Posisi Kita di Tengah Turbulensi Geopolitik Dunia.
Sebelum saya membahas lebih lanjut, ijinkan Saya disclaimer terlebih dahulu bahwa tidak ada kejahatan yang bisa dikompromikan, karena kejahatan adalah musuh umat manusia (hostis humanis generis).
Pada berbagai kesempatan Presiden Prabowo, seorang intelektual dan negarawan Indonesia menyampaikan kepada kita semua tentang konsep state craft bahwa fakta hari ini dunia bergerak di atas 3 landasan ideologi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Semua negara di dunia saat ini telah berada dalam ruang masing-masing. Saya beruntung pernah mendengar langsung kuliah dari pemikir realisme dunia saat ini John Mearsheimer. Tiga landasan ideologi tersebut yaitu :
1). Kelompok Sosialisme (Rusia, China, Kuba, Vietnam, Venezuela dkk).
2). Kelompok Kapitalisme (Amerika Serikat, Israel, negara-negara Eropa, beberapa negara Timur Tengah dll).
3). Realisme.
Kita tidak berada di dalam ruang hampa, tetapi turbulensi hebat dalam geopolitik dunia hari ini memaksa harus memilih dan menentukan jalan pilihan untuk menyelamatkan bangsa Indonesia dan juga menghadirkan bangsa Palestina yang merdeka, adil dan makmur.
Kebetulan jalan kita ada di Realisme (Thucydides, Cautilya dan Mearsheimer) yang sering dikutip Presiden Prabowo.
Pertama, pemikir utama Realisme adalah Thucydides. Pernyataan Thucydides yang paling terkenal terdapat dalam "Melian Dialogue" (Dialog Melos), di mana utusan Athena berkata kepada penduduk pulau kecil Melos:
"Yang kuat berbuat apa yang mereka mampu, dan yang lemah menderita apa yang harus mereka derita." (The strong do what they can, and the weak suffer what they must).
Kedua, Cautilya dalam Arthashastra. Kautilya (juga dikenal sebagai Chanakya) menyajikan pandangan yang sangat realistis dan pragmatis tentang kekuasaan negara. Ia memandang negara sebagai organisme yang harus kuat secara internal dan eksternal untuk bertahan hidup dalam lingkungan yang kompetitif, yang ia sebut sebagai Matsya Nyaya (hukum ikan, di mana yang kuat memangsa yang lemah)
Ketiga, John Mearsheimer adalah profesor ilmu politik dari Universitas Chicago yang terkenal dengan teori Realisme Ofensif dalam studi hubungan internasional, yang berargumen bahwa struktur sistem internasional yang anarkis memaksa negara-negara besar untuk terus memaksimalkan kekuatan dan mencapai hegemoni regional demi bertahan hidup.
Saya sudah mendengar sikap dan kritik yang disampaikan Mantan Gubernur Jakarta Anies Baswedan terkait langkah diplomasi Indonesia di panggung internasional. Anies mendesak agar pemerintah Indonesia segera menarik diri dari keikutsertaan dalam Board of Peace (BoP) sebuah dewan perdamaian yang dibentuk dan dipimpin oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Atas pendapat Anies ini, saya bertanya dan ingin tahu apa konsep dasar state craft yang cocok bagi bangsa Indonesia agar Indonesia juga aman tetapi juga kita selamatkan bangsa Palestina dari penderitaan yang panjang jika kita tidak ikut serta aktif dalam menciptakan perdamaian melalui BoP? Saya sungguh Ingin tahu landasan berfikir fundamental yang paling tepat dari seorang Anies Baswedan.
Saya jujur mengakui seorang Pandji Pragiwaksono yang belum lama ini menyampaikan terus terang pemahamannya atas sikap Presiden Prabowo.
Pernyataan Panji mengejutkan mengingat selama ini Pandji dikenal vokal mengkritik kebijakan pemerintah. "Aku tidak percaya akan mengatakan ini. Tapi, Prabowo bisa jadi benar!" kata Pandji Pragiwaksono. Pandji menunjukkan sikap terbuka terhadap kemungkinan bahwa dirinya bisa keliru dalam membaca situasi sebelumnya.
Seorang Pandji Pragiwaksono kini sudah paham. Sekali lagi saya ingin tahu Anies yang mengkritik, apa konsep dasar state craft yang cocok bagi bangsa Indonesia?
Natalius Pigai, Menteri HAM RI
Lihat juga Video: Massa Demo di Gedung DPR, Desak Indonesia Keluar dari BoP











































