Melawan Stigma, Senarai Kisah Gen Z soal Pelabelan Generasi
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Kolom

Melawan Stigma, Senarai Kisah Gen Z soal Pelabelan Generasi

Jumat, 13 Feb 2026 10:27 WIB
Triono Wahyu S
Jurnalis dan pegiat komunitas detikcom Bookclub.
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Ilustrasi  Alasan Kenapa Gen Z Malas Makan Siang di Kantor
Foto: Ilustrasi gen Z (Site News)
Jakarta -

Oleh banyak pakar, Gen Z kerap dinilai sebagai generasi yang "berbeda". Lebih lekat pada makna negatif. Rapuh secara mental, terlalu dekat dengan gawai dan kecanduan, hingga dicap tidak memiliki etos kerja. Label-label itu mengacu hasil riset tertentu, muncul dalam diskusi publik, seminar, hingga obrolan sehari-hari.

Jonathan Haidt, penulis asal Amerika Serikat (AS), dalam Anxious Generation yang dialihbahasakan menjadi Generasi Cemas (KPG, 2025), mengungkap data bahwa Gen Z tak baik-baik saja. Terjadi lonjakan gangguan mental pada remaja di Amerika Serikat (AS) dimulai pada tahun 2012. Gangguan mental ini terkait kecemasan dan depresi. Jumlah penderita pada remaja perempuan lebih banyak dibanding laki-laki. Namun, secara umum, persentase kenaikan dua jenis kelamin hampir sama.

Menurut panduan diagnosis psikiatri, kecemasan adalah antisipasi terhadap ancaman masa depan. Wajar dan normal sebetulnya, tapi ketika dosisnya berlebihan maka akan menjadi gangguan. Sedangkan depresi merujuk pada suasana hati tertekan: merasa sedih, kosong, putus asa. Dalam hubungan sosial, mereka merasa terasing. Lebih parah, kadang muncul niat bunuh diri atau melukai diri sendiri karena merasa penderitaannya tak berakhir.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berdasarkan riset Haidt, Gen Z merupakan pemakai smartphone dengan akses kontinyu ke media sosial dan aktivitas berbasis internet sejak masa kanak-kanak. Jutaan aplikasi ada dalam satu genggaman tangan. Keseharian, pola tidur, hingga hubungan interpersonal berubah. Mereka berkubang dalam dunia biner dan 'menjauh' dari kehidupan nyata.

ADVERTISEMENT
Cover Buku Generasi CemasCover Buku Generasi Cemas Foto: (Dok Penerbit KPG)

"Gen Z menjadi generasi pertama dalam sejarah yang menjalani pubertas dengan portal di saku baju. Portal itu memanggil mereka menjauh dari orang-orang di sekitar, membawa mereka tenggelam ke dalam alam semesta alternatif yang menarik, membikin kecanduan, tidak stabil, ...," tulis Haidt di bagian awal Generasi Cemas.

Sejatinya, kehadiran generasi baru dengan karakter berbeda sudah jadi sorotan sejak lama. Don Tapscott dalam Grown Up Digital, yang Muda yang Mengubah Dunia (Gramedia, 2013), mengistilahkan kelompok baru ini Generasi Internet. Analis asal Kanada itu mengutip kritik cendekiawan dan jurnalis, bahwa: generasi muda lebih 'bodoh' dari pada kita seusia mereka, tak punya keterampilan sosial, tidak tahu malu karena mengunggah foto pribadi semaunya, tak punya etos dalam kerja, dan olok-olok lainnya.

"Menyedihkan sekali gambaran tentang generasi ini! Dan seandainya informasi (kritik) itu akurat, masa depan kita sudah pasti suram," tulis Tapscott yang melakukan riset di 10 negara-Indonesia tak termasuk.

Apa benar Gen Z 'separah' itu?

Amerika Serikat yang diteliti Haidt dan Tapscott, tentu beda dengan Indonesia. Mulai dari budaya, konteks sosio-ekonomi, hingga infrastruktur teknologi. Meski dunia kita mengecil-dengan istilah Desa Global, Gen Z di tiap negara pasti tak sama! Bantahan simpelnya mungkin seperti itu.

Debat soal komparasi dan perbedaan konteks lokasi tentu akan panjang. Saya melihat dari sisi lain dengan melakukan 'riset amatir' berbincang secara terpisah dengan sejumlah Gen Z yang berasal dan berlatar belakang keluarga berbeda. Cerita-cerita mereka menghadirkan wajah lain: mereka adalah generasi yang tumbuh dalam arus globalisasi dan digitalisasi, tapi tetap terjaga karena keluarga, sekolah, dan nilai-nilai agama. Bukan tak ada masalah, namun juga bukan generasi yang kehilangan arah.

Ana masih ingat betul saat duduk di kelas 4 SD, sekitar tahun 2010. Ia mendapat hadiah ponsel dari orang tuanya karena berhasil meraih peringkat pertama di kelas. Kala itu BlackBerry tengah berjaya, WhatsApp belum dikenal luas. Ana diberi ponsel merek Mito dengan keypad QWERTY-cukup untuk mengirim SMS dan memutar musik.

"Tapi karena nilai kelas 5 saya anjlok, HP-nya diambil lagi," kata Ana sambil tertawa.

Ana lahir di Way Kanan, Lampung, pada 2003. Ia kemudian ikut keluarganya pindah ke Musi Rawas, Sumatera Selatan (Sumsel), sekitar 300-an kilometer dari Palembang, Ibu Kota Provinsi Sumsel. Ayahnya bekerja sebagai pedagang, sementara ibunya mengurus rumah. Kakaknya telah berkeluarga dan menetap di Lahat.

Smartphone pertama Ana bermerek Samsung, ia dapatkan saat kelas 3 SMP. Ia membuat akun media sosial-Facebook lebih dulu, disusul Instagram dan TikTok. Namun aksesnya sangat terbatas. Ana mondok di pesantren, sehingga hanya bisa online saat liburan semester atau ketika orang tuanya datang menjenguk.

"Libur semester dua minggu," katanya singkat.

Setelah menyelesaikan SMP dan SMA di pesantren, Ana melanjutkan kuliah ke UIN Prof KH Saifuddin Zuhri (Saizu) Purwokerto, Jawa Tengah, mengambil jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam. Atas saran gurunya, ia kembali memilih tinggal di pondok pesantren selama kuliah. Kini, Ana menjalani magang di perusahaan media di Palembang.

Cerita serupa datang dari Stef, Gen Z asal Jakarta Pusat yang kini magang sebagai kreator konten media sosial di Jakarta Selatan. Dia mengenal smarthone pada kelas 4 SD. "Waktu itu pegang BlackBerry," kata lulusan Binus University Jurusan Mass Communication ini.

Stef tinggal di kawasan Cempaka Putih Jakarta Pusat. Orang tuanya pengusaha. Ditinggal kerja adalah menu sehari-hari. Biasanya dia dititipkan ke nenek yang rumahnya tak jauh dari rumah orang tuanya dan menyempatkan ikut ngaji Alquran.

"Juga kadang main sama anak-anak sekitar (rumah nenek)," tuturnya.

Sementara, Dyra, Gen Z asal Yogyakarta lulusan Jurusan Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 2025 memegang BlackBerry saat kelas 5 SD. Namun baru benar-benar aktif di dunia digital saat kelas 2 SMP, ketika mulai menggunakan smartphone. Ia memiliki akun Instagram, X, dan TikTok, tetapi tak menjadikannya ruang pamer kehidupan sehari-hari.

"Hanya posting pas momen spesial saja, misalnya saat mengunjungi tempat tertentu," kata Dyra yang kini magang sebagai kreator konten media sosial di Solo.

Orang tua Dyra berprofesi sebagai pedagang. Mereka membatasi Dyra dalam memakai smartphone. Di sekolah juga seperti itu. Meski kadang nyolong-nyolong waktu, Dyra tahu batas.

"Lagian mata capek kalau terus-terusan (pakai smartphone)," ungkap cewek berambut panjang ini sembari tersenyum.

Kisah Ana, Stef, dan Dyra menunjukkan Gen Z di Indonesia-sebagaimana terjadi di belahan dunia lain, memang akrab dengan gadget atau smartphone sejak dini. Namun keterpaparan mereka terhadap teknologi ada batasnya. Dalam banyak kasus, kontrol keluarga dan lingkungan pendidikan berperan besar membentuk relasi mereka dengan dunia digital.

Ketiga Gen Z di atas juga masih menyelami kehidupan sosial. Di lingkungan sekitar dan tiap jenjang sekolah dan atau kuliah, mereka memiliki circle pertemanan dan masih menganggap penting pertemuan offline alias nongkrong. Dalam sepekan selalu bertemu, kadang sekali atau dua kali.

"Tergantung waktu luang kita aja, kan semua dah kerja sekarang," tutur Stef.

Soal stigma buruk terhadap Gen Z seperti suka mengeluh dan atau lemah secara mental, Stef dan Dyra tak sepenuhnya setuju. Keduanya merasa bisa mengatur psikis. Tak sampai ke level cemas atau depresi.

"Nggak pernah sih kalau ada masalah terus kepikiran aneh gitu (melukai diri sendiri atau bahkan bunuh diri)," ungkap Dyra.

"Karena sekarang kerja ya aku menyesuaikan. Kadang atau malah sering ada kerjaan di luar jam (kantor), weekend misalnya. Ya harus diselesaikan," kata Stef.

Menjadi bagian dari generasi apapun berarti beradaptasi dalam dunia yang terus berubah. Pre-Boomer melewati masa-masa krisis kecamuk perang, Baby Boomer melawan kesulitan pasca-perang, Generasi X menapaki pandangan dunia baru, Milenial menjadi generasi hybrid (perubahan teknologi analog ke digital), Gen Z dan generasi setelahnya menjalani 'pendewasaan' di tengah digitalisasi.

Berdasarkan data Biro Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2025, Gen Z mendominasi populasi. Jumlahnya kurang lebih 27 persen dari 286 juta jiwa. Mereka wajah peradaban saat ini. Juga jadi penentu masa depan.

Ana, Stef, dan Dyra, tentu saja, tak bisa disebut mewakili kondisi hidup dan suasana batin puluhan juta Gen Z di Indonesia. Banyak anak muda seusia mereka tak punya gadget, minim akses internet dan hidup dalam keterbatasan. Ketiganya, Ana, Stef, dan Dyra, hanya secuil dari populasi, bagian kecil generasi yang hidup di tengah stigma. Pada akhirnya, yang dibutuhkan bukanlah penghakiman atau pelabelan, melainkan kesediaan mendengar dan memahami serta berbagi pengalaman hidup lintas generasi.

Triono Wahyu S. Jurnalis dan pegiat komunitas detikcom Bookclub.

Lihat juga Video: Melawan Stigma dan Diskriminasi Disabilitas

(rdp/rdp)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads