MBG, Gentengisasi, dan Pembelajaran Berkualitas
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Kolom

MBG, Gentengisasi, dan Pembelajaran Berkualitas

Senin, 09 Feb 2026 09:38 WIB
Deni Hadiana
Peneliti Pendidikan, Badan Riset dan Inovasi Nasional
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
MBG, Gentengisasi, dan Pembelajaran Berkualitas
Foto: Ilustrasi persiapan MBG (ANTARA FOTO/Novrian Arbi)
Jakarta -

Program makan bergizi gratis (MBG) yang mulai dijalankan di sejumlah sekolah menandai langkah penting negara dalam menyiapkan prasyarat biologis belajar murid. Asupan gizi yang diterima murid di sekolah tidak bekerja secara instan meningkatkan prestasi, melainkan berperan menjaga kestabilan energi, daya tahan fisik, dan kesiapan mental selama proses belajar berlangsung.

Ketika kebutuhan dasar tubuh terpenuhi, risiko kelelahan dini, gangguan konsentrasi akibat lapar, dan fluktuasi emosi dapat ditekan. Namun manfaat gizi ini tidak berdiri sendiri. Asupan makanan pada jam belajar juga memengaruhi kondisi fisiologis murid, termasuk kemungkinan munculnya rasa kantuk atau penurunan konsentrasi sesaat.

Karena itu, gizi menyediakan energi biologis, tetapi bagaimana energi tersebut diolah menjadi perhatian, pemahaman mendalam, dan keterlibatan belajar sangat ditentukan oleh kualitas pengalaman belajar yang menyertainya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada saat yang sama, wacana gentengisasi sebagai rencana perbaikan rumah layak huni mencerminkan kesadaran bahwa pengalaman belajar murid tidak sepenuhnya dibentuk di sekolah.

Kondisi rumah, seperti aman dari bocor, panas berlebih, kebisingan, atau gangguan lingkungan lainnya, berpengaruh langsung pada kualitas istirahat, rasa aman, dan stabilitas emosi murid sebelum dan sesudah mengikuti kegiatan belajar.

ADVERTISEMENT

Lingkungan hidup keluarga yang lebih layak membantu menciptakan ketenangan psikologis, baik bagi murid maupun orang tua, sehingga proses belajar tidak terus-menerus dibayangi kecemasan dasar terkait tempat tinggal. Dengan demikian, pemenuhan gizi dan perbaikan lingkungan hunian sama-sama menyiapkan prasyarat penting bagi kesiapan belajar murid.

Namun fondasi tersebut baru menemukan maknanya ketika berjumpa dengan pengalaman belajar yang mampu mengolah kesiapan itu menjadi proses pembelajaran yang berkualitas.

Kedua kebijakan tersebut patut diapresiasi karena menyentuh fondasi pembelajaran yang selama ini kerap berada di luar radar kebijakan pendidikan. Namun pertanyaan yang lebih mendasar perlu diajukan: ketika gizi mulai diperbaiki melalui MBG dan rumah direncanakan menjadi lebih layak melalui gentengisasi, apakah pengalaman belajar murid-murid kita ikut bergerak menuju kualitas yang lebih berkelas? Sebab kesiapan biologis dan lingkungan tidak dengan sendirinya melahirkan pembelajaran berkualitas.

Mutu pembelajaran ditentukan oleh bagaimana kesiapan tersebut diolah melalui pengalaman belajar yang terarah, menantang, dan memberi ruang bagi tumbuhnya pemahaman, keterlibatan, serta daya pikir murid secara berkelanjutan.

Di titik inilah peran guru menjadi penentu utama kualitas pembelajaran, karena itu pula, mereka paling terdampak ketika kebijakan MBG dan gentengisasi tidak diikuti penguatan pada kebutuhan dasar guru.

Ketika kebijakan berjalan tanpa penguatan pada kebutuhan dasar guru, dampak yang muncul tidak selalu kasat mata, tetapi terasa kuat dalam kehidupan psikologis mereka. Ketimpangan antara tuntutan profesional yang tinggi dan penghargaan yang terbatas dapat menggerus rasa keadilan, harga diri profesional, dan motivasi intrinsik guru.

Dalam situasi tertentu, guru menyaksikan bahwa peran pendukung program seperti logistik atau operasional dihargai lebih layak secara ekonomi dibandingkan kerja pedagogis yang menuntut kesabaran, tanggung jawab moral dan keterlibatan emosional jangka panjang. Ketegangan batin semacam ini berpotensi memicu kelelahan emosional, sinisme profesional, dan sikap bertahan sekadarnya dalam mengajar.

Dampak psikologis tersebut pada akhirnya beresonansi ke ruang belajar. Guru yang bekerja di bawah tekanan mental cenderung kehilangan ruang untuk merancang pembelajaran secara reflektif, memberi umpan balik yang bermakna, atau mendampingi murid dengan kesabaran yang dibutuhkan.

Bukan karena kurangnya kompetensi atau niat, melainkan karena energi psikis mereka habis untuk bertahan. Jika kondisi ini dibiarkan, pembelajaran berkelas yang diharapkan dari kesiapan gizi dan lingkungan berisiko tidak tercapai secara konsisten.

Sebagai jalan ke depan, pemerintah perlu memastikan bahwa kebijakan pemenuhan prasyarat belajar murid berjalan seiring dengan perlindungan martabat dan kesehatan mental guru. Penguatan pada kebutuhan dasar meliputi kepastian kesejahteraan, beban kerja yang wajar, dan pengakuan profesional, bukan isu sektoral, melainkan prasyarat sistemik bagi mutu pembelajaran.

Tanpa perhatian pada dimensi ini, kebijakan yang baik berpotensi kehilangan daya ubahnya di titik paling menentukan, yakni pengalaman belajar yang dihidupkan guru setiap hari.

Karena itu, upaya menumbuhkan pembelajaran berkelas menuntut keberanian menata ulang prioritas kebijakan agar fondasi yang telah disiapkan benar-benar terolah optimal melalui guru yang merasa dihargai, aman, dan mampu hadir sepenuhnya dalam amanah mendidik.

Pada akhirnya, MBG dan gentengisasi adalah langkah penting negara dalam menyiapkan fondasi belajar murid. Namun fondasi hanya akan bermakna ketika diolah menjadi pengalaman belajar yang berkualitas.

Di titik inilah peran guru menjadi kunci sekaligus penentu apakah kebijakan benar-benar berdaya ubah. Pembelajaran berkelas tidak tumbuh dari program yang berdiri sendiri, melainkan dari ekosistem pendidikan yang memuliakan proses belajar dan mereka yang menghidupkannya setiap hari.

Ketika guru dihargai secara manusiawi, diberi ketenangan kerja, dan didukung secara adil, fondasi yang telah disiapkan negara dapat menjelma menjadi kualitas pembelajaran yang sungguh dirasakan murid.

Deni Hadiana. Peneliti Pendidikan, Badan Riset dan Inovasi Nasional.

Lihat juga Video: Survei Indikator: 72,8% Publik Puas dengan MBG, Mayoritas Gen Z

(rdp/imk)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads