Setahun Kepemimpinan Donald Trump: Ketidakpastian Global & Harga Emas
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Kolom

Setahun Kepemimpinan Donald Trump: Ketidakpastian Global & Harga Emas

Kamis, 29 Jan 2026 10:03 WIB
R Audi Cahya Lucky Ramadhan
Dosen Bisnis Digital di STIE Mahardhika dan mahasiswa S3 Ilmu Manajemen di Universitas Airlangga.
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Setahun Kepemimpinan Donald Trump: Ketidakpastian Global & Harga Emas
Foto: Presiden AS Donald Trump (AFP/MANDEL NGAN)
Jakarta -

Tepat pada 20 Januari 2025, Donald Trump dilantik kembali sebagai Presiden Amerika Serikat yang ke-47 dan per Januari 2026 ini menandakan satu tahun kepemimpinannya. Satu tahun pertama kepemimpinan Donald Trump menandai perubahan besar dalam lanskap ekonomi dan politik global.

Dunia yang sebelumnya relatif stabil dalam kerangka multilateralisme tiba-tiba dihadapkan pada kebijakan yang sulit diprediksi: perang dagang, retorika geopolitik yang keras, serta pelemahan komitmen Amerika Serikat terhadap berbagai perjanjian internasional. Dalam konteks ekonomi global, ketidakpastian semacam ini bukan sekadar isu politik, melainkan variabel penting yang memengaruhi perilaku pasar keuangan.

Dalam literatur ekonomi, ketidakpastian global dapat diukur secara sistematis. Salah satu indikator yang banyak digunakan akademisi adalah World Uncertainty Index (WUI), yang dikembangkan untuk menangkap frekuensi dan intensitas ketidakpastian dalam laporan ekonomi berbagai negara. Data WUI menunjukkan bahwa sejak awal era Trump, ketidakpastian global mengalami peningkatan signifikan dan cenderung bertahan dalam level tinggi, seiring munculnya berbagai kebijakan yang tidak konvensional dan sering berubah arah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Indikator tersebut ditunjukkan dengan data WUI yang normalnya berkisar pada angka 15.000 hingga 40.000 dan hanya melonjak drastis menjadi 55.000 ketika pandemi, melonjak naik dari angka 41.383,2 ketika awal Trump menjabat dan menjadi 90.758,1 di akhir Desember 2025 dengan peak 122.422,5 pada bulan September 2025. Adapun jika kita tarik kilas balik kepemimpinan AS oleh Trump di tahun 2017 - 2021, nilai WUI juga cenderung naik yang mengartikan "apakah benar Donald Trump adalah dalang dibalik ketidakpastian global?"

Pertanyaannya kemudian bukan sekadar apakah ketidakpastian global meningkat, melainkan kebijakan apa yang memicunya dan sejauh mana kepemimpinan Donald Trump berperan dalam membentuk lanskap ketidakpastian tersebut. Kebijakan ekonomi dan politik luar negeri Donald Trump pada periode awal kepemimpinannya ditandai oleh pendekatan yang tidak lazim dan sering kali menabrak praktik kebijakan sebelumnya.

ADVERTISEMENT

Agenda America First mendorong penerapan tarif impor secara agresif, peninjauan ulang perjanjian perdagangan internasional, serta tekanan terbuka terhadap mitra dagang utama Amerika Serikat, termasuk Tiongkok dan Uni Eropa. Selain itu, wacana kontroversial seperti keinginan Amerika Serikat untuk "membeli" Greenland dari Denmark menunjukkan pendekatan transaksional yang tidak umum dalam diplomasi modern.

Sikap serupa juga tercermin dalam ancaman penarikan atau renegosiasi komitmen Amerika Serikat terhadap organisasi dan perjanjian internasional, mulai dari NATO hingga kesepakatan lingkungan global. Di saat yang sama, perubahan kebijakan yang kerap diumumkan secara mendadak melalui pernyataan publik memperkuat persepsi ketidakpastian arah kebijakan. Kombinasi proteksionisme, diplomasi transaksional, dan rendahnya konsistensi kebijakan inilah yang melemahkan prediktabilitas ekonomi dunia dan menjadi salah satu pemicu meningkatnya ketidakpastian global.

