Kemunculan fenomena quiet ambition di kalangan pekerja muda yang didominasi Gen Z merupakan isu yang menarik untuk ditelisik. Pasalnya, generasi muda menempati porsi yang besar dalam keseluruhan angkatan kerja produktif di Indonesia.
Jika pada era sebelumnya dikenal tren hustle culture yang menjadi budaya kerja yang diagungkan oleh sebagian besar orang sebagai simbol kesuksesan, ambisi dan dedikasi; dewasa ini tren tersebut mulai ditinggalkan new entrants (pendatang baru) dunia kerja.
Dengan kata lain, terjadi pergeseran 180 derajat sikap di kalangan pekerja muda dari menganut budaya bekerja melebihi kapasitas dan kemampuan seseorang, ke arah quiet ambition.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski ketika terdengar sepintas seperti terdapat kemiripan, quiet ambition memiliki arti yang berbeda dari quiet quitting. Adapun yang dimaksud quiet quitting adalah sikap bekerja yang berprinsip "melaksanakan tugas secukupnya." Quiet quitters dapat terlihat pada pegawai yang dalam menjalankan pekerjaannya bersikap sebatas menggugurkan kewajiban.
Perilaku kerja mereka pasif, hanya menyelesaikan deskripsi tugas esensial yang diwajibkan kepadanya, tanpa mengambil inisiatif extra miles. Meskipun tidak serta-merta berarti melanggar aturan, para pegawai dengan karakteristik ini tidak memberikan kontribusi optimal bagi organisasi. Daya juang yang mereka miliki tidak didedikasikan bagi upaya memberi kontribusi lebih besar terhadap pekerjaan yang mereka jalani.
Sementara itu quiet ambition menurut Yikilmaz (2023) dapat diartikan sebagai sikap kerja pegawai yang berfokus tidak hanya pada pencapaian tujuan organisasi, tapi juga berfokus pada pencapaian tujuan personal, well-being dan impian mereka.
Pegawai quiet ambitionists cenderung untuk tidak secara eksplisit mengekspresikan ambisi dan mengejar jabatan dalam organisasi mereka bekerja. Mereka tetap mempunyai semangat terpendam untuk mencapai suatu tujuan; namun tanpa keinginan untuk membuka kartu mereka.
Dengan demikian, perbedaan signifikan antara kedua konsep ini (quiet quitting dan quiet ambition) terletak pada ada atau tidaknya keinginan pegawai tersebut untuk bertumbuh dan berkontribusi lebih pada tempatnya bekerja. Jika ya, maka pegawai tersebut merupakan quiet ambitionist; namun jika tidak maka pegawai tersebut cenderung mengalami apa yang disebut quiet quitting.
Sebagaimana disinggung sebelumnya, kalangan quiet ambitionists lebih berfokus pada pertumbuhan pribadi, tanpa harus berkompetisi dengan pihak lain menggunakan standar yang ditetapkan organisasi tempat mereka bekerja.
Forbes Oktober 2023 mengulas mengenai studi yang dilakukan oleh Visier, perusahaan di bidang analisis sumber daya manusia (SDM), terhadap 1.000 pekerja di Amerika Serikat. Hasil dari studi tersebut mengungkapkan bahwa hanya 38% pekerja yang tertarik untuk menjadi pimpinan di organisasi tempat mereka bekerja, sementara 62% lainnya memilih untuk tetap bekerja dengan status karyawan tanpa memikul tanggung jawab manajerial.
Kecenderungan tersebut merefleksikan suatu realita yang perlu dihadapi dunia kerja, termasuk di sektor publik, bahwa sebagian pegawai memiliki tujuan yang berbeda satu-sama lain. Dengan semakin banyak porsi pegawai yang memilih untuk mendefinisikan kesuksesan secara lebih personal, organisasi tempat mereka bekerja akan terpengaruh oleh motivasi-motivasi yang dimiliki pegawainya.
Hal ini tidak terbatas pada keberhasilan menduduki suatu posisi jabatan tertentu, melainkan kepuasan yang dimaknai secara subjektif oleh para pegawai.
Dalam dunia keilmuan manajemen sumber daya manusia, fenomena quiet ambition dapat dijelaskan antara lain menggunakan Self Determination Theory (SDT) yang dikembangkan Deci dan Ryan (1985). Dalam teori tersebut, Deci dan Ryan mengemukakan bahwa individu pekerja memiliki motivasi intrinsik apabila kebutuhan psikologisnya terpenuhi.
Tiga kebutuhan psikologis dasar universal tersebut adalah (1) otonomi, yang artinya bahwa tiap orang memiliki kendali atas pilihan dan tindakannya sendiri; (2) kompetensi, keinginan untuk merasa mampu, terampil dan berhasil menghadapi tantangan profesional; dan (3) keterhubungan, kebutuhan untuk merasa pekerjaannya bermakna dan berdampak.
