Kisah Monyet Punch, Realitas Kehidupan Manusia
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Kolom

Kisah Monyet Punch, Realitas Kehidupan Manusia

Selasa, 24 Feb 2026 15:15 WIB
Ardi Winangun
Ardi Winangun Direktur Literasi Politik Indonesia dan Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Politik Universitas Paramadina
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
A baby Japanese macaque named Punch touches a stuffed orangutan at Ichikawa City Zoo, in Ichikawa, Chiba Prefecture, Japan, February 19, 2026. REUTERS/Kim Kyung-Hoon
Foto: Punch, Bayi Monyet yang Viral Gegara Boneka Orangutan (REUTERS/Kim Kyung-Hoon)
Jakarta -

Di tengah tidak menentunya hubungan panas antara Amerika Serikat dan Iran serta pro-kontra berdirinya Board of Peace dan bea tarif perdagangan Amerika, dunia diharubirukan oleh kisah Punch. Punch seorang bayi monyet dari spesies macaca fuscata yang menghuni salah satu kandang di Kebun Binatang Ichikawa, Jepang, menimbulkan empati orang dari berbagai negara padanya. Bahkan di berbagai media sosial dalam beragam bahasa, banyak netter menangis melihat kehidupan Punch.

Orang-orang dibuat empati dan nangis untuk Punch karena nasibnya seperti dialami oleh manusia. Sebagai anak monyet yang masih kecil, ia ditolak tidak hanya oleh induknya, ibunya, namun oleh monyet-monyet lainnya. Dalam salah satu rekaman video yang beredar, Punch malah mendapat tindakan kekerasan oleh salah satu monyet besar dan dikucilkan oleh monyet-monyet yang lain.

Dalam kesendirian dan hidup dalam lingkungan yang mempersekusi dirinya, Punch hidup dengan boneka orangutan. Pada boneka itulah ia seolah-olah berlindung, mencurahkan masalah yang dihadapi, serta menjadikannya sebagai induk yang memeluk dan memberi kehangatan padanya. Hanya pada boneka itulah Punch merasakan dirinya masih berarti dan menggantungkan harapan. Boneka itu oleh Punch dibawa ke mana-mana selama dirinya masih belum diterima oleh gerombolan monyet di kebun binatang itu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Apa yang dialami oleh Punch sama dengan banyak kisah anak manusia baik dalam cerita dongeng maupun realitas tentang ketidakadilan kehidupan. Sebagai anak yang dilahirkan di dunia, di antara anak-anak ada yang kerap mendapat perlakukan yang tidak semestinya. Berawal dari ibunya meninggal dunia atau ketidakmampuan ekonomi serta ketidakpedulian pada seorang anak, membuat anak itu kisahnya menjadi terlunta-lunta.

Tidak hanya tak mendapat kasih saya dari seorang ibu namun juga mendapat kekerasan dari orang lain. Akibat yang demikian membuat masa depan anak bisa menjadi suram, tidak mendapat pendidikan dan kehidupan lain yang layak. Bila ini tidak tertangani maka keberlanjutan suatu masyarakat dan bangsa akan mencemaskan.

ADVERTISEMENT

Kisah Punch itu menggugah banyak orang. Mereka tersadar bisa jadi selama ini kurang memberi kasih sayang pada anak sendiri maupun anak-anak yang lain. Manusia selama ini tidak sadar dirinya kerap tidak memberi perhatian selayaknya pada anak dan orang lain bahkan melakukan kekerasan serta melakukan sikap yang tidak adil dan diskriminasi.

Monyet lain tidak menerima Punch bisa jadi ia dianggap monyet kecil, anak baru. Sebagai monyet baru, bisa jadi ia belum diakui sebagai anggota gerombolan atau kawanan monyet yang memiliki struktur kehidupan sosial dan kekuasaan. Untuk menjadi bagian dari gerombolan maka Punch harus menjalani kehidupan yang sulit, mendapat perlakuan diskriminasi dan kekerasan yang membuat dirinya terkucil dan menyendiri sehingga ia pun memilih berteman dengan sesuatu yang bukan dari komunitas atau kehidupannya, boneka atau pawang (manusia). Rantai kehidupan inilah yang mungkin harus dilalui oleh Punch.

Dalam kehidupan, proses kehidupan yang dialami Punch itu nyata adanya. Untuk masuk dalam kehidupan nyata, seseorang kerap harus melalui proses kehidupan yang sulit dan rumit. Berbagai aturan baik secara alamiah maupun dibuat oleh manusia penuh dengan hal-hal yang sifatnya tidak adil, diskriminasi, dan hanya memberi ruang bagi yang kuat. Seseorang yang ingin diterima dalam suatu komunitas atau kehidupan dengan identitas tertentu, harus merasakan aturan-aturan seperti yang dialami Punch di dalam kandang monyet itu.

Tata perilaku yang demikian membuat rantai kehidupan menjadi sesuatu yang mengerikan seperti yang dialami oleh Punch, yakni ditolak, dibanting, didorong, digigit, dicakar, dan dikejar-kejar oleh monyet besar bahkan oleh monyet yang seharusnya melindunginya. Tak hanya secara fisik ia menderita namun secara sosial juga dikucilkan.

Sebagai manusia, di antara kita ada yang mendapat perlakukan yang demikian. Bagaimana susahnya untuk menjadi bagian dari kehidupan. Harus ada syarat-syarat yang dibayar yang dinilainya tidak hanya diukur dengan uang namun dengan harga diri dan kehormatan. Tradisi yang demikian membuat rantai kehidupan tak pernah lepas dari intrik-intrik. Untuk diterima dalam kehidupan dan berkuasa, ia harus menjalani proses yang pahit dan derita. Ketika sudah mendapat kuasa, ia menciptakan proses yang serupa.

Bila pada kehidupan monyet hal demikian suatu perilaku yang sifatnya alamiah dan naluri dasar makhluk hidup namun bila terjadi pada manusia hal demikian perlu dipertanyakan sebab manusia merupakan makhluk yang bisa berpikir dan beradab. Namun manusia sepertinya lebih cenderung memilih proses pada naluri dasar demi dapat pengakuan dan mendapat kekuasaan. Menurut filsuf yang hidup pada Abad XVII, Thomas Hobbes, secara alamiah manusia akan saling memerangi manusia lainnya. Manusia akan menjadi serigala bagi manusia yang lain (homo homini lupus).

Dari ungkapan Hobbes ini manusia akan cenderung berkonflik atau saling memangsa antar mereka. Jadi proses kehidupan manusia sama seperti proses kehidupan monyet, Punch, saling serang, untuk bisa diterima menjadi bagian darinya.

Ardi Winangun. Direktur Literasi Politik Indonesia dan Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Politik Universitas Paramadina.

Tonton juga video "Momen Damkar Evakuasi Monyet Liar yang Naik Mimbar Masjid di Jaktim"

(rdp/imk)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads