Perayaan Hari Idul Fitri 1447 H menurut Kalender akan jatuh pada tanggal 21-22 Maret 2026. Namun karena permulaan bulan Ramadhan ada yang dimulai tanggal 18 dan 19 Februari, otomatis Idul Fitrinya akan maju. Perayaan Idul Fitri atau biasa disebut Lebaran merupakan hajatan besar bagi Pemerintah RI, terutama terkait dengan layanan transportasi untuk mudik.
Hal itu karena dalam waktu yang bersamaan, jutaan orang akan melakukan pergerakan secara serentak menuju ke tujuan yang hampir sama dan sumber pergerakan terbesar dari Jabodetabek.
Peristiwa meninggalnya 17 orang yang terjebak macet di Pintu Tol Brebes Timur (Brexit) 2016 menjadi momok bagi Pemerintah dalam penyelenggaraan angkutan mudik Lebaran selanjutnya. Sejak Lebaran 2017 penyelenggaraan angkutan mudik Lebaran memiliki tema atau tagline. Tagline mudik tahun 2026 adalah 'Mudik Aman Keluarga Bahagia'. Tapi penulis ingin menambahkan tagline tersebut menjadi 'Mudik Selamat dan Aman, Keluarga Bahagia'. Aspek keselamatan adalah hal yang pertama dan utama dalam bertransportasi.
Boleh saja keamanan dan kenyamanannya kurang, tapi yang penting selamat.
Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Badan Kebijakan Transportasi (BKT) Kementerian Perhubungan, puncak arus mudik pd masa Lebaran 2026 pd H-3 (Rabu, 18 Maret 2026) dan puncak arus balik pd H+6 (Jumat, 27 Maret 2026) bila diterapkan kebijakan WFA pada tanggal 16-17 Maret 2026 di arus mudik dan 25-27 Maret 2026 di arus balik.
Pergerakan mudik dari tahun ke tahun selalu mengalami pasang surut. Antara periode 2007-2019 pergerakan arus mudik cenderung meningkat. Namun, antara 2020-2021 karena COVID-19 dan ada larangan mudik, maka pergerakan arus mudik amat rendah.
Paska COVID-19 pergerakan arus mudik meningkat lagi. Berdasarkan hasil survei Badan Kebijakan Transportasi (BKT) Kementerian Perhubungan, tahun 2022 jumlah pemudik diperkirakan mencapai 79,4 jt, tahun 2023 sebanyak 123,8 jt, tahun 2024 melonjak menjadi 193,6 jt, lalu tahun 2025 turun menjadi 146,48 Jt orang (52% dari total jumlah penduduk), dan pada Lebaran 2026 diperkirakan 143,91 Jt orang (50,60%) atau turun 1,75%. Jadi selama dua tahun terakhir ada kecenderungan menurun dibandingkan dengan tahun 2024.
Penurunan jumlah arus mudik itu tidak terlepas dari kondisi ekonomi nasional yang lesu, sehingga banyak warga yang menahan bepergian saat libur Lebaran 2025 dan 2026 ini. Para ASN di wilayah Jabodetabek yang selama ini mendominasi pergerakan dengan menggunakan mobil pribadi, tahun 2026 ini mungkin jumlahnya turun karena sejak 2025 perjalanan dinas mereka dipotong, sementara salah satu sumber pendapatan ekstra mereka itu dari perjalanan dinas.
Perang AS-Israel versus Iran yang berimplikasi pada kenaikan harga BBM akan menambah besaran penurunan arus mudik tahun 2026 ini. Kenaikan harga BBM yang signifikan dan dipadukan dengan tarif tol yang tinggi akan berpengaruh terhadap besaran biaya transportasi pribadi sehingga orang akan mempertimbangkan ulang untuk mudik atau tidak. Terlebih bagi keluarga yang pas-pasan dan masih membiayai anak sekolah, mereka akan menghemat uangnya untuk biaya sekolah anak dari pada untuk mudik.
Faktor lain yang menyebabkan penurunan itu adalah banyak kelompok usia yang lima tahun lalu dan sebelumnya masih merasa wajib mudik karena ada orang tua, tapi sekarang orang tua mereka sudah tidak ada, sehingga merasa tidak wajib pulang. Itu sebabnya, besaran penurunannya bukan hanya 1,75% saja, tapi bisa mencapai 10% dari realisasi pergerakan mudik 2025 lalu. Penurunan ini akan berkontribusi pada kelancaran lalu lintas.
