Geopolitik Teluk dan Ujian Diplomasi RI
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Kolom

Geopolitik Teluk dan Ujian Diplomasi RI

Senin, 02 Mar 2026 16:39 WIB
Probo Darono Yakti
Dosen Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga; Peneliti Cakra Studi Global Strategis; Cofounder Nusantara Policy Lab; Menerbitkan Buku Politik Keamanan Internasional
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Smoke rises following an explosion, after Israel and the U.S. launched strikes on Iran, in Tehran, Iran, March 1, 2026. Majid Asgaripour/WANA (West Asia News Agency) via REUTERS ATTENTION EDITORS - THIS PICTURE WAS PROVIDED BY A THIRD PARTY     TPX I
Israel Lanjutkan Gelombang Serangan, Langit Teheran Dipenuhi Asap (Foto: Majid Asgaripour/WANA via REUTERS)
Jakarta -

Serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran disusul balasan militer Teheran bukan lagi sekadar episode konflik regional. Penutupan Selat Hormuz, evakuasi warga negara asing, pembatalan ribuan penerbangan, dan meningkatnya ketegangan di pangkalan-pangkalan militer kawasan menunjukkan bahwa eskalasi telah memasuki fase serius. Selat Hormuz yang dilintasi sekitar 20 juta barel minyak per hari menjadi simpul paling strategis dalam konflik ini.

Ketika jalur tersebut terganggu, dampaknya menjalar cepat. Harga minyak dunia bergerak naik. Pasar merespons dengan kepanikan. Negara-negara pengimpor energi menghitung ulang risiko fiskal. Perang di Teluk Persia tidak lagi jauh dari Indonesia. Ia menyentuh langsung struktur ekonomi nasional.

Energi Terguncang

Indonesia masih mengimpor ratusan ribu hingga mendekati satu juta barel minyak per hari untuk memenuhi kebutuhan domestik. Ketergantungan ini membuat setiap lonjakan harga minyak global berpotensi menekan anggaran negara. Subsidi energi membengkak, ruang fiskal menyempit, dan tekanan inflasi meningkat.

Kenaikan harga minyak tidak berhenti pada angka di layar bursa. Biaya logistik naik. Harga pangan ikut terdorong. Ongkos produksi industri meningkat. Pada akhirnya, masyarakat yang merasakan dampaknya melalui harga kebutuhan pokok dan biaya transportasi.

Dalam konteks ini, konflik Iran–Israel–AS menjadi lebih dari sekadar rivalitas geopolitik. Ia berubah menjadi variabel ekonomi domestik. Setiap rudal yang diluncurkan di kawasan Teluk membawa konsekuensi berantai bagi negara-negara yang bergantung pada stabilitas energi global, termasuk Indonesia.

Blok Menguat

Secara geopolitik, eskalasi ini memperlihatkan menguatnya kembali logika blok dan keseimbangan kekuatan. Amerika Serikat tidak lagi sekadar menjadi penonton, tetapi aktor langsung. Iran merespons dengan strategi militer terbuka. Sejumlah negara kawasan mengambil posisi, sebagian mendukung secara eksplisit, sebagian berhati-hati menjaga kepentingan masing-masing.

Mekanisme kolektif global seperti Dewan Keamanan PBB tampak sulit bergerak efektif di tengah rivalitas kekuatan besar. Koalisi ad hoc dan langkah sepihak menjadi instrumen yang lebih dominan. Dalam struktur seperti ini, ruang netral semakin sempit. Negara yang ingin menjadi mediator harus mampu menjaga jarak sekaligus memiliki daya tawar.

Di sinilah tantangan Indonesia muncul. Sebagai negara dengan tradisi bebas-aktif dan pengalaman historis dalam diplomasi Global South, Indonesia memiliki modal moral. Namun dalam konfigurasi kekuatan yang semakin keras, moral saja tidak cukup.

Peran Ambigu

Presiden menyatakan kesiapan Indonesia untuk menjadi mediator dalam konflik ini. Secara prinsip, langkah tersebut sejalan dengan tradisi diplomasi Indonesia yang mendorong penyelesaian damai. Namun persoalannya bukan pada niat, melainkan pada persepsi dan konsistensi posisi.

