Menurut Trump, media yang mempekerjakan jurnalis itu seharusnya malu memiliki sosok seperti dia. Apa yang disampaikan Trump itu pasti viral dan mengundang kecaman dari berbagai pihak padanya.
Meski mendapat tantangan dan rintangan yang demikian, bagi jurnalis itu bukan suatu hal yang membuat mereka tidak memburu berita pada Trump. Apapun sikapnya, jurnalis akan terus menunggu ucapan Trump baik dalam konferensi press maupun dalam kesempatan lainnya.
Sebagai presiden negara nomer satu di dunia, Trump merupakan 'news maker' yang sangat penting sehingga selalu diburu beritanya walau perilakunya kerap tak akrab dengan para awak media.
Banyak faktor yang membuat perilaku Trump demikian. Ia merupakan sosok yang memiliki ego yang kadarnya tinggi. Jangankan kepada jurnalis, kepada hukum internasional pun dirinya mengabaikan bahkan melanggarnya.
Semua norma kehidupan termasuk kepada profesi yang banyak disegani oleh politisi, jurnalis, Trump berani untuk menabraknya karena semua diukur dari norma dari dalamnya dirinya. Jadi ke depan, peristiwa yang menunjukkan tak akrab dengan para jurnalis terus terulang.
Gaya Trump yang demikian, tidak akrab dengan para jurnalis, tidak hanya menunjukkan ia seorang yang memiliki ego dengan kadar yang tinggi namun juga sosok seorang politisi yang berhaluan populisme.
Sebagai aktor populis, politisi yang menggunakan isme ini tidak hanya menyerang kelompok minoritas, immigrant, namun juga menyerang kelompok media massa. Aktor populis di negara-negara Eropa menyerang media-media besar sebagai musuh dengan berbagai label, kalau di Konoha media disebut antek asing.
Aktor populis memusuhi media massa sebab kehadirannya dirasa mengganggu ambisi dan kepentingannya. Sebagai salah satu pilar demokrasi, media massa sebagai kekuatan pengontrol dianggap mengganggu kenyamanan sehingga walau tidak diberangus, media massa akan diberi stigma dengan label-label yang buruk sehingga rakyat juga mengiyakan atas apa yang dituduhkan pada media massa.
Trump dan aktor populis tidak percaya pada media massa maka ia menggunakan menggunakan media lainnya, seperti media sosial, untuk menyuarakan segala kepentingan dan ambisinya dengan lebih leluasanya karena tidak ada kontrol dan etika. Media sosial sebagai sarana bagi Trump dan aktor populis tanpa sensor sehingga sangat disukai sebab bisa mengumbar kebencian.
Namun dalam perjalanan waktu, Trump bermusuhan dengan salah satu platform media sosial. Ia diblokir karena hasutan yang berlebihan di salah satu media sosial meski media sosial sendiri penuh dengan berbagai macan unggahan yang sifatnya menghasut, fitnah, dan berita bohong.
Sifat kaku dan ego kepada jurnalis (orang lain) membuat banyak pihak susah berkomunikasi dengan dirinya. Dalam teori komunikasi, penetrasi sosial, digambarkan bawang yang berlapis-lapis. Agar mampu menjalin komunikasi yang cair, orang harus melewati lapisan-lapisan itu, mulai dari yang dangkal hingga dalam (intim).
Nah Trump ini merupakan bawang yang tebal, jangankan berkomunikasi hingga tahap yang intim, menembus lapisan terluar saja sangat sulit, buktinya jurnalis yang diakui Trump sudah dikenalnya 10 tahun, belum mampu mencairkan hubungan dengan Trump.
Berbagai faktor yang menyelimuti Trump seperti sifat egonya yang tinggi, gaya politiknya yang berhaluan populisme, dan gaya komunikasi yang buruk, bawang tebal, membuat ia bermasalah dalam kehidupan bermasyarakat, berpolitik, dan bernegara di dalam dan di luar negeri.
Banyak skandal yang melibatkan Trump hingga dibawa ke pengadilan. Pemimpin-pemimpin Eropa sebagai sekutunya pun juga dibuat kewalahan oleh gaya-gaya yang dibawa dari diri Trump.
Hubungan yang baik dijalin antara Presiden Amerika Serikat selama ini, baik dengan media massa maupun pemimpin dunia lainnya akan kembali terjalin dengan mesra bila status presiden sudah tidak melekat pada Trump atau dirinya mampu mengubah gaya politik dan komunikasinya.
Ardi Winangun. Direktur Literasi Politik Indonesia dan Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Politik Universitas Paramadina.
Lihat juga Video 'Trump Ogah Minta Maaf Usai Posting Video Rasis Obama Jadi Kera':
(rdp/imk)











































