Berbahagiakah manusia ketika teknologi mampu meretas batas kehidupan, sehingga membebaskannya dari kematian? Hari ini secara teknologis, sangat mudah manusia yang telah meninggal "dihidupkan" kembali menggunakan deepfake. Jika yang disebut hidup itu memerlukan beberapa syarat, hasil produksi artificial intelligence (AI) ini mampu memenuhinya.
Syarat pertama: manusia hidup selalu berkomunikasi. One cannot not communicate. Ini adalah realitas, yang konsepnya diperkenalkan Paul Watzlawick, 1967, lewat buku yang ditulisnya bersama Janet Beavin Bavelas dan Don D. Jackson. Judulnya: "Pragmatics of Human Communication: A Study of Interactional Patterns, Pathologies, and Paradoxes". Diuraikannya: dalam keadaan sadar βbahkan saat diam punβ manusia berkomunikasi. Setidaknya berkomunikasi dengan dirinya sendiri. Dalam keresahan, lamunan juga berangan-angan, manusia melangsungkan komunikasi. Karenanya, uraian Watzlawick dapat ditafsir: kemampuan berkomunikasi menjadi syarat cukup, agar manusia disebut manusia. Tanpanya, manusia bukanlah manusia. Setidaknya, tidak sedang hidup.
Deepfake menempuh syarat ini, lewat jejak digital yang dikumpulkan dari manusia, di masa hidupnya. Sumbernya, interaksi manusia itu dengan berbagai sarana digital --e-mail, aplikasi media sosial, aplikasi pekerjaan, aplikasi perbelanjaan, aplikasi pencarian informasi-- yang dapat disusun menjadi bahan berkomunikasi. Machine learning memetakannya sebagai algoritma, yang menghimpun perilaku komunikasi manusia yang dihidupkan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Zeyi Yang, 2024, dalam "Deepfakes of Your Dead Loved Ones are a Booming Chinese Business", menguraikan ilustrasinya. Diceritakan tentang Sun Kai, yang kerap melakukan panggilan video dengan "ibunya". Percakapannya soal pekerjaan, tekanan yang dihadapi, maupun pikiran-pikiran yang bahkan tak dibicarakan dengan istrinya. Sang Ibu sesekali menanggapi, dan memintanya untuk menjaga diri. Dari komunikasi itu, keterhubungan emosional Sun Kai dengan Ibunya yang telah wafat lima tahun sebelumnya --walaupun tampilannya masih tampak tak alami β berlangsung memuaskan.
Beberapa tahun terakhir, permintaan menciptakan keabadian digital --seperti yang dilakukan Sun Kai-- jadi kecenderungan kuat di Cina.
Walaupun deepfake yang dihasilkan masih kaku seperti robot, namun banyaknya permintaan mendorong pertumbuhan jumlah perusahaan penyedianya. Ini memicu bertambahnya alat produksi yang digunakan, juga mendorong kematangan teknologinya. Seluruhnya menyempurnakan produk yang dihasilkan, namun dengan biaya yang telah turun drastis, dibanding saat pertama kali teknologinya diperkenalkan. Penurunan biaya itu, menghidupkan kembali manusia yang telah meninggal sebagai gaya hidup di Cina.
Kecenderungan penggunaan deepfake semacam cara di atas tampaknya tak bakal sebatas pemenuhan keterhubungan emosional yang domestik. Deepfake telah digunakan di berbagai ranah publik: pemasaran, keuangan, pendidikan, komunikasi sosial maupun ajang politik. Karenanya, menciptakan keabadian digital untuk keperluan publik, bukan persoalan rumit. Bedanya deepfake yang masuk ranah publik ini, memerlukan kecerdasan yang lebih kompleks. Melampaui kemampuan komunikasi dasar, seperti yang dicapai deepfake Ibunda Sun Kai. Wujud kecerdasan kompleks itu juga memenuhi syarat kedua: manusia hidup mampu menghasilkan kreativitas, melampaui rutinitas biologisnya.