Dalam kondisi ketidakpastian global yang tinggi, perilaku pelaku pasar keuangan cenderung mengalami pergeseran fundamental. Investor, baik institusional maupun ritel, menjadi lebih berhati-hati terhadap aset berisiko seperti saham dan mata uang negara berkembang, lalu mengalihkan portofolionya ke aset yang dianggap lebih aman (safe haven) (Baur & McDermott, 2016; Hlaing & Kakinaka, 2019; Hao & Li, 2025). Menurut BΔ™dowska-SΓ³jka & Kliber, 2021 dan Gao et al., 2019 secara konsisten menunjukkan bahwa lonjakan ketidakpastian global berkorelasi dengan peningkatan permintaan terhadap aset lindung nilai.

Ketika arah kebijakan ekonomi sulit diprediksi, volatilitas meningkat, dan risiko geopolitik menguat, pasar tidak lagi mengejar imbal hasil tertinggi, melainkan keamanan nilai. Dalam konteks inilah emas kembali menempati posisi strategis sebagai instrumen pelindung kekayaan global.

Kenaikan harga emas dalam beberapa tahun terakhir dapat dibaca sebagai refleksi langsung dari meningkatnya ketidakpastian global sejak era kepemimpinan Trump. Pada awal masa kepemimpinannya, harga emas masih berada di kisaran USD 2.800 per troy ounce. Namun seiring eskalasi perang dagang, ketegangan geopolitik, serta ketidakpastian arah kebijakan Amerika Serikat yang terus berulang, harga emas menunjukkan tren naik yang konsisten.

Hingga awal 2026, harga emas telah menyentuh kisaran USD 5.100, mencerminkan meningkatnya permintaan global terhadap aset aman. Lonjakan ini bukan semata-mata fenomena spekulatif, melainkan respons rasional pasar terhadap lingkungan global yang sarat risiko dan minim kepastian. Dengan demikian, emas tidak hanya berfungsi sebagai komoditas, tetapi juga sebagai indikator kepercayaan (kegelisahan) pasar terhadap arah ekonomi dan politik global. Tidak menutup kemungkinan emas akan menuju USD 6.000 jika faktor-faktor makro seperti potensi Perang Dunia III dan perang dagang yang terus berlanjut.

Bagi Indonesia, dinamika ketidakpastian global dan lonjakan harga emas membawa implikasi yang tidak sederhana. Di satu sisi, ketidakpastian global yang dipicu oleh kebijakan proteksionis dan geopolitik Amerika Serikat berpotensi menekan kinerja ekspor, arus investasi asing serta stabilitas nilai tukar rupiah. Dalam konteks ini, lonjakan harga emas dalam rupiah kerap terlihat tidak masuk akal bagi masyarakat, ketika harga emas domestik terus mencetak rekor meskipun tidak selalu disertai lonjakan permintaan fisik yang sepadan.

Fenomena tersebut pada dasarnya merupakan hasil dari dua tekanan simultan, yakni kenaikan harga emas global dalam denominasi dolar Amerika Serikat dan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar. Ketika ketidakpastian global meningkat, dolar menguat sebagai mata uang aman, sementara emas naik sebagai aset lindung nilai, sehingga harga emas dalam rupiah mengalami efek berlapis (double shock).

Akibatnya, harga emas domestik bukan hanya mencerminkan nilai intrinsik emas, tetapi juga ketegangan global dan kerentanan nilai tukar nasional. Hal ini tercerminkan dari harga emas antam per 26 Januari yang telah menyentuh Rp 2,9 juta rupiah atau hampir Rp 3 juta.

Satu tahun pertama kepemimpinan Donald Trump kembali menegaskan bahwa ketidakpastian global bukanlah fenomena alamiah, melainkan produk dari pilihan kebijakan dan gaya kepemimpinan. Data World Uncertainty Index dan lonjakan harga emas menunjukkan bagaimana pasar merespons dunia yang semakin sulit diprediksi.

Dalam konteks ini, emas menjadi cermin kegelisahan global, sementara ketidakpastian menjadi ujian nyata bagi ketahanan ekonomi setiap negara. Bagi Indonesia dan negara berkembang lainnya, pelajaran terpenting bukanlah meniru kebijakan negara besar, melainkan membangun stabilitas, kredibilitas kebijakan, dan kepercayaan jangka panjang. Pada akhirnya, di tengah dunia yang penuh guncangan, stabilitas bukan sekadar tujuan ekonomi, tetapi juga aset strategis yang paling berharga.


R Audi Cahya Lucky Ramadhan. Dosen Bisnis Digital di STIE Mahardhika dan mahasiswa S3 Ilmu Manajemen di Universitas Airlangga.

Tonton juga video "Pemerintah Targetkan Pembahasan Tarif Trump Rampung Februari 2026"

(rdp/imk)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads