Serial Netflix Unbelievable jadi studi kasus kriminologi yang menarik karena mengupas hubungan rumit antara korban kekerasan seksual, pelaku, dan sistem hukum pidana.
Film ini membuat kita melihat dengan jelas bagaimana korban pemerkosaan mendapat penyiksaan dua kali: oleh pelaku dan sistem hukum yang penuh prasangka.
Dari perspektif viktimologi, narasi ini relevan dengan kasus TPKS di Indonesia, menegaskan urgensi pendekatan empati dalam investigasi untuk meminimalkan stigma sosial dan mempercepat pemulihan korban.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Diambil dari Kisah Nyata
Unbelievable diadaptasi dari kasus nyata serial rapist di AS (2008-2011), berdasarkan artikel jurnalistik pemenang Pulitzer (2016) berjudul "An Unbelievable Story of Rape" karya T. Christian Miller dan Ken Armstrong.
Kaitlyn Dever memerankan Marie Adler, korban pemerkosaan yang dituduh berbohong oleh polisi, diperparah pemberitaan tabloid dan ketidakpercayaan ibu asuh yang memaksanya "mengarang cerita" demi menghindari stigma, sehingga memperparah viktimisasi sekunder. Marie tidak hanya ditolak polisi tapi juga attachment bonds keluarga yang rusak.
Secara kriminologis, serial ini membedah confirmation bias (Nickerson, 1998) penyidik laki-laki yang menerapkan false hypothesis: fokus inkonsistensi korban sebagai disconfirmation evidence, mengabaikan prevalensi pemerkosaan sebenarnya.
Rape myths menjadi jalan pintas berpikir yang memicu kesimpulan prematur, menghasilkan investigasi dangkal dan tuntutan palsu-contoh klasik institutional betrayal (Freyd, 2014).
Rape myths atau mitologi pemerkosaan adalah stereotip keliru seperti anggapan korban berpakaian provokatif atau harus mengingat detail sempurna. Stereotip ini sering menyalahkan korban alih-alih mengejar pelaku.
Dalam Unbelievable, pemerkosa berantai memanfaatkan mitos tersebut dengan target rentan: perempuan muda yang tinggal sendirian, serangan malam hari tanpa saksi, plus kontrol psikologis yang minimalkan perlawanan dan jejak forensik. Situasi ideal ini-didukung bias sistemik-mendukung keberlanjutan aksinya.
Relevansi dengan Kasus TPKS
Keterkaitan Unbelievable dengan kasus TPKS di Indonesia terlihat dari viktimisasi sekunder yang sama, yakni korban tidak diuntungkan sistem hukum. Meski UU TPKS revolusioner, implementasinya terhambat kurangnya UPTD PPA, pemahaman aparat yang belum merata, dan kriminalisasi balik via UU ITE yang menjadikan proses hukum berlarut, sementara korban merasa tak terlindungi.
Kasus-kasus ini mencerminkan rape myths serupa, di mana kredibilitas korban dipertanyakan alih-alih didampingi, menyebabkan pelaporan rendah dan restitusi minim.
Tak heran, hanya 12% kasus TPKS yang dilaporkan menurut Komnas Perempuan (2024). Reformasi berbasis trauma-informed policing seperti cara-cara yang ditunjukkan detektif perempuan di film ini-diperankan oleh Toni Collette dan Merritt Wever-dapat menjadi model bagi Indonesia untuk mengurangi bias patriarkal dan meningkatkan keadilan bagi korban.
Perspektif Newsmaking Criminology
Kasus Marie Adler menunjukkan bagaimana media konstruktif (artikel Pulitzer Miller & Armstrong, 2016) mengubah narasi dari "korban pembohong" menjadi simbol kegagalan sistemik polisi, melahirkan reformasi pendekatan polisi berorientasi trauma di AS.
Sebaliknya, pemberitaan tabloid awal-sesuai analisis Ferrell (1999) tentang media as cultural production-memperkuat primary definers (polisi Lynnwood) yang membingkai Marie sebagai pelaku false reporting, memperparah viktimisasi sekunder melalui media amplification yang menciptakan "budaya tuduhan palsu".
Artikel Pulitzer menjadi counter-narrative dominan, menggeser opini publik dari victim-blaming ke dukungan korban tanpa sensasionalisme. Relevan buat Indonesia, di mana kasus TPKS jarang diliput mendalam karena rape myths media masih dominan, menciptakan narasi yang merugikan korban.
Kritik newsmaking criminology menyoroti bagaimana media memilih dan membingkai berita kejahatan untuk menarik perhatian, sering merugikan korban dengan fokus eksploitasi demi click bait. Persis kritik newsmaking criminology dalam dinamika pemberitaan media terkait kejahatan. Keunggulan Unbelievable terletak pada kemampuannya mengemas pelajaran kriminologi ini menjadi narasi visual yang menarik, sebagaimana dipuji para kritikus.
The New York Times menyebut film ini "horrifying and exciting," membuat penonton merasa "appalled and satisfied" berkat narasi cerdasnya. Rolling Stone memuji "skillful storytelling and sublime acting" yang mengubah kasus pemerkosaan berantai jadi cerita kuat tanpa eksploitasi trauma.
Roger Ebert dari Chicago Sun-Times bilang, "It's a tough watch, but rewarding," karena empati jadi kunci investigasi yang sukses.
Pengakuan para kritikus menguatkan film Unbelievable bukan sekadar serial memikat, tapi pelajaran mendalam tentang empati dan investigasi teliti yang mengubah kegagalan sistem menjadi keadilan seutuhnya.
Mengutip Hannah Arendt, "kejahatan sejati bukanlah kejahatan fanatik, melainkan kejahatan yang lahir dari urusan biasa yang tak berpikir." Ini adalah panggilan bagi kita untuk menolak rape myths demi narasi yang manusiawi.
Nastiti Lestari. Peneliti Kriminologi Universitas Indonesia.
(rdp/imk)










