Dalam kerangka SDT ini, ambisi seorang pegawai tidaklah hilang ataupun diukur berdasarkan status, melainkan bertransformasi menjadi ambisi berbasis keinginan meningkatkan kapasitas personal demi kepuasan internal.
Kendati demikian, dalam konteks birokrasi dan sektor publik, motivasi intrinsik saja masih belum cukup untuk mempelajari dan membangun orientasi pegawai. Celah ini kemudian dilengkapi dan diisi oleh Public Service Motivation (PSM) yang memberikan dimensi baru dalam pembahasan mengenai kepuasan layanan publik.
Perry & Wise (1990) mengemukakan bahwa PSM menjelaskan tentang individu yang bekerja di sektor publik disebabkan terdorong nilai-nilai pelayanan seperti komitmen sebagai warga negara (civic duty), komitmen terhadap kepentingan publik (commitmen to public interest), empati (compassion) dan mengorbankan kepentingan pribadi demi kepentingan publik (self-sacrifice). Bagi pegawai yang memiliki PSM tinggi, pekerjaan adalah bentuk tanggung jawab moral, bukan sekedar instrumen untuk mencari nafkah atau jabatan.
Ketika SDT dan PSM bertemu dalam individu seorang pekerja, ambisi pegawai berubah haluan bukan hanya sekedar mengejar jabatan, namun mengejar kompetensi dan dampak bagi publik. Pegawai tetap ingin mengembangkan kompetensi, namun berakar pada motivasi intrinsik dan komitmen untuk memberikan pelayanan publik yang prima, bukan hanya untuk kebutuhan pencitraan.
Quiet Ambition Dalam Dunia ASN
Dalam konteks ASN, quiet ambition bagaikan pedang bermata dua. Di satu sisi, fenomena ini bisa menciptakan potensi kekuatan apabila dikelola dengan baik. Pimpinan dalam organisasi perlu melihat bahwa quiet ambition bisa meredam dinamika politik jabatan karena pegawai berfokus pada kualitas kerja.
Keuntungan lain dari fenomena ini juga menciptakan semakin tingginya tingkat resiliensi organisasi terhadap budaya transaksional. Oleh karena itu karakteristik quiet ambition cenderung lebih cocok untuk berkembang pada jabatan fungsional berbasis keahlian yang selaras dengan penguatan profesionalisme teknokratik dibanding orientasi struktural.
Di sisi lain, fenomena quiet ambition dapat menimbulkan potensi negatif apabila diabaikan oleh pimpinan organisasi. Hal ini bisa menimbulkan tantangan organisasi untuk mengidentifikasi pegawai yang memiliki motivasi untuk meningkatkan jenjang karir karena ambisi tidak ditampilkan secara eksplisit.
Konsekuensinya, pegawai-pegawai dianggap kurang potensial untuk menjadi pimpinan dan sering kali ambisi yang tidak ditampakkan (diam) dianggap pasif.
Untuk mengelola pegawai yang mengalami fenomena ini, pimpinan perlu untuk mengubah cara membaca potensi. Organisasi perlu mengumpulkan talenta-talenta terbaik karena tidak semua calon pemimpin akan menunjukkan ambisinya secara eksplisit.
Selain itu, perlu untuk menggeser indikator dari pegawai yang paling terlihat menjadi pegawai yang paling berdampak dan mendesain ulang dan menguatkan jalur karier jabatan fungsional agar pegawai dapat tetap memberikan kontribusi nyata pada public value.
Di tengah birokrasi yang masih sering menggunakan jabatan sebagai indikator kesuksesan, sudah saatnya quiet ambition menjadi pengingat bahwa ambisi tidak selalu terdengar riuh dan gema. Terdapat juga pegawai yang memilih untuk mengembangkan kompetensi, menjaga integritas dan bekerja dalam sunyi demi menyajikan kualitas pelayanan publik yang prima tanpa distorsi dan noise.
Tantangan sesungguhnya bagi birokrasi tidak hanya pada adanya ambisi generasi baru, namun pada kesiapan sistem untuk mengenali dan memberi ruang bagi talenta yang berorientasi pada kontribusi. Jika birokrasi mampu memberikan penghargaan lebih terhadap kualitas dibandingkan posisi jabatan, maka quiet ambition dapat menjadi energi positif dan akan menjadi fondasi yang kuat terhadap profesionalisme ASN di masa mendatang.
Eliza Deis Widoputri. ASN dan Mahasiswa Magister Universitas Indonesia.
Simak juga Video: Said Iqbal: Upah Pekerja Kantoran Jakarta Kalah dari Buruh Pabrik Plastik Bekasi











































