Ramadan dan Ekoteologi Ruwahan
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Kolom

Ramadan dan Ekoteologi Ruwahan

Rabu, 18 Feb 2026 08:55 WIB
MUHAMAD JALIL
Dr. Muhamad Jalil, M.Pd. Dosen Tadris Biologi Universitas Islam Negeri Sunan Kudus
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Islam Moon Sky Night Isra miraj Namaz Sunset City Bokeh Background
Foto: Ilustrasi Ramadan (Getty Images/wing-wing)
Jakarta -

Ramadan 1447 H tinggal menghitung hari. Di kalender, kita mungkin sibuk menandai kapan sidang Isbat digelar. Namun di akar rumput, masyarakat Jawa sudah lebih dulu menyalakan "radar" spiritual mereka lewat sebuah tradisi yang sudah eksis selama lima abad: ruwahan.

Warisan Walisongo ini biasanya identik dengan nyadran, bersih-bersih makam, hingga makan besar sebagai simbol syukur. Tapi, jika kita mau sedikit "ngulik" lebih dalam, Ruwahan sebenarnya adalah sebuah praktik ekoteologi yang sangat keren dan relevan dengan krisis bumi hari ini.

Apa itu ekoteologi? Mengutip penjelasan dari Balai Diklat Keagamaan (BDK) Surabaya, sederhananya ekoteologi adalah cara kita menyelesaikan masalah lingkungan dengan pendekatan agama. Ini bukan sekadar teori di atas kertas.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di balik kesibukan warga masyarakat menyapu kuburan atau resik-resik surau dan masjid menjelang puasa, ada pesan moral yang tajam: kesucian jiwa tidak akan pernah "sampai" ke hadapan Sang Khalik jika kita membiarkan bumi kita penuh dengan sampah.

Di sinilah letak gap atau celah yang sering terjadi dalam kesalehan kita sehari-hari. Banyak dari kita yang sangat rajin ibadah ritual, tapi abai pada isu lingkungan. Hal ini menandakan bahwa sebagian orang lebih sibuk dengan kesalehan pribadi dibanding dengan kesalehan sosial.

ADVERTISEMENT

Seolah-olah membuang sampah sembarangan tidak ada urusannya dengan pahala. Nah, Ruwahan hadir untuk menjahit kembali hubungan yang robek antara manusia, Tuhan, dan alam.

Bukan Ruwahan Biasa, Tapi Restorasi Bumi

Istilah "Ruwat" dalam Ruwahan sering kali disalahartikan sebagai sesuatu yang mistis. Padahal, jika merujuk pada studi Riyandi & Mulyati (2023) dalam jurnal Bina Gogik, esensi dari ruwat adalah pembebasan atau penyucian.

Jika dulu orang meruwat diri agar lepas dari nasib buruk, hari ini kita bisa memaknainya sebagai upaya meruwat bumi agar lepas dari kerusakan.

Kegiatan bersih-bersih masjid, kuburan, atau padusan (mandi besar) sebelum Ramadan sebenarnya adalah bentuk "pertobatan ekologis". Kita menyadari bahwa selama setahun ini, mungkin kita sudah terlalu banyak mengotori alam.

Jurnal tersebut mencatat bahwa ketergantungan manusia pada hasil alam yang sering disimbolkan dalam sesaji adalah pengingat bahwa kita adalah bagian dari ekosistem, bukan penguasa yang berhak merusaknya.

Pesan ekoteologinya sangat jelas: sayangilah apa yang ada di muka bumi, maka kasih sayang Tuhan akan tercurah kepada kita. Jadi, kalau ingin doa kita di bulan Ramadan "tembus" ke langit, bereskan dulu urusan kebersihan di bumi.

Menjadikan Bumi Sebagai Sajadah yang Luas

Ada filosofi menarik yang belakangan digaungkan oleh oleh Prof. Nasaruddin Umar selaku Menteri Agama RI: bahwa bumi adalah masjid yang sangat luas. Artinya, di mana pun kita berpijak, itu adalah tempat sujud.

Maka, merawat kebersihan lingkungan lewat tradisi Ruwahan bukan lagi sekadar urusan kebersihan fisik, tapi bagian dari menjaga kehormatan tempat ibadah kita.

Lihatlah betapa organiknya pendidikan karakter dalam tradisi ini. Di Grobogan, ada ritual mencukur rambut anak sebelum puasa sebagai simbol membuang penyakit. Di Jogja, warga berbondong-bondong ke sumber air.

Menurut Azwar (2008), ini adalah bentuk interaksi positif terhadap alam. Ruwahan menutup celah antara "teori sekolah" yang membosankan tentang lingkungan dengan "aksi nyata" yang penuh kegembiraan.

Pada akhirnya, ruwahan mengajarkan kita bahwa kesalehan sejati itu harus hijau. Kita tidak hanya diajak menahan lapar dan dahaga, tapi juga menahan diri dari perilaku merusak lingkungan. Ramadan tahun ini adalah momentum emas untuk menjadi orang yang lebih peduli pada kebersihan diri dan lingkungan alam.

Mari kita masuki bulan suci tidak hanya dengan hati yang putih, tapi juga dengan lingkungan yang asri. Sebab, ibadah akan terasa jauh lebih nikmat saat kita sujud di atas bumi yang bersih, hijau, dan selaras. Selamat menyambut Ramadan dengan hari hijau dan semangat merawat semesta.

Muhamad Jalil. Dosen Tadris Biologi Universitas Islam Negeri Sunan Kudus.

(rdp/imk)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads