Transformasi Ekonomi di Tengah Badai Timur Tengah
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Kolom

Transformasi Ekonomi di Tengah Badai Timur Tengah

Minggu, 15 Mar 2026 11:54 WIB
AM Hendropriyono
Sekretaris Pengendalian Operasional Pembangunan RI (1976-1978).
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
The Parnassos crude oil tanker sits anchored as the traffic is down in the Strait of Hormuz, amid the U.S.-Israeli conflict with Iran, in Muscat, Oman, March 10, 2026. REUTERS/Benoit Tessier
Foto: Konflik Timur Tengah Bikin Kapal Tanker Tertahan di Selat Hormuz (REUTERS/Benoit Tessier)
Jakarta -

Di tengah gejolak geopolitik dunia saat ini, Timur Tengah kembali menjadi kawasan yang menentukan stabilitas ekonomi global. Konflik yang berulang, ketegangan jalur energi, serta perubahan strategi negara-negara Teluk menciptakan ketidakpastian yang mempengaruhi pasar energi dan perdagangan internasional.

Bagi banyak negara industri, kawasan ini adalah sumber risiko. Namun bagi Indonesia, kawasan tersebut juga dapat dibaca sebagai sumber peluang strategis, apabila dipahami melalui kerangka pemikiran ekonomi pembangunan yang dirumuskan oleh Sumitro Djojohadikusumo. Pemikiran ekonomi Sumitro pada dasarnya berpijak pada satu gagasan utama: negara harus memimpin transformasi struktural ekonomi dari ketergantungan pada komoditas menuju industrialisasi nasional yang berdaulat.

Dalam konteks geopolitik Timur Tengah, pendekatan ini menjadi sangat relevan karena kawasan tersebut memegang tiga faktor penting bagi pembangunan Indonesia: energi, modal, dan pasar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Energi sebagai Fondasi Industrialisasi

Tidak ada industrialisasi tanpa energi yang stabil dan terjangkau. Kawasan Timur Tengah masih merupakan pusat utama pasokan minyak dan gas dunia. Dalam kerangka Soemitronomics, hubungan Indonesia dengan kawasan ini seharusnya tidak hanya dilihat sebagai hubungan dagang energi, tetapi sebagai strategi keamanan industrial nasional.

Indonesia perlu membangun kontrak energi jangka panjang, memperkuat cadangan energi strategis, serta mengembangkan kerja sama petrokimia dan kilang bersama negara-negara Teluk. Dengan cara ini, energi tidak sekadar menjadi komoditas impor, melainkan input strategis bagi industrialisasi nasional.

ADVERTISEMENT

Petrodollar sebagai Mesin Transformasi Industri

Negara-negara Teluk saat ini mengelola surplus modal yang sangat besar melalui sovereign wealth funds. Dalam logika Soemitro, modal asing dapat menjadi alat pembangunan nasional apabila diarahkan secara selektif. Investasi dari kawasan tersebut seharusnya diarahkan pada sektor yang memperkuat struktur ekonomi Indonesia, seperti: industri petrokimia, kilang minyak dan gas, industri pupuk dan logam, kawasan industri ekspor, logistik pelabuhan dan energi.

Dengan pendekatan ini, modal dari Timur Tengah tidak hanya masuk sebagai investasi portofolio atau properti konsumtif, tetapi menjadi mesin pembentukan kapasitas industri nasional.

Pasar Timur Tengah dan Ekspansi Industri Indonesia

Selain energi dan modal, Timur Tengah juga merupakan pasar penting bagi produk Indonesia. Pertumbuhan ekonomi di kawasan tersebut membuka peluang bagi ekspor Indonesia dalam sektor makanan halal, farmasi halal, tekstil, bahan bangunan, serta jasa konstruksi. Dalam kerangka Soemitronomics, ekspansi pasar seperti ini penting karena memperbesar skala produksi nasional. Industri yang berorientasi ekspor akan lebih cepat menyerap teknologi, meningkatkan produktivitas, dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai nilai global.

Mengelola Risiko Geopolitik

Konflik di Timur Tengah sering kali mempengaruhi jalur perdagangan global, khususnya rute energi dan logistik internasional. Dalam perspektif ekonomi pembangunan, risiko ini tidak boleh diabaikan. Negara perlu membangun ketahanan rantai pasok melalui diversifikasi jalur perdagangan, penguatan logistik nasional, serta pengembangan industri domestik yang mengurangi ketergantungan pada impor strategis. Dengan demikian, gejolak geopolitik tidak langsung mengguncang fondasi ekonomi nasional.

Diplomasi Ekonomi yang Pragmatis

Pemikiran Sumitro juga menekankan bahwa hubungan ekonomi internasional harus bersifat pragmatis dan berorientasi pada kepentingan nasional. Indonesia perlu menjaga hubungan ekonomi yang seimbang dengan berbagai kawasan dunia, termasuk Timur Tengah, Asia Timur, Eropa, dan Amerika. Pendekatan ini memungkinkan Indonesia memanfaatkan peluang global tanpa terjebak dalam rivalitas geopolitik antar blok kekuatan besar.

Jalan Menuju Kedaulatan Industri

Apabila dibaca secara strategis, dinamika Timur Tengah sebenarnya membuka peluang besar bagi Indonesia. Energi dari kawasan tersebut dapat menopang industrialisasi nasional, petrodollar dapat menjadi sumber pembiayaan pembangunan industri, dan pasar regional dapat memperluas ekspor manufaktur Indonesia.

Namun semua peluang tersebut hanya dapat dimanfaatkan apabila negara memiliki arah pembangunan yang jelas dan konsisten. Di sinilah relevansi pemikiran Soemitronomics menjadi semakin nyata. Industrialisasi nasional membutuhkan kombinasi antara kepemimpinan negara, kemitraan dengan sektor swasta, serta integrasi cerdas dengan ekonomi global.

Timur Tengah mungkin diliputi badai geopolitik, tetapi bagi Indonesia badai tersebut juga membawa arus peluang. Dengan strategi yang tepat, kawasan itu dapat menjadi salah satu batu loncatan bagi Indonesia untuk mencapai kedaulatan industri dan kemakmuran nasional.

AM Hendropriyono. Sekretaris Pengendalian Operasional Pembangunan RI (1976-1978).

Lihat juga Video 'Iran Balas AS, Serang Pangkalan Militer di UEA, Bahrain, dan Kuwait':

(rdp/dhn)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads