Determinasi Rudal Iran dan Senjakala Hegemoni Amerika di Timur Tengah
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Kolom

Determinasi Rudal Iran dan Senjakala Hegemoni Amerika di Timur Tengah

Rabu, 11 Mar 2026 15:15 WIB
Muhammad Thaufan Arifuddin
Dosen Ilmu Komunikasi Fisip Universitas Andalas dan lulusan Sekolah Pascasarjana Pembangunan Internasional (GSID), Universitas Nagoya, Jepang.
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Birds fly near a boat in the Strait of Hormuz amid the U.S.-Israeli conflict with Iran, as seen from Musandam, Oman, March 2, 2026.REUTERS/Amr Alfiky
Foto: Potret Satelit Ratusan Kapal Besar Tertahan di Selat Hormuz (REUTERS/Amr Alfiky)
Jakarta -

Analisis mengenai eskalasi konflik di Timur Tengah tidak dapat dilepaskan dari watak dasar Amerika Serikat yang menggunakan militerisme sebagai instrumen bertahan hidup bagi sistem ekonomi neoliberalnya.

Radhika Desai (2023) berargumen bahwa kapitalisme Barat sedang mengalami pembusukan struktural yang memaksa kekuatan imperial untuk melakukan agresi guna mempertahankan dominasi dolar.

Perang di Timur Tengah bukan sekadar misi keamanan, melainkan desain sistemis untuk mengamankan aliran energi yang menjadi fondasi kapitalisme finansial global.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Watak imperialistik ini sejalan dengan tesis Robert Higgs dalam Depression, War, and Cold War (2006), yang menjelaskan keberadaan ekonomi perang permanen di AS. Higgs menunjukkan bahwa ketergantungan AS pada kompleks industri-militer menciptakan kebutuhan akan konflik berkelanjutan demi menjaga sirkulasi modal domestik.

Namun, desain perang yang awalnya ditujukan untuk penguasaan ekonomi kini berbalik menjadi bencana strategis karena Washington terjebak dalam salah kalkulasi fatal terhadap lompatan teknologi militer Iran.

Analisis dari mantan perwira tinggi TNI AU, Agung Sasongkojati (2026), memberikan perspektif krusial mengenai runtuhnya mitos Air Superiority Amerika. Mitos supremasi udara konvensional Barat hancur seketika di bawah hujan drone dan rudal hipersonik. AS, yang berniat mendikte ekonomi kawasan melalui kekuatan koersif, kini kehilangan kemampuan Escalation Dominance.

Mereka dipaksa gagap oleh kombinasi teknologi asimetris Iran yang jauh melampaui prediksi Pentagon, menandai berakhirnya relevansi jet tempur mahal dan tentara darat dalam teater perang modern.

Determinasi rudal Iran mencapai titik puncaknya melalui kemampuan menyerang seluruh pangkalan militer AS di negara-negara Teluk secara bersamaan dan presisi. Laporan Battle Damage Assessment (BDA) menunjukkan bahwa pangkalan seperti Nevatim, Tel Nof, hingga Al-Udeid di Qatar bukan lagi benteng yang tak tertembus, melainkan target diam (sitting ducks).

Ketika landasan pacu dan depot avtur dihantam salvo rudal Fattah-2, pesawat F-35 yang canggih sekalipun kehilangan fungsinya. Serangan serentak ini adalah upaya delegitimasi simbol hegemoni Amerika; pangkalan militer yang selama ini dianggap sebagai pelindung sekutu kini justru berubah menjadi magnet maut yang mengundang kehancuran.

Kegagalan sistemik AS kian nyata melalui insiden friendly fire di Kuwait, di mana tiga unit F-15 jatuh akibat electronic poisoning yang mengacaukan sistem identifikasi (IFF). Ketergantungan pada sistem "Black Box" asing adalah bunuh diri taktis di era perang siber.

Teknologi Iran terbukti mampu mengacaukan saraf pusat komando Barat, membuktikan bahwa instrumen militer yang dirancang untuk melindungi kapital global kini berbalik menyerang satu sama lain dalam kepanikan struktural.

Realitas ini memaksa Presiden Donald Trump melakukan Strategic Retreat melalui saluran diplomatik di Italia. Pengurasan stok rudal Tomahawk dan Patriot dalam jumlah masif untuk membendung rudal Iran telah menciptakan celah strategis di Pasifik.

Sesuai pandangan Desai (2023), krisis logistik ini mengancam eksistensi ekonomi domestik AS. Ketidakmampuan industri pertahanan AS untuk mengimbangi kecepatan produksi drone dan rudal Iran menunjukkan bahwa fondasi ekonomi perang Amerika sedang berada di titik nadir.

Dampak ekonomi dari salah kalkulasi militer ini bersifat katastropik. Keberhasilan Iran meratakan pangkalan militer di Bahrain dan mengancam penutupan Selat Hormuz bertindak sebagai serangan jantung bagi kapitalisme global.

Dalam Trade Wars Are Class Wars (2020), Klein dan Pettis mengingatkan bahwa ketidakstabilan internasional yang dipicu konflik berujung pada krisis domestik. Dengan prediksi harga minyak melonjak hingga $200 per barel, strategi imperial AS untuk menguasai ekonomi Timur Tengah justru menjadi bumerang yang menghancurkan stabilitas fiskal dunia, termasuk Indonesia yang menghadapi ancaman pembengkakan subsidi BBM.

Data evakuasi medis ke Pangkalan Ramstein di Jerman menunjukkan skala korban yang sebenarnya, meski Pentagon berusaha melakukan sensor informasi. Aliran pesawat C-17 Globemaster yang membawa personel dari reruntuhan beton pangkalan membuktikan kegagalan total strategi deterrence (penangkalan) Amerika.

Kehadiran teknologi peperangan elektronik yang kemungkinan didukung oleh kontra-hegemon global seperti China, sebagaimana dianalisis William Jefferies (2023), mempertegas bahwa hegemoni teknologi Barat sudah tidak lagi mutlak di tengah dunia yang semakin multipolar.

Pada akhirnya, determinasi rudal Iran telah meruntuhkan simbol-simbol digdaya maritim dan udara Amerika. Gugus tugas kapal induk seperti USS Abraham Lincoln kini terjepit di Teluk Oman, menyadari bahwa masuk ke wilayah jangkauan rudal Iran adalah tindakan bunuh diri.

Perang yang awalnya dirancang untuk kelangsungan ekonomi imperial AS justru menjadi katalisator bagi keruntuhan hegemoninya. Dunia kini menyaksikan senjakala militerisme Barat, di mana cara-cara perang konvensional menjadi tidak relevan di hadapan determinasi teknologi asimetris yang presisi dan mematikan.


Muhammad Thaufan Arifuddin. Dosen Ilmu Komunikasi Fisip Universitas Andalas dan lulusan Sekolah Pascasarjana Pembangunan Internasional (GSID), Universitas Nagoya, Jepang.

Lihat juga Video Iran: 11 Hari Agresi AS-Israel Akibatkan 1.300 Lebih Warga Sipil Tewas!

(rdp/imk)


Berita Terkait