Wahyu Cakraningrat dalam Tradisi Raja Majapahit
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Wahyu Cakraningrat dalam Tradisi Raja Majapahit

Minggu, 22 Feb 2026 14:34 WIB
AM Hendropriyono
Abdullah Makhmud Hendropriyono
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Eks Kepala BIN AM Hendropriyono
Foto: dok. istimewa
Jakarta -

Dalam kosmologi Jawa-Majapahit, seorang raja bukan sekadar penguasa politik, tetapi merupakan poros kosmis (Axis Mundi), yaitu penghubung langit, bumi dan manusia. Karena itu seorang Raja adalah sah jika memiliki wahyu kekuasaan, berupa tanda bahwa alam semesta mengizinkan dia untuk memimpin.

Pada Kerajaan Majapahit, legitimasi Raja bertumpu pada 3 unsur:

1. Keturunan (Wangsa).
2. Kesaktian (Daya Spiritual).
3. Wahyu Cakraningrat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tanpa Wahyu Cakraningrat (restu kosmis), Raja dianggap hanya penguasa duniawi, bukan Raja yang sejati.

Raden Wijaya sebagai Pemilik Wahyu Cakraningrat

ADVERTISEMENT

Dalam babad dan tradisi Jawa, dihikayatkan bahwa Raden Wijaya selamat dari kehancuran kerajaan Singhasari. Setelah ia mampu menaklukkan tentara agressor Mongol pada sekitar bulan Maret-April 1293, kemudian mendirikan kerajaan baru yang dinamakan Majapahit pada tanggal 12 November 1293.

Narasi Jawa menafsirkan bahwa keberhasilan yang mustahil itu adalah bukti wahyu yang turun. Artinya, Majapahit lahir karena wahyu berpindah dari Singhasari ke Raden Wijaya.

Ini konsep penting dalam filsafat sejarah Jawa: Kekuasaan berpindah bukan karena perang, tetapi karena pindahnya wahyu yang turun ke bumi.

Konsep Perpindahan Wahyu (Pindahing Wahyu)

Dalam ajaran Jawa, wahyu tidak bersifat permanen. Ia berpindah jika Raja tidak adil dan kerajaan rusak secara moral. Zaman berubah dan pusat peradaban akan selalu bergeser.

Contoh historis-mitologis adalah Medang bergeser ke Kediri, Kediri bergeser ke Singhasari, Singhasari bergeser ke Majapahit dan Majapahit bergeser ke Mataram. Hal inilah yang disebut sebagai sirkulasi wahyu kekuasaan Jawa.

Relevansi terhadap Kraton Majapahit Jakarta

Dalam perspektif budaya-filosofis Nusantara, pendirian Kraton Majapahit Jakarta dapat dibaca melalui kerangka wahyu sebagai berikut:

1. Wahyu tidak selalu turun pada wilayah lama. Dalam kosmologi Jawa dipahami bahwa pusat wahyu mengikuti pusat peradaban. Dulu Jawa Timur merupakan pusat, kini Mataram yang merupakan pusatnya. Kelak Jakarta akan merupakan pusat Nusantara modern.

2. Secara simbolik dapat direnungkan: Jika Majapahit adalah simbol persatuan Nusantara dan Jakarta adalah pusat negara Nusantara modern, maka narasi budaya dapat menafsirkan dengan jelas bahwa Wahyu Majapahit secara simbolik "kembali" di Jakarta.

Wahyu sebagai Legitimasi Budaya (bukan Politik)

Penting untuk dipahami bahwa dalam konteks era modern, wahyu tidak berarti kekuasaan negara tetapi suatu legitimasi budaya, legitimasi peradaban dan legitimasi simbolik Nusantara. Contohnya adalah Kaisar Jepang, yang merupakan simbol budaya dan Raja Inggris yang merupakan simbol sejarah.
Maka Kraton Majapahit Jakarta merupakan simbol kesinambungan Majapahit.

Wahyu Cakraningrat dalam Kepemimpinan Nusantara Modern

Dalam filsafat Jawa, pemimpin yang menerima wahyu memiliki ciri menyatukan, melindungi, berlaku adil dan berwibawa secara alami. Tidak mencari kekuasaan, tetapi dipanggil oleh zaman. Hal tersebut selaras dengan kepemimpinan budaya, kepemimpinan moral dan kepemimpinan peradaban.

Rumusan Filosofis untuk Kraton Majapahit Jakarta

Berikut formulasi konseptual yang resmi: "Wahyu Cakraningrat bukan sekadar hak darah, melainkan mandat peradaban. Ia turun kepada mereka yang bertekad mempersatukan Nusantara dalam jiwa Majapahit yang hidup kembali."

Interpretasi Sejarah-Budaya

Dalam narasi Nusantara modern dapat dirumuskan, bahwa Majapahit merupakan simbol persatuan pertama Nusantara dan Indonesia adalah realisasi politiknya. Adapun Kraton Majapahit Jakarta merupakan simbol budaya kelanjutannya. Dengan demikian maka Indonesia adalah Majapahit modern dan Kraton Majapahit Jakarta adalah ekspresi budayanya.

Dibuat di: Istanbul Turki.
Pada: 1 Ramadhan 1447 H / 19 Februari 2026.

Abdullah Makhmud Hendropriyono

Lihat juga Video: Di Balik Sejarah Gerbang Majapahit Pati 1479

(idn/idn)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads