Meninggalnya Ibu Meriyati Roeslani Hoegeng di tanggal 3 Februari 2026 menjadi momen penting untuk bangsa ini mengenang betapa hidup dalam kesederhanaan dan kejujuran itu adalah hidup yang layak diperjuangkan.
Di tengah arus hedonism, konsumerisme yang menjerumuskan banyak pejabat dalam pilihan mencederai kepercayaan rakyat, kisah hidup keluarga Hoegeng dan Meri, laksana terang yang ada di atas bukit yang menerangi orang-orang yang hidup dalam kegelapan.
Hidup Meri yang mencapai usia 100 tahun seakan menjadi perpanjangan kisah suaminya, Kapolri sederhana yang hidupnya terpuji itu. Bapak Hoegeng Imam Santoso (14 Oktober 1921-14 Juli 2004), menjabat sebagai Kepala Kepolisian Negara sejak 5 Mei 1968 menggantikan Soetjipto Joedodihardjo.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nama jabatan itu kemudian berganti menjadi Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) pada tahun 1969. Hoegeng menjabat hingga 2 Oktober 1971. Menurut laporan Tempo 1 Juli 2025, Jenderal Hoegeng dicopot sebagai Kapolri pada 1971 oleh Presiden Soeharto setelah membongkar kasus penyelundupan mobil yang melibatkan pengusaha besar. Rupanya ada keterlibatan sejumlah personel tentara dan bea cukai di dalamnya.
Kasus ini membuat hubungan Hoegeng dengan presiden menjadi semakin renggang. Ia diberhentikan dari posisi Kapolri dua belas hari sebelum ulang tahunnya yang ke-50 dan diganti oleh Muhammad Hasan yang waktu itu berusia 51 tahun, dua tahun lebih tua dibandingkan Hoegeng.
Menariknya, kisah orang yang diberhentikan sebelum masa jabatannya benar-benar berakhir ini justru menjadi inspirasi bagi korps Kepolisian Republik Indonesia.
Kini, namanya diabadikan dalam Hoegeng Award, sebuah ajang penghargaan yang dipersembahkan kepada Kepolisian Republik Indonesia untuk mengapresiasi sosok polisi yang inovatif, berdedikasi, berintegritas, menjadi pelindung perempuan dan anak serta berperan di tapal batas dan pedalaman.
Tentu dalam hal ini, detikcom menjadi media yang turut serta mengangkat namanya sebagai inspirasi. Teringat ungkapan satir dari Gus Dur yang menohok di kalangan masyarakat negeri ini, "Hanya ada tiga polisi jujur di negeri ini: Polisi Tidur; Patung Polisi; dan Jenderal Hoegeng." Mungkin pernyataan ini berlebihan, tetapi menunjukkan kepada kita tentang bagaimana keutamaan seorang Hoegeng di tengah godaan yang amat besar di kalangan penegak hukum ini.
Paska pensiunnya, Jenderal Hoegeng mengalami kesulitan ekonomi karena ia tidak mampu membeli tanah dan rumah untuk tempat tinggal. Meski sempat menjadi Kapolri, ia tidak memiliki uang berlebih. Situasi menjadi rumit karena saat dia diberhentikan, semua fasilitas dinas, rumah dan mobil dinas dikembalikan kepada negara.
Ia akhirnya tinggal di rumah pinjaman dari Kapolri penggantinya di Jalan Muhammad Yamin. Beberapa Kapolda urunan untuk membelikan ia satu mobil. Untuk memenuhi kebutuhannya dan keluarga, ia menjadi pelukis, pembicara di program radio dan tampil sebagai vokalis dan pemain ukulele di grup musik Hawaiian Seniors.
Ia masih harus mengalami kesulitan karena keberaniannya untuk menjadi salah satu dari 50 penandatangan Petisi 50 pada 5 Mei 1980. Petisi itu adalah pernyataan keprihatinan terhadap cara Presiden Soeharto menggunakan Pancasila untuk menyerang lawan politiknya. Sebagai akibat, siaran radionya dihentikan tanpa penjelasan.