Bila Pemerintah berharap ada pergerakan yang massif guna mendorong pertumbuhan ekonomi di daerah, masih ada alternatif yang dapat diambil, yaitu alihkan anggaran MBG tanggal 18-24 Maret untuk mensubsidi layanan angkutan umum sehingga layanan angkutan umum terjangkau oleh semua warga. Membagikan MBG saat Lebaran jelas mubazir, padahal anggarannya sehari Rp. 1 triliun. Bila anggaran MBG itu dialihkan untuk mensubsidi angkutan umum selama Lebaran, tentu akan dapat mendorong pergerakan yang lebih massif, sehingga Lebaran berdampak pada pergerakan ekonomi di daerah. Kuota mudik gratis terbatas sehingga kurang dapat mendorong warga untuk melakukan pergerakan secara massif.
Makin Berkeselamatan
Hal yang selalu menjadi kepedulian (concern) bagi kita semua saat penyelenggaraan Mudik Lebaran adalah keselamatan pemudik. Keselamatan itu merupakan hal yang utama dan pertama, karena untuk apa mudik kalau tidak selamat. Kita patut mengapresiasi penyelenggaraan angkutan mudik Lebaran 2025 karena mampu menurunkan jumlah laka dan jumlah orang yang meninggal dunia karena laka lantas. Jumlah laka pada mudik/balik Lebaran sebanyak 1.458 kasus atau turun 31%, sedangkan jumlah fatalitas korban turun menjadi 419 orang atau 53% dibandingkan pada periode yang sama 2024.
Penurunan jumlah laka dan fatalitas korban pada musim Lebaran 2025 itu patut diapresiasi. Kepala Korp Lalu Lintas Polri (Kakorlantas Polri) Irjen Agus Suryonugroho dalam launching Operasi Ketupat 2026 "Mudik Aman, Keluarga Bahagia" yang diselenggarakan oleh Korlantas Polri bersama Detik, berharap agar jumlah laka maupun korban meninggal pada Lebaran 2026 ini akan turun mengingat persiapan Pemerintah semakin baik. Tagline "Mudik Aman, Keluarga Bahagia" diharapkan menginspirasi kita semua untuk mewujudkannya Bersama.
Salah satu upaya untuk mewujudkan mudik yang selamat dan aman adalah menekan jumlah pemudik dengan menggunakan motor. Hal itu mengingat selama dua dekade data Korlantas Polri menunjukkan bahwa motor berkontribusi 70% lebih terjadinya laka lantas, baik harian maupun saat mudik Lebaran. Yang patut diwaspadai bagi pemudik motor adalah kerusakan jalan nasional maupun daerah. Kewaspadaan yang ekstra diperlukan terutama di jalan-jalan daerah karena saat tiba di jalan daerah pemotor sudah lelah, sementara kondisi jalannya banyak yang berlubang. Potensi laka lantas makin tinggi bila jalan berlubang tersebut tertutup oleh air hujan sehingga tidak tampak oleh pengendara motor kalau ada lobang.
Bahagia untuk Operator Angkutan Umum Juga
"Muadik Selamat, Aman, dan Keluarga Bahagia" sebetulnya tidak hanya diharapkan oleh para pemudik dan Pemerintah sebagai penyelenggara angkutan mudik Lebaran saja, tapi juga oleh para operator angkutan umum, khususnya angkutan darat dan penyeberangan. Para operator angkutan darat yang tergabung di Organda (Organisasi Angkutan Darat) dan operator angkutan penyeberangan yang tergabung di Gapasdap (Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan) mengeluhkan, sejak COVID-19 hingga 2025 lalu, setiap lebaran mereka hanya dapat gigit jari saja.
Anggaran darat pernah mengalami lonjakan hingga 6)% pada tahun 2023 saja, setelah itu turun; sedangkan operator angkutan penyeberangan hanya bisa ngiler saja (di depannya banyak makanan, tapi tidak bisa masuk ke mulutnya). Untuk asas keadilan, para operator angkutan umum itu juga berhak Bahagia dengan limpahan penumpang yang tinggi.
Ki Darmaningtyas. Pengamat Transportasi dari Instran Institut Studi Transportasi di Jakarta.
Tonton juga video "Arus Mudik di Tol Jakarta-Cikampek Ramai Lancar Malam Ini"
(rdp/fjp)