Relevansi Indonesia di Tengah Serangan Militer ke Iran
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Kolom

Relevansi Indonesia di Tengah Serangan Militer ke Iran

Selasa, 03 Mar 2026 11:59 WIB
Prof. Dr. Ali Mochthar Ngabalin, M.Si
Guru Besar Hubungan Internasional Busan University of Foreign Studies (BUFS)
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Smoke rises following an explosion, after Israel and the U.S. launched strikes on Iran, in Tehran, Iran, March 1, 2026. Majid Asgaripour/WANA (West Asia News Agency) via REUTERS ATTENTION EDITORS - THIS PICTURE WAS PROVIDED BY A THIRD PARTY     TPX I
Foto: Majid Asgaripour/WANA via REUTERS
Jakarta - Situasi global berubah dalam tempo sangat cepat. Pada 28 Februari 2026, militer Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara dan misil terhadap sejumlah target di Iran, termasuk ibu kota Teheran dan kota-kota strategis lain seperti Isfahan dan Tabriz, menurut laporan dari berbagai media internasional.

Ledakan mengguncang kawasan perkotaan, sementara langit Timur Tengah dipenuhi kepulan asap dan deru mesin pesawat tempur sebagai tanda eskalasi militer yang signifikan.

Operasi yang digerakkan bersama Amerika-Israel disebut oleh sejumlah pejabat sebagai tindakan pre-emptive, dengan klaim mencegah ancaman program nuklir Iran serta membatasi kemampuan misilnya, sementara Presiden Amerika Serikat menyampaikan bahwa operasi ini merupakan bagian dari upaya untuk menjaga keamanan rakyat Amerika dan dunia.

Di belahan lain, Republik Islam Iran merespons serangan tersebut dengan menembakkan misil dan drone balasan yang menarget wilayah militer Israel dan pangkalan Amerika di Teluk Persia, sehingga konflik yang sebelumnya bersifat tegang kini berubah menjadi benturan militer aktif yang berpotensi untuk memberikan dampak lebih luas lagi. Beberapa orang menyebutnya Perang Dunia III.

Kerangka Diplomasi Strategis Indonesia

Dalam perspektif hubungan internasional, konflik semacam ini menunjukkan ketegangan struktural antara kekuatan global dan aktor regional yang berimbas langsung pada stabilitas sistem internasional.

Negara-negara besar bisa memaksakan perubahan keseimbangan melalui kekuatan militer, tetapi konsekuensinya adalah ketidakstabilan keamanan di berbagai kawasan strategis dunia. Indonesia, dengan politik bebas aktif, memiliki kapasitas memainkan peran mediasi yang krusial dalam konteks semacam ini.

Posisi Indonesia sebagai negara demokrasi dengan komunitas Muslim terbesar, punya legitimasi moral yang kuat di dalam konflik ini. Ditambah lagi dengan hubungan diplomatik yang kokoh dengan banyak negara besar, termasuk Amerika lewat Board of Peace dan Iran yang masuk ke dalam negara OKI alias Organisasi Kerja Sama Islam, sehingga kapasitas Indonesia untuk menjembatani, memiliki bargaining power yang cukup.

Presiden Prabowo Subianto telah menyatakan kesiapan negara ini untuk memfasilitasi dialog jika disetujui pihak yang bertikai. Ini adalah sebuah komitmen diplomatik yang tegas dalam konteks konflik berskala besar.

Dalam dinamika global yang semakin kompleks, mediasi bukan hanya soal memanggil pihak-pihak yang berperang ke meja perundingan. Ia memerlukan legitimasi moral, kredibilitas penengah, serta jaringan kepercayaan di berbagai belahan tatanan dunia. Indonesia memiliki semua itu.

Meneguhkan Posisi sebagai Penjaga Perdamaian

Konflik militer antara Amerika dan Israel di satu sisi, serta Iran di sisi lain, menciptakan dinamika keamanan yang bisa berdampak langsung pada keamanan global, termasuk pasar energi dunia, alur perdagangan strategis, dan stabilitas politik regional.

Akibat dari konflik semacam ini akan dirasakan tidak hanya oleh aktor yang terlibat langsung, tetapi oleh seluruh negara yang terhubung melalui jaringan ekonomi dan politik global.

Indonesia dapat memanfaatkan posisi tersebut untuk melakukan inisiasi perdamaian, membuka saluran komunikasi alternatif, serta mendorong diplomasi yang melibatkan pemangku kepentingan non-negara dan kelompok sipil yang relevan. Ini menjadi kunci agar ruang diplomasi tetap hidup meskipun saluran utama mengalami kebuntuan.

Meningkatkan peran sebagai mediator berarti mengambil tanggung jawab besar. Indonesia dapat mengoptimalkan platform seperti Board of Peace, OKI dan PBB untuk memperluas basis dukungan internasional terhadap solusi diplomatik.

Diplomasi Indonesia dapat memainkan peran penting dalam meredakan ketegangan, memfasilitasi percakapan lintas blok kekuatan, dan menegaskan kembali relevansi normatif Indonesia di pentas dunia.

Indonesia berada pada momen strategis. Konflik militer antara Amerika-Israel dan Iran adalah fenomena global yang membutuhkan respons global yang matang. Indonesia memiliki kapasitas dan visi diplomatik untuk menjadi juru kunci perdamaian di tengah dinamika yang penuh tantangan ini. Dunia membutuhkan penengah yang teguh di saat seperti ini.


Ali Mochthar Ngabalin. Guru Besar Hubungan Internasional Busan University of Foreign Studies (BUFS).

Simak juga Video MUI Desak RI Keluar BoP, Muzani: Saya Kira Presiden Sudah Tahu

(rdp/imk)



Berita Terkait