Sistem AI, pada proses lanjutannya --melalui deep learningβ mampu menghasilkan produk kecerdasan yang lebih kompleks. Dalam konteks deepfake yang menghidupkan manusia yang telah meninggal itu, terwujud sebagai tanggapan-tangapan khas, identik ekspresi orang yang ditirukannya. Jika pada komunikasi dasar deepfake menampilkan suara, intonasi, jeda antar kata, lengkap dengan mimik wajah, maupun gerak tubuh yang identik dengan yang ditirukannya, pada deepfake berkecerdasan kompleks mampu menanggapi suatu permintaan secara real time.
Kecerdasan kompleks di atas, dapat diilustrasikan saat terjadinya penipuan-penipuan di perbankan. Dalam proses pembukaan rekening secara digital βmelalui onboarding digital-- tak diharuskan dilakukannya pertemuan tatap muka calon nasabah, dengan petugas bank. Proses verifiaksi identitas dapat dilakukan tanpa perjumpaan analog. Pada proses yang disebut know your customer (KYC) ini, identifikasi dan verifikasi nasabah dilakukan dengan permintaan pengunggahan foto dan dokumen identitas lainnya. Lalu diikuti selfie, sambil memegang dokumen identitas persyaratan.
Juga sebagai langkah tambahan, dilakukan panggilan video dengan pengaktifan kamera ponsel nasabah. Pada komunikasi lewat panggilan video itu, ada permintaan menunjukkan wajah dari berbagai arah, sesuai instruksi petugas bank. Tanggapan real time-nya menjadi petunjuk: sosok yang dihadapi nyata. Namun hari ini, dalam penipuan di perbankan yang menggunakan deepfake, tanggapan real time itu dapat diproduksi untuk keperluan manipulasi. Sifat real time-nya bukan lagi jadi petunjuk keotentikan manusia.
Tampak dari uraian di atas, menghidupkan kembali orang meninggal dengan deepfake berkecerdasan kompleks, bukan hal yang baru. Apalagi rumit, lantaran teknologinya telah tersedia. Sehingga ketika seseorang βPresiden suatu negara, Komandan pasukan, atau CEO sebuah perusahaanβ diperlukan tetap hidup, deepfake seperti uraian di atas dapat memenuhi kebutuhan. "Memelihara" manusia tetap dalam keadaan hidup, berguna untuk menjaga stabilitas negara, memelihara moral pasukan saat berperang, maupun mempertahankan kepercayaan pasar terhadap perusahaan. Pada orang-orang dengan ciri kharismatik, kematiannya harus disembunyikan.
Diperlukannya pemimpin dengan masa hidup yang panjang, dikemukakan directors-institute.com, 2023, dalam artikelnya berjudul "Are Long-term CEOs Beneficial to Business?". Disebutkannya: CEO yang jangka panjang menjabat, menciptakan stabilitas dan konsistensi bagi organisasi. Masa keberadaannya yang panjang, memungkinkan Sang CEO menetapkan visi yang jelas dan menjalankan strategi jangka panjang tanpa gangguan kerapnya perubahan kepemimpinan. Juga, pengalaman tentang perusahaan berikut industrinya menjadi kepemilikan yang berharga. Karenanya, kehidupannya harus dipelihara.
Keperluan itu, kurang lebih sama dengan keperluan memelihara hidup pemimpin di bidang yang lain. Bukannya tanpa risiko. Pembajakan peran oleh orang lain yang benar-benar masih hidup βdengan memberikan data-data yang sesuai dengan keinginan pribadinya pada sistem pengendali deepfake-- dapat membelokkan arah organisasi. Kelamiahan yang dapat diretas oleh suatu produk tiruan, akan mendorong peretasan-peretasan lainnya.
Kembali pada pertanyaan di atas, berbahagiakah manusia ketika teknologi mampu membebaskannya dari kematian? Berbahagia atau tak berbahagianya manusia saat dibebaskan dari kematian, merupakan perdebatan filosofis yang panjang. Memang kematian adalah keadaan yang menakutkan bagi banyak orang. Kedatangannya selalu diikuti oleh kesedihan dan rasa kehilangan yang mencekam. Karenanya, banyak upaya dilakukan, menolak kematian. Mulai dari memelihara kesehatan, mencegah penyakit, hingga mengobatinya ketika sakit tak dapat dihindari. Juga menerapkan sistem keamanan, yang dapat mencegah diri dari bahaya yang mematikan. Berbagai penelitian biologis maupun bioteknologi, berupaya menghindari kematian bahkan di tingkat genetik. Gen-gen yang keberadaannya dapat menyebabkan penyakit, dicegah kemunculannya sejak sebelum bayi dilahirkan. Dengan upaya itu, setidaknya mengantar manusia berumur lebih panjang.
Adapun secara teknologis, ditempuh upaya melampaui kematian biologis. Caranya, lewat pelestarian kesadaran, pengunggahan memori, hingga peniruan sistem kerja saraf. Seluruhnya bertujuan menciptakan keabadian digital. Hasilnya, seperti cerita di atas: mencegah kematian biologis, kehidupan teknologis dibangkitkan lewat deepfake. Dan dengan agresivitas pengembangan AI hari ini, tendensi terlampauinya kealamiannya makin jadi realitas. Termasuk terlampauinya kehidupan alami. Seluruhnya berarti, tak ada lagi perbedaan antara kehidupan biologis dengan kehidupan teknologis. Menjawab pertanyaan di atas lebih mudah: manusia dapat mencapai kebahagiaannya lewat keabadian teknologis.
Namun Mustafa Kaya, 2025, dalam penelitiannya "From Stoic Memento Mori to Digital Immortality: Modern Quest and Transhumanist Tendencies in The Face of Death" berpendapat lain. Disebutkannya: prinsip memento mori --ingat kematian-- dan amor fati --cintai takdirmu-- yang ditemukan dalam filsafat Stoa kuno, berprinsip: kematian adalah elemen yang memberi makna kehidupan. Ini paradoks dengan kemajuan teknologi hari ini --khususnya pendekatan transhumanis maupun pascahumanisβyang memandang kematian sebagai masalah yang harus diatasi secara teknis. Dalam konteks ini, pencarian keabadian digital yang dikombinasikan dengan keinginan untuk melampaui keterbatasan biologis, menghasilkan solusi radikal di bidang-bidang seperti transfer kesadaran, kecerdasan buatan, dan neuroteknologi.
Namun ketika kalimat kunci ungkapan Kaya: "kematian adalah elemen yang memberi makna kehidupan", hilangnya batas kehidupan berupa terbebas dari kematian, justru menghilangkan makna penting itu. Manusia mana yang tetap berbahagia ketika makna kehidupannya sirna? Sebab lewat kematian: mencari, mencipta, mempertahankan, memperjuangkan, justru menemui relevansinya. Demikian juga --mengikuti konsep Filsuf Nietzche tentang Eternal Recurrence, pengulangan abadi-- seluruh kehidupan, termasuk momen suka dan duka akan berulang selamanya dengan urutan yang sama dalam keadaan tanpa batas. Apakah kehidupan yang abadi seperti itu, tidak membosankan? Jadi ke manakah arah kebahagiaan manusia di hadapan perkembangan teknologi, terlebih deepfake? Membiarkan kematian meringkusnya, atau menghindari kematian dengan membangkitkan kehidupan teknologis?
Firman Kurniawan. Pemerhati Budaya dan Komunikasi Digital dari Universitas Indonesia, Pendiri Literos.org
Lihat juga Video: Imbas Deepfake Cabul Grok, X Diinvestigasi Komisi Eropa











































