Ada hari-hari ketika kota terasa kalah. Bukan oleh banjir besar, bukan oleh gempa melainkan oleh sesuatu yang kita ciptakan sendiri. Sampah yang menumpuk tiba-tiba menjadi gunung. Kita menyaksikannya di Tangerang Selatan, di Bandung, di Bekasi, di Depok, hingga Denpasar. Pada jam-jam tertentu, jalanan bukan hanya jalur kendaraan, tetapi lorong-lorong yang menyimpan bau anyir dan lelah para petugas.
Pada musim tertentu, tumpukan bukan sekadar pemandangan, ia menjadi pertanyaan mengapa rumah kita, kota kita, begitu mudah kotor; dan mengapa kita justru jadi terbiasa? Darurat sampah bukan lagi isu teknis.
Ia krisis cara hidup. Dan krisis cara hidup selalu berakar pada krisis cara memandang. Dalam pandangan tasawuf, apa yang menumpuk di luar adalah bayangan dari apa yang dibiarkan mengendap di dalam diri. Sampah adalah jejak nafsu yang tidak selesai, belanja yang berlebihan, gaya hidup yang selalu ingin lebih, kebiasaan membuang sembarang tempat yang tidak pernah merasa bersalah.
Lalu alam menjawab dengan bahasanya sendiri dalam bentuk bau busuk, penyakit, konflik, banjir, saling menyalahkan. Di sinilah darurat sampah berubah menjadi darurat batin.
Para sufi memandang semesta sebagai "masjid besar", ruang suci tempat seluruh makhluk bersujud pada Tuhannya. Mengotori lingkungan berarti mengotori ruang ibadah kolektif, mengotori napas bersama. Maka kebersihan bukan kosmetika sosial, melainkan laku spiritual. "Allah itu indah dan suci mencintai keindahan dan kesucian"; keindahan dan kesucian itu tidak tinggal di langit saja, ia semestinya turun menjadi tata kelola hidup di bumi.
Di titik ini, Green Sufisme menemukan pijaknya, bukan slogan, melainkan jalan hidup yang membumi. Tasawuf mengajarkan transformasi melalui tiga gerak batin yang terkenal: takhallī, taḥallī, tajallī.
Takhallī mengosongkan diri dari sifat kotor. Dalam konteks sampah, takhallī berarti berani memotong sumbernya: kerakusan, konsumtif, hedonisme, dan pamer. Kita perlu jujur: banyak sampah lahir dari cara hidup yang "membeli rasa bahagia", lalu membuang sisa-sisanya begitu saja.
Taḥallī mengisi diri dengan kebajikan. Ini bukan nasihat abstrak. Taḥallī menjelma kebiasaan yang sederhana namun tegas: qana'ah, kesederhanaan, disiplin, dan tanggung jawab. Mengurangi, memakai ulang, memilah, mengomposkan.
Membersihkan rumah dan lingkungan bukan pekerjaan kecil; ia zikir yang mengambil bentuk tindakan. Ada sedekah yang paling sunyi: menyingkirkan gangguan dari jalan yang dilalui orang lain, agar yang lewat tidak tersakiti.
Tajallī ketika nilai Ilahi memancar dalam hidup yang tertata. Tatkala manusia merapikan relasinya dengan benda, alam, dan sesama, rahmah Tuhan memantul dalam bentuk yang kasat mata: kota yang lebih teduh, udara yang tidak memalukan untuk dihirup, sungai yang tidak menanggung aib kita setiap hari.
Namun, Green Sufisme tidak boleh berhenti di ruang personal. Darurat sampah meminta spiritualitas "naik kelas" menjadi etika public menjadi cara negara, pemerintah kota, dunia usaha, dan masyarakat mengelola tempat pembuangan akhir (baca: sampah).
Di sinilah peran institusi menjadi penentu. Idealnya, pembuangan akhir sampah bukan tempat "menghilangkan masalah", tetapi tempat "menunaikan amanah". Jika sampah yang dibiarkan seperti pembuangan terbuka, ia hanya memindahkan luka dari rumah-rumah ke pinggiran kota lalu dari pinggiran kota ke sungai, hingga ke lingkungan warga sekitar.
Karena itu, dinas terkait perlu menata hilir dengan standar yang manusiawi, pemilahan mulai dari sumber sampah (rumah, pasar, kawasan usaha), penguatan fasilitas pemulihan material, pengolahan organik (kompos/biogas) dan pembatasan zona risiko agar warga sekitar tidak menjadi "korban tetap".
Hal terpenting adalah soal tata kelola. Sufisme mengajarkan muhasabah, audit batin. Dalam bahasa kebijakan, ini berarti audit data dan audit kinerja berapa yang masuk, berapa yang diolah, berapa residu yang benar-benar harus ditimbun. Transparansi adalah bentuk tazkiyah institusional, penyucian dari kebiasaan menutup-nutupi. Aktivis lingkungan pun memegang peran yang khas yang menjadi cermin moral kota.
Tetapi cermin terbaik bukan hanya yang memantulkan kesalahan melainkan juga yang membantu menata jalan keluar, mendampingi warga memilah, menguatkan bank sampah, mengawal kebijakan, dan menjaga agar transisi pengelolaan sampah tetap adil bagi pemulung dan pekerja lapangan yang selama ini menopang sistem dari sisi paling berat.
Dinas pendidikan, dinas kesehatan, dinas perumahan, permukiman, hingga pengelola pasar dan kawasan niaga juga tidak bisa berdiri di pinggir. Sampah adalah ekosistem masalah. Ia tidak bisa diselesaikan oleh satu meja, satu rapat, atau satu proyek. Ia menuntut kolaborasi yang konsisten dan kesabaran yang panjang.
Tasawuf selalu mengingatkan surga yang digambarkan hijau, pepohonan rindang, air jernih, udara yang menenteramkan. Gambaran itu bukan sekadar janji eskatologis. Ia visi etis. seperti itulah ruang hidup yang layak kita perjuangkan. Bila surga adalah tujuan, maka suatu keniscayaan meniru nilai-nilainya di bumi dengan menghadirkan kebersihan, keteduhan, dan keteraturan sebagai wujud rahmah.
Karena itu, seruan darurat sampah seharusnya tidak berakhir sebagai kemarahan yang cepat padam. Ia mesti berubah menjadi komitmen yang tenang namun penuh gairah. Keluarga menata konsumsi dan memilah dari rumah, sebab kota dimulai dari meja makan.
Pemerintah menata hilir dengan standar TPA yang aman, bersih, terukur, transparan sebab negara adalah penjaga amanah publik. Dunia usaha sudah seharusnya mengurangi kemasan, memikul tanggung jawabnya, dan mendukung ekonomi sirkular, sebab keuntungan tidak boleh dibayar dengan kerusakan.
Back to Green
Kembali pada hidup bersih dan sehat bukan slogan atau nostalgia, melainkan keberanian. Ketika kota memilih bersih, ketika kebiasaan warga berubah, ketika negara memimpin dengan teladan, maka tajallī itu hadir dengan bumi yang teduh, masyarakat yang damai, dan kehidupan yang bermartabat.
Darurat sampah adalah sebuah panggilan. Green Sufisme adalah salah satu jawabannya persiapan jalan pulang menuju kemanusiaan yang suci.
Bambang Irawan. Guru Besar Ilmu Tasawuf Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah.
Tonton juga video "Pramono Pastikan DKI Siap Bantu Angkut Sampah Tangsel"
(rdp/imk)