Feminisme Pesantren: Membangun Tradisi Adil dari Dalam
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Kolom

Feminisme Pesantren: Membangun Tradisi Adil dari Dalam

Selasa, 27 Jan 2026 12:02 WIB
Achmad Fatturohman
Pengasuh Pesantren Suciati Saliman; Founder & Direktur Afkaruna.id; Direktur Madina Institute Indonesia
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Feminisme Pesantren: Membangun Tradisi Adil dari Dalam
Foto: Ilustrasi muslimah (Getty Images/iStockphoto/vanbeets)
Jakarta -

Tiga tahun lalu, seorang santriwati di Pesantren Suciati Saliman menanyakan hal yang menghentak, Ustadz, mengapa dalam kitab fikih yang kami pelajari, kesaksian dua perempuan disamakan dengan satu laki-laki? Apakah Allah Swt. menciptakan perempuan separuh laki-laki? Pertanyaan itu bukan tanda kelemahan iman, tetapi justru buah dari pembelajaran kritis yang selama ini kami kembangkan.

Sebagai pengasuh pesantren sekaligus pendiri Afkaruna.idβ€”penerbit karya feminis Muslimβ€”Penulis menyaksikan fenomena menarik, pesantren yang sering dituduh sebagai benteng patriarki justru bisa menjadi ruang subur bagi tumbuhnya kesadaran gender yang autentik, berakar pada tradisi, bukan pinjaman pemikiran impor.

Sejak 2022, Pesantren Suciati Saliman menerapkan membaca kitab kuning dengan kacamata kritis. Santri usia 17-23 tahun aktif menghasilkan lebih dari sepuluh karya tulis yang telah diterbitkan, satu diantaranya dalam bentuk buku. Lebih dari sepuluh kolokium Saturday Forum digelar dan 40% santri melanjutkan ke jenjang magister.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Untuk menerapkan cara pandang kritis seperti ini tidaklah mudah, terkadang ada pengajar yang khawatir bisa berbahaya karena mengubah tradisi yang sudah lama ada di pesantren. Tekanan eksternal juga mungkin terjadi karena dituduh membawa ajaran Barat. Apalagi minim sekali kitab kuning yang membahas gender secara kritis. Dilema yang paling berat adalah mengkritisi teks tanpa melupakan otoritasnya.

Pesantren Suciati Saliman dan Madina Institute Indonesia mencoba melakukan pendekatan membaca teks melalui kacamata Maqashid Syariah (tujuan pokok syariat). Setiap teks baik al-Qur'an dan Sunnah dipahami secara lebih mendalam dengan memahami konteks historis zamannya.

ADVERTISEMENT

Pesantren juga mengundang kyai pakar tafsir Tebuireng dan mengundang professor ilmu al-Qur'an UIN Sunan Kalijaga yang otoritatif dalam Saturday Forum dengan para santri. Sehingga para santri diajak berdiskusi dan terinspirasi untuk mengubah kritik menjadi karya produktif yang membangun.

Basis Teologis yang Kuat

Program pesantren bukanlah sesuatu yang baru dan tanpa rujukan melainkan meneladani konsep kesetaraan dalam QS. Al-Hujurat [49]: 13. Tradisi kritis yang sudah ada dalam tradisi pesantren, seperti bahtsul masail dan musyawarah kitab yang memungkinkan membuka ruang reinterpretasi. Pesantren melihat Maqashid Syariah yang menempatkan maslahat sebagai garda terdepan. Dan meneladani para salafus shalih perempuan yang menjadi rujukan umat seperti Ummul Mukminin Sayyidah Aisyah RA.

Sebagai pengasuh pesantren, Penulis memilih tidak langsung menolak wacana feminis Barat sekaligus tidak menerima mentah-mentah feminis modern, tetapi selalu berdialog secara kritis. Poin baik bisa diambil, hal yang tidak cocok untuk konteks Indonesia dikritisi secara proporsional.

Fikih perempuan yang dijelaskan oleh tokoh seperti Prof. Amina Wadud dipahami dengan konteks tradisi pesantren. Kritik matan Hadis oleh Fatima Mernissi terhadap teks-teks yang dianggap misoginis dan patriarki dibaca ulang dengan kitab Hadis lainnya yang membahas mustalah Hadis dan Jarh wa ta'dil. Juga teori gender Judith Butler dibaca secara kritis dengan gagasan nafs dalam ilmu tasawuf.


Menerbitkan Kanon Alternatif

Pada 2019, Penulis mendirikan Afkaruna.id, dengan menerbitkan karya-karya feminis Muslim Indonesia. Buku perdana yang diterbitkan Nalar Kritis Muslimah karya Dr. Nur Rofiah yang saat peluncuran pra pesan habis terjual 1000 eksemplar di minggu pertama. Menunjukkan minat pembaca meningkat sekitar 30% dalam dua tahun terakhir terhadap wacana feminis Islam.

Sekitar 70% penulis Afkaruna.id adalah perempuan. Walau mengalami tantangan distribusi untuk menjual buku wacana keislaman gender, karena niece yang sangat sempit. Namun, tiga buku lainnya karya Prof. Faqihuddin Abdul Qodir berhasil menjadi bestseller di dunia akademisi pesantren.

Nalar Kritis Muslimah (2020) berisi refleksi pemikiran ulama perempuan telah dibaca sekitar lima ribu pembaca. Dan telah didiskusikan di lebih tiga puluh pesantren dan menjadi bacaan di beberapa kampus dalam mata kuliah studi Islam.

Hal ini menjadi siklus produksi ilmu pengetahuan yang bergairah. Karya ini secara sirkular lahir dari tokoh yang dilahirkan pesantren, diterbitkan Afkaruna.id yang didirikan oleh alumni pesantren, dan karyanya berkontribusi kembali kepada pesantren. Daur hidup iklim intelektual yang baik tidak sekadar teori hampa di rak buku.

Mulai dari yang Kecil

Hal besar selalu dimulai dari hal sederhana yang ringan. Bagi pesantren atau lembaga pendidikan yang ingin menginisiasi program serupa bisa diawali dengan membuka diskusi kecil di kalangan terbatas. Lalu mencari guru yang memiliki pikiran terbuka, tidak harus semuanya, cukup satu atau dua orang saja sebagai penggerak. Bisa dikolaborasikan dengan pusat studi gender di kampus terdekat atau akademisi yang bisa diakses.

Setiap langkah yang dilakukan perlu didokumentasikan dalam bentuk karya catatan atau karya sederhana yang narasinya bisa dibaca dan diakses lebih banyak orang. Perlu diingat bahwa semua peradaban besar selalu dibangun oleh creative minority (minoritas yang kreatif) terus berjuang dalam kesulitan dan tidak mudah menyerah. Karena perubahan mindset tidak bisa dilakukan dalam tiga atau empat bulan, tetapi butuh tiga sampai empat tahun.

Semoga ikhtiar sederhana ini terus menggelinding menjadi bola salju, dan ditangkap oleh pemerintah melalui Kementerian Agama yang bisa memberikan dukungan pendanaan bagi program di pesantren yang ingin memajukan gerakan literasi gender. Perlu juga diadakan pelatihan untuk para pengasuh agar terus bisa mengakses wacana feminisme Islam. Pemerintah mendorong santri berkarya dengan antologi dari berbagai pesantren di Indonesia, membagikan pengalaman dan perspektifnya.

Masyarakat bisa memahami bahwa feminisme Islam bukanlah sebuah ancaman yang perlu dimusuhi melainkan tawaran gagasan untuk melengkapi. Apresiasi perlu diberikan setinggi-tingginya kepada para kyai dan bu Nyai tokoh feminis Muslim yang telah membukakan pintu dialog.

Pesantren di Indonesia memiliki sekitar 1.6 juta santri dan hampir setengahnya adalah perempuan. Mendidik lima persen saja, bisa menjadi agen perubahan yang memahami tradisi secara kritis, sembari menjadi intelektual yang dalam ilmunya. Mengamalkan prinsip menjaga nilai lama yang baik dan mengambil nilai baru yang lebih baik, al-Muhafadzatu 'ala al-Qadim al-Shalih wa al-Akhdzu bi al-Jadid al-Ashlah.

Tonton juga video "Pembangunan Ponpes Al-Khoziny Dimulai, Target Rampung Juli 2026"

(rdp/imk)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads