Di tengah ketidakpastian geopolitik global, krisis energi, dan fragmentasi ekonomi dunia, Indonesia menghadapi peluang sejarah untuk menegakkan kembali ekonomi nasional sebagaimana yang dirumuskan oleh Prof Dr Soemitro Djojohadikusumo.
Inti pemikirannya adalah membangun kapitalisme nasional yang berpihak pada kepentingan bangsa, yang negara berperan sebagai pengarah, pelindung, dan penggerak lahirnya kekuatan ekonomi nasional. Untuk mewujudkan hal tersebut diperlukan langkah-langkah strategis yang konkret dan terarah, yaitu:
1. Hilirisasi Total Sumber Daya Alam
Indonesia harus menghentikan ketergantungan pada ekspor bahan mentah. Karena itu maka langkah utama yang diperlukan adalah:
A. Membangun industri petrokimia nasional,
B. Memperkuat industri baterai dan kendaraan listrik,
C. Mengembangkan industri logam strategis yaitu nikel, tembaga dan bauksit.
D. Membangun industri pupuk dan energi berbasis gas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan demikian Indonesia tidak lagi mengekspor kekayaan alamnya sebagai bahan mentah, tetapi sebagai produk industri yang bernilai tinggi.
2. Melahirkan Konglomerat Nasional Berbasis Produksi
Negara RI perlu mendorong lahirnya kapitalis nasional yang kuat dan produktif, bukan kapitalisme rente. Kebijakan utama yang diperlukan adalah:
A. Memberi kredit investasi jangka panjang bagi industri strategis,
B. Insentif pajak bagi industri manufaktur dan
C. Pembentukan kemitraan antara BUMN dan swasta nasional.
Model ini pernah berhasil di Jepang melalui Keiretsu, Korea Selatan melalui Chaebol dan China melalui state-owned corporations. Indonesia perlu melahirkan konglomerasi industri nasional yang mampu bersaing global.
3. Memperkuat Peran Negara sebagai Arsitek Ekonomi
Negara tidak boleh sekadar menjadi regulator pasif tapi harus berfungsi sebagai perancang strategi industri nasional, pengarah investasi strategis dan pelindung kepentingan ekonomi nasional. Instrumen yang perlu diperkuat adalah:
A. Sovereign Wealth Fund,
B. Bank pembangunan industri,
C. Kebijakan pengadaan nasional (national procurement policy).
4. Industrialisasi Berbasis Ekspor
Indonesia harus bertransformasi dari ekonomi berbasis komoditas menjadi ekonomi industri berorientasi ekspor. Langkah utama yang dibutuhkan:
A. Pengembangan zona industri ekspor.
B. Peningkatan kapasitas logistik dan pelabuhan
C. Integrasi industri nasional dengan rantai pasok global
Dengan strategi ini Indonesia dapat mengikuti jejak keberhasilan Jepang, Korea Selatan, Singapura, China yang menjadikan ekspor sebagai mesin pertumbuhan ekonomi.
5. Revolusi Pendidikan Teknologi dan Industri
Kedaulatan ekonomi tidak mungkin tercapai tanpa penguasaan teknologi, karena itu diperlukan langkah prioritas untuk:
A. Memperkuat pendidikan teknik dan sains,
B. Meningkatkan riset industri,
C. Membangun kemitraan antara universitas dengan industri.
Dengan demikian Indonesia dapat melahirkan insinyur, ilmuwan dan teknolog, yang merupakan tulang punggung industrialisasi nasional.
Penutup
Soemitronomics bukan sekadar teori ekonomi, melainkan strategi kebangkitan bangsa. Dalam kerangka ini, negara berperan sebagai pengarah, swasta nasional sebagai pelaku utama produksi dan sumber daya alam Indonesia menjadi fondasi industrialisasi.
Jika dilaksanakan secara konsisten, strategi ini akan membawa Indonesia menuju cita-cita yang pernah dirumuskan oleh para pendiri bangsa, yaitu ekonomi nasional yang berdaulat, kuat dan berkeadilan.
AM Hendropriyono. Sekretaris Pengendalian Operasional Pembangunan RI (1996-1998).
(rdp/dhn)










