Acara musiknya dihentikan oleh Menteri Penerangan, Ali Moertopo karena dianggap kurang sesuai dengan 'kepribadian Indonesia' salah satunya karena membawa musik aliran barat dengan kalungan bunga.
Dukungan Istri
Adagium lama mengatakan, "di balik seorang suami yang sukses, terdapat istri yang hebat." Adagium ini layak disematkan dalam keluarga Jendral Hoegeng. Istrinya menjadi penyokong bagi kehidupannya. Salah satu dukungan yang luar biasa adalah saat Meri mengikuti saja keputusan suaminya ketika Hoegeng melarang dirinya menjadi ketua umum Bhayangkari.
Biasanya ketua umum Bhayangkari dijabat oleh seorang istri Kapolri, tetapi demi memegang prinsip tegasnya untuk memisahkan urusan keluarga dan pekerjaan, ia meminta ketua umum Bhayangkari dipilih melalui musyawarah anggota. Itulah sebabnya tidak ada foto Meri terpampang di Mabes Polri.
Tentu hal ini disertai dengan hilangnya berbagai macam privilege yang bisa dinikmati secara langsung oleh seorang Meri karena ia adalah istri seorang Kapolri. Dalam kesederhanaan inilah kita melihat bagaimana kedua pribadi ini saling mendukung, bukan untuk hidup bermewah-mewahan, tetapi hidup dalam kesederhanaan demi menjaga hidup dalam kelurusan di tengah berbagai godaan.
Mungkin sikap hati mereka terungkap di dalam lagu Seperti Para Koruptor yang dipopulerkan oleh Slank, "Hidup sederhana, tak punya apa-apa tapi banyak cinta. Hidup bermewah-mewahan, punya segalanya namun sengsara, seperti para koruptor, oo, seperti para koruptor!" Hidup mereka yang sederhana rupanya penuh cinta melebihi mereka yang ingin mendapatkan cinta dan penghormatan dari harta tidak sah yang mereka dapat dari korupsi.
Dalam artikel bertanggal 13 Januari 2015, detikcom mengisahkan kemesraan sampai akhir kisah kebersamaan mereka berdua. Salah satu wasiat yang disampaikan Hoegeng sebelum meninggal di tahun 2004 adalah bahwa ia tidak mau dimakamkan di taman makam pahlawan Kalibata.
Didit, salah satu anaknya dalam peluncuran buku "Hoegeng: Polisi dan Menteri Teladan" karya Suhartono, mengulangi kata-kata bapaknya, "Kalau Heogeng dimakamkan di Taman makam pahlawan, Meri tak bisa dimakamkan di samping saya. Hoegeng ingin Meri selalu mendampingi."
Dia dimakamkan di Pemakaman Bukan Umum (TPBU) Giri Tama, Kemang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Di tanggal 4 Februari 2026, 22 tahun berselang usai meninggalnya Sang Jendral, istrinya, Meriyati Roeslani Hoegeng dimakamkan bersebelahan dengan suaminya, masih dengan kesederhanaan mereka sebagai orang besar yang tidak mabuk jabatan.
Terima kasih Jenderal Hoegeng, terima kasih Eyang Meriyati Roeslani Hoegeng. Kisah cinta dan perjuangan Anda berdua semoga menjadi mercusuar yang menunjukkan jalan pulang kepada keluarga yang penuh kedamaian saat suami dan istri saling mendukung, kepada kesahajaan yang menjaga kelanggengan keluarga, kepada kesederhanaan yang melahirkan kemesraan hingga akhir yang pantas dikenang oleh anak-cucu bahkan oleh seluruh negeri ini.
Martinus Joko Lelono. Pengajar di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
Tonton juga video "Prabowo Anugerahkan Bintang Bhayangkara Pratama ke Meri Hoegeng"
(rdp/imk)










































