Sengkarut KPK, Dajjal & Durna
Catatan:
Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Jakarta - Irawad Joesoef diamankan petugas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Ia tertangkap tangan saat menerima uang. Buntut penangkapan itu jadi bias. Pihak KPK tetap memprosesnya, tapi Irawady menuding, ada konspirasi di lembaganya, Komisi Yudisial (KY). Ia merasa dijebak.Dalam minggu-minggu ini, pihak Irawady berjanji, akan membuka borok di lembaganya. Carut-marut perilaku yang menyimpang bakal digeber ke publik. Kalau itu masuk kategori non-prosedural, rasanya, bukan hanya Irawady yang akan masuk bui, tapi mungkin banyak lagi. Siapa yang benar dan salah, hukum telah menunggu untuk menjeratnya. Tapi dari sisi spiritualitas, terdapat benang merah di tiap persoalan hukum yang selama ini membawa para pejabat negara memiliki tiga rumah, yaitu rumah pribadi, rumah dinas, dan rumah tahanan. Dan itu adalah fitnah. Fitnah yang berujut dusta amanah para pejabat itu saat korupsi. serta kebohongan apologis ketika tersandung masalah.Omong-omong soal fitnah, di bulan ramadhan ini, mengingatkan riwayat Dajjal si tuhan dusta. Fitnah itu sangat kejam. Ia digolongkan lebih kejam dibanding pembunuhan. Beberapa kaum dari nabi-nabi sebelumnya telah merasakan betapa terkutuknya perbuatan penjungkirbalikan fakta itu. Dan nabi akhir jaman, Muhammad SAW juga mengingatkan kaumnya untuk sangat berhati-hati dengan ulah Dajjal itu.Dajjal memang manusia istimewa. Ia terselamatkan ketika masih bayi di negeri yang 'terkubur'. Malaikat Jibril diutus Allah untuk membawanya ke Pulau Hijau yang terletak di laut Yaman, dan melalui binatang yang menjaganya, Dajjal dikenalkan dengan hukum Tuhan. Dajjal yang cacat phisik itu mengingkarinya. Ia hidup merusak tatanan sampai menjelang kiamat tiba. Keberingasan fitnahnya hanya mampu ditandingi manusia istimewa, Imam Mahdi. Dan kelak hanya bisa dimusnahkan manusia spesial, yaitu Nabi Isa yang turun ke dunia kali kedua.Dajjal diyakini sudah bergentayangan. Tiga tanda, salahsatunya wafatnya Nabi Muhammad, telah mencairkan rantai yang membelenggunya. Raja pendusta yang mengaku tuhan itu bebas berkeliaran ke seantero dunia. Dia memasuki tiap komunitas. Dengan intrik dan fitnah keributan ditebar dimana-mana. Dan itu pula yang diasumsikan sebagai radiks tiap kekisruhan yang terjadi di jagat raya. Manusia yang sejak kehamilannya selalu mendatangkan kesialan bagi orangtua dan lingkungannya itu sudah hidup pra Nabi Musa. Ia terlibat penyesatan kaum. Samiri, membawa kesesatan melalui patung lembu betina. Para penafsir menyebut, Dajjal juga menjadi bagian dari laknat Allah yang ditimpakan terhadap kaum Nabi Nuh alaihissalam, serta berbagai tindakan destruktif di millennium tiga sekarang ini.Dalam terminologi kekinian, Dajjal bukanlah sekonvensional asumsi kebanyakan. Manusia ini punya power wadag dan metafisis. Fitnah tidak sekadar ditularkan melalui mulutnya langsung, namun juga lewat aura gaibnya. Aura ini menstimulasi manusia hedonis berbuat jahat, menebar dusta, merancang fitnah, demi memuaskan nafsu pribadinya. Jika anggapan yang menyebut sasaran operasional Dajjal saat ini di benua Asia memang benar, maka bisa jadi, banyaknya pejabat dan wakil rakyat Indonesia yang korupsi adalah vibrasi dari kehadiran manusia laknat itu. Setan pasukan Dajjal tak mampu ditangkal manusia lemah iman. Naudzubillah !Setelah banyak pejabat masuk penjara, sekarang kita sedang menunggu, seberapa banyak lagi aparat negeri ini yang 'bermulut dewa' tapi kelakuannya mirip Durna atau minimal Sengkuni terjerat. Soalnya tutur kata dua tokoh wayang itu manis dan mempesona. Sayang itu digunakan untuk menebar fitnah, cocok sebagai gambaran Dajjal di jaman ini.Keterangan Penulis:Djoko Su'ud Sukahar, pemerhati budaya, tinggal di Jakarta. Alamat e-mail jok5000@yahoo.com
(/)











