Indonesia telah lebih dahulu bergabung dalam Board of Peace yang diprakarsai Amerika Serikat dan melibatkan Israel. Keikutsertaan ini dapat dibaca sebagai upaya menjaga relevansi dalam arsitektur keamanan global. Namun pada saat yang sama, ketika Indonesia menawarkan diri sebagai mediator kepada pihak yang berhadapan dengan AS dan Israel, muncul ruang tafsir mengenai independensi sikap.

Dalam konflik yang sangat sensitif, persepsi sama pentingnya dengan posisi formal. Mediasi mensyaratkan kepercayaan dari semua pihak. Jika terdapat keraguan atas netralitas, daya tawar diplomatik melemah sebelum proses dimulai.

Ambiguitas inilah yang berisiko menempatkan Indonesia dalam posisi kontradiktif. Di satu sisi ingin tampil sebagai penengah. Di sisi lain berada dalam forum yang diprakarsai salah satu aktor utama konflik. Tanpa penjelasan strategis yang jelas, langkah tersebut mudah dipahami sebagai simbolisme diplomasi.

Efek Berantai

Efek domino konflik ini tidak berhenti pada energi dan diplomasi, tetapi juga menjalar ke stabilitas Indo-Pasifik. Ketika Amerika Serikat mengalihkan fokus militernya ke Timur Tengah, keseimbangan kawasan berubah dan China serta Rusia menyesuaikan strategi. Indonesia berada dalam lanskap kompleks: bergantung pada impor energi, menjaga pertumbuhan, sekaligus ingin berperan global. Dalam situasi ini, kebijakan luar negeri tak boleh reaktif dan harus terhubung pada kepentingan energi serta fiskal nasional.

Selain tekanan harga minyak, Indonesia juga menghadapi risiko fiskal yang nyata. Dalam APBN, subsidi energi dan kompensasi BBM selalu menjadi pos sensitif ketika harga minyak dunia menembus batas asumsi makro. Setiap kenaikan USD 10 per barel dapat meningkatkan beban subsidi triliunan rupiah, mempersempit ruang belanja pembangunan, dan menekan stabilitas rupiah. Di sisi perdagangan, nilai impor minyak dan gas yang mencapai puluhan miliar dolar per tahun membuat neraca transaksi berjalan rentan terhadap gejolak eksternal. Artinya, konflik ini memiliki implikasi langsung terhadap daya tahan ekonomi nasional.

Dalam konteks tersebut, prinsip politik luar negeri bebas-aktif seharusnya memberi ruang bagi Indonesia untuk bersikap independen dan adaptif. Namun ketika Indonesia telah terlanjur bergabung dalam Board of Peace yang diprakarsai Amerika Serikat dan melibatkan Israel, ruang manuver itu menjadi lebih kompleks. Bebas-aktif mengandaikan kebebasan menentukan posisi tanpa terikat blok tertentu. Jika partisipasi dalam forum tersebut membatasi persepsi netralitas Indonesia, maka prinsip tersebut berisiko tersandera oleh komitmen yang tidak sepenuhnya fleksibel. Di sinilah konsistensi antara doktrin dan praktik diuji secara nyata.

Arah Jelas

Jika ingin menjadi mediator yang diperhitungkan, Indonesia perlu memastikan bahwa langkah diplomasi tidak dibaca ambigu. Keaktifan di forum keamanan global harus disertai agenda independen yang jelas dan terukur. Tanpa itu, peran Indonesia berisiko terjebak di antara blok-blok kekuatan yang sedang berhadapan.
Konflik Iran–Israel menunjukkan bahwa geopolitik dan ekonomi kini tak terpisahkan. Energi adalah instrumen kekuatan. Jalur laut adalah kepentingan strategis. Diplomasi tanpa instrumen konkret hanya akan terdengar di ruang pernyataan.

Pertanyaan yang kini mengemuka sederhana tetapi mendasar: apakah Indonesia siap menata ulang posisinya agar tidak sekadar hadir dalam percaturan global, melainkan benar-benar menentukan arah? Tanpa kejelasan sikap dan strategi, efek domino konflik ini bukan hanya mengguncang harga minyak, tetapi juga menguji kredibilitas diplomasi Indonesia sendiri.

(imk/imk)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads