Politik Luar Negeri dengan 'Diplomasi Hati'
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Kolom

Politik Luar Negeri dengan 'Diplomasi Hati'

Kamis, 05 Feb 2026 12:31 WIB
Eko Wahyuanto
Pemerhati kebijakan publik.
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Politik Luar Negeri dengan Diplomasi Hati
Foto: Presiden Prabowo Subianto hadir dalam perkenalan anggota Board of Peace atau Dewan Perdamaian di Gaza yang dibentuk oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. (Dok YouTube AP).
Jakarta -

Presiden Prabowo Subianto tampaknya sedang memainkan orkestrasi baru kebijakan luar negerinya. Di tengah kemelut Gaza tak berkesudahan, di mana retorika sering lebih nyaring dari narasi negara, Presiden Prabowo akan menyodorkan konsep penyelesaian konflik Timur Tengah terutama Jalur Gaza, melalui lembaga bernama Board of Peace - BOP.

Bagi sebagian orang, BOP satu-satunya opsi realistis yang tersisa di atas meja perundingan internasional. Titik krusialnya: Presiden Prabowo ingin menawarkan jalan keluar yang relevan dieksekusi. Karena BOP sifatnya operasional dan taktis. Berbeda dengan PBB, sering kali terkunci hak veto dan debat prosedural berlarut-larut, BOP dirancang langsung "bekerja" di lapangan.

Pandangan Para Diplomat

Sebuah pertemuan tidak resmi digelar Presiden Prabowo bersama barisan tokoh senior bidang diplomasi luar negeri seperti Hasan Wirayuda, Dino Patti Djalal hingga Alwi Shihab dan Jusuf Wanandi. Nama - nama yang sudah kenyang makan asam garam diplomasi internasional.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Satu hal menarik dari kesaksian Dino Patti Djalal adalah rasa "surprise". Di era di mana politik sering kali penuh dengan sekat dan instruksi satu arah, Presiden Prabowo justru membuka ruang diskusi "totally open". Tidak ada batasan tanya-jawab. Ini penting. Karena urusan Palestina bukan sekadar urusan domestik atau sentimen agama semata, tetapi ujian bagi prinsip politik luar negeri bebas aktif.

Ia menangkap kesan bahwa Presiden Prabowo sosok pemimpin praktis realistis. Dalam dunia diplomasi, idealisme tanpa realisme, jalan menuju kegagalan. Dan formula Board of Peace adalah satu-satunya jalur yang tersedia. Kita tidak punya kemewahan untuk menunggu formula lain sementara hari demi hari nyawa di Gaza terus melayang.

ADVERTISEMENT

Jika BOP Melenceng?

Senada dengan kegelisahan banyak pengamat, komitmen Presiden Prabowo untuk tetap memiliki "pintu keluar" melalui inisiatif dengan hati-hati. Dengan tetap berpegang pada prinsip. Jika di tengah jalan inisiatif ini melenceng dari kepentingan nasional atau prinsip keadilan bagi Palestina, Indonesia tidak ragu untuk menarik diri kursi BOP. Inilah diplomasi bernyali, sekaligus cerdas dan visioner

Mantan Menteri Luar Negeri Hasan Wirajuda, sosok yang biasanya sangat berhati-hati dalam berpendapat, memberikan catatan kuat dan reflektif. Dia mengingatkan kita untuk tidak apriori. Kadang, kita terlalu terjebak dalam perdebatan apakah sebuah inisiatif berada di bawah payung PBB atau tidak. Padahal, kenyataan di lapangan berkata lain.

Jika bantuan kemanusiaan sudah mulai mengalir dan penderitaan rakyat Gaza sedikit demi sedikit berkurang melalui jalur ini, mengapa kita harus sibuk berdebat soal label? Hasan menegaskan bahwa inisiatif ini tidak perlu ditafsirkan secara negatif selama hasilnya nyata. Diplomasi bukan soal siapa paling suci secara prosedural, tapi siapa paling mampu meringankan beban kemanusiaan.

Suara Alwi Shihab membawa kita kembali ke akar persoalan. Di tengah segala manuver Board of Peace yang realistis ini, apakah kita melupakan janji sejarah? Jawabannya tegas: Tidak.

Presiden Prabowo, menurut Alwi, memberikan jaminan bahwa Indonesia tidak akan pernah meninggalkan perjuangan Palestina. Konsep "two-state solution" tetap menjadi "harga mati".

Penjelasan ini sangat krusial untuk menenangkan publik yang mungkin khawatir bahwa pendekatan pragmatis Presiden Prabowo akan menggeser posisi ideologis Indonesia.

Ini adalah keseimbangan yang sulit: menjadi pragmatis dalam cara, namun tetap fundamental dalam tujuan. Presiden Prabowo sedang mencoba berjalan di atas tali tipis itu. Dia ingin bantuan masuk ke negeri yang dilanda kemelut perang itu, tapi dia juga ingin kedaulatan Palestina terwujud di masa depan.

Sementara itu Jusuf Wanandi menyoroti pentingnya pencerahan ini sampai ke telinga rakyat. Keputusan-keputusan besar di luar negeri tidak boleh hanya menjadi konsumsi para elit. Rakyat harus mengerti mengapa pemerintah mengambil langkah tertentu, mengapa kita memilih jalur Board of Peace, dan apa risikonya.

Keterbukaan Presiden Prabowo kepada para tokoh senior, langkah awal baik untuk membangun konsensus nasional. Diplomasi kuat selalu didukung oleh pemahaman domestik solid.

Membangun Narasi Tunggal

Membaca pernyataan dari para tokoh senior ini, kita dapat melihat sebuah "narasi tunggal" tentang pergeseran gaya kepemimpinan internasional Indonesia, bergerak dari era "retorika diplomatik" menuju "eksekusi diplomatik". Presiden Prabowo menyadari bahwa dunia sedang tidak baik-baik saja. Di Gaza, waktu adalah komoditas paling mahal. Setiap jam yang terbuang untuk debat tanpa aksi adalah nyawa hilang.

Board of Peace mungkin bukan solusi sempurna bagi semua orang, tapi dalam kegelapan total, nyala lilin kecil jauh lebih berharga daripada janji tentang matahari, tetapi belum tentu terbit.

Ini adalah manuver politik luar negeri bebas aktif dengan model "diplomasi hati," namun tetap menggunakan logika dingin. Sebuah langkah berani dari seorang Presiden yang tahu bahwa di panggung dunia, kehormatan tidak hanya didapat dari pidato memukau, tapi juga dari keberanian mengambil tanggung jawab di saat sulit.

Indonesia sedang mencoba menjadi jembatan emas. Bukan jembatan rapuh yang roboh oleh badai "nyinyir" jauh dari logika, tanpa pijakan realitas lapangan. Selama ini komitmen terhadap kemerdekaan Palestina tidak pernah bergeser satu inci pun, maka inisiatif ini patut dikawal bersama.

Eko Wahyuanto. Pemerhati kebijakan publik.

(rdp/rdp)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads