemukan relevansinya.

Fitrah mengajarkan manusia untuk kembali kepada kejernihan hati. Dari hati yang jernih lahir sikap saling menghormati, empati terhadap sesama, dan keinginan untuk menjaga harmoni sosial. Ketika manusia kembali kepada fitrahnya, prasangka dan kebencian tidak lagi mudah menguasai hati. Pandangan terhadap orang lain pun tumbuh dalam kesadaran bahwa setiap manusia memiliki martabat yang sama.

Dalam khazanah pemikiran Islam, gagasan tentang fitrah ini juga mendapat penjelasan yang mendalam dari para ulama. Abu Hamid al-Ghazali (w. 1111 M), dalam karya monumentalnya Ihya Ulumuddin, menjelaskan bahwa hati manusia pada dasarnya memiliki kesiapan untuk menerima kebenaran.

Dalam penjelasannya tentang hakikat hati, ia mengibaratkan hati manusia seperti cermin yang pada asalnya jernih, namun dapat tertutup oleh noda dosa, keserakahan, dan kedengkian. Melalui ibadah dan latihan spiritual, manusia membersihkan kembali hatinya sehingga mampu memantulkan cahaya kebenaran dan kasih sayang.

Pandangan ini menegaskan bahwa kesalehan spiritual sejatinya melahirkan kesalehan sosial. Hati yang bersih tidak akan melahirkan permusuhan, tetapi justru menumbuhkan keinginan untuk merawat kemanusiaan.

Ramadan sejatinya telah menyiapkan fondasi etika itu. Puasa mengajarkan pengendalian diri, zakat mengajarkan kepedulian sosial, dan tarawih mengajarkan ketekunan spiritual. Semua ibadah itu membentuk kepekaan moral yang membuat manusia lebih peka terhadap penderitaan orang lain.

Maka tidak mengherankan jika pada hari Idul Fitri, umat Islam juga diwajibkan menunaikan zakat fitrah. Zakat ini membawa pesan sosial bahwa kebahagiaan tidak boleh dirasakan sendirian.

Fitrah sebagai Energi

Dalam kehidupan kebangsaan, pesan ini sangat relevan. Ketimpangan sosial, polarisasi politik, dan meningkatnya bahasa kebencian dalam ruang publik sering kali mengikis rasa kebersamaan. Masyarakat dapat dengan mudah terbelah oleh perbedaan kepentingan dan identitas. Di tengah situasi seperti ini, Idul Fitri menghadirkan kembali bahasa moral yang sederhana namun kuat, yakni memaafkan, berbagi, dan memperkuat persaudaraan.

Spirit fitrah mendorong manusia untuk menolak sikap yang merusak kehidupan bersama. Kesadaran ini mengingatkan bahwa kemarahan dan kebencian tidak akan pernah melahirkan masa depan yang lebih baik. Sebaliknya, bangsa yang kokoh justru lahir dari masyarakat yang mampu merawat empati dan solidaritas.

Dalam konteks masyarakat modern, gagasan ini juga ditegaskan oleh ulama dan pemikir Muslim kontemporer. Syekh Yusuf al-Qaradhawi (1926–2022), dalam pelbagai karya pemikirannya sejak dekade 1990-an, menekankan bahwa tujuan ibadah dalam Islam tidak berhenti pada kesalehan ritual semata. Ibadah, menurutnya, harus melahirkan manusia yang tidak hanya saleh secara pribadi, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk memperbaiki kehidupan sosial.

Dengan kata lain, kesalehan dalam Islam memiliki dimensi transformatif, yakni membentuk pribadi yang sekaligus berperan aktif dalam menjaga keadilan dan kemaslahatan masyarakat.

Dalam sejarah Indonesia, nilai-nilai keagamaan sering kali menjadi sumber etika kebangsaan. Para pendiri bangsa memahami bahwa spiritualitas memiliki peran penting dalam membentuk karakter masyarakat. Karena itu, kebangsaan Indonesia bertumpu pada nilai-nilai moral yang menghormati kemanusiaan dan keadilan.

Idul Fitri mengingatkan kita pada fondasi moral tersebut. Perayaan ini mengajarkan bahwa kebersamaan tumbuh bersama keikhlasan untuk saling memaafkan. Kesadaran yang sama juga menegaskan bahwa persatuan sulit terjaga ketika luka-luka sosial terus dipelihara dalam hati.

Karenanya, Idul Fitri melampaui perayaan tahunan yang sarat simbol. Perayaan ini menghadirkan energi moral yang menguatkan kembali kesadaran kebangsaan. Dari hati yang kembali kepada fitrah tumbuh komitmen untuk merawat keadilan sosial, menjaga persatuan, dan menghormati martabat setiap manusia.

Dari fitrah pribadi tumbuh kesadaran sosial yang menguatkan kehidupan bersama. Kesucian spiritual menumbuhkan tanggung jawab kebangsaan untuk menjaga kemanusiaan dan keadilan. Dalam hati yang saling memaafkan, bangsa ini menemukan kembali kekuatan moral untuk berjalan bersama menuju kehidupan yang semakin berkeadaban.

Ahmad Tholabi Kharlie. Guru Besar dan Wakil Rektor bidang Akademik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Tonton juga video "Timur Tengah Bergejolak, JK Ajak Masjid se-Indonesia Baca Qunut Nazilah"

(rdp/imk)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads