Indonesia tengah mencuri perhatian dunia. Di tengah cuaca buruk ekonomi dunia yang tidak menentu, Indonesia getol membangun fondasi ekonomi di atas fluktuasi angka-angka trader valas dan tren global yang sulit dibaca.
Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menjadi tema utama di kalangan pelaku ekonomi, para akademisi, hingga ruang sidang DPR RI. Ada yang cemas, skeptis, namun banyak pula yang optimis.
Bertolak dari anatomi ekonomi dan politik hari ini, sebuah narasi besar membawa optimisme baru secara masif.
Pertama, pelemahan rupiah sama sekali tidak ada hubungan dengan dinamika internal di Bank Indonesia. Munculnya nama Thomas Djiwandono sebagai calon Deputi Gubernur tidak ada urusan sama sekali dengan koreksi nilai tukar saat ini.
Anggota DPR dari partai Golkar Eric Heryawan menyatakan, secara teknis ekonomi, pasar global tidak bekerja sesempit itu. Pelemahan rupiah didorong fenomena external-driven. Ketika The Fed di Amerika Serikat memainkan ritme suku bunga tak menentu, seluruh mata uang negara berkembang bukan cuma rupiah, tertekan.
Menuding pencalonan figur profesional seperti Thomas Djiwandono sebagai salah satu penyebab adalah sebuah lompatan logika dipaksakan. Justru, figur seperti Thomas memiliki rekam jejak kuat di sektor fiskal dan jaringan internasional.
Ini aset yang dapat menjamin keberlanjutan stabilitas antara kebijakan fiskal dan moneter. Instrumen yang dibutuhkan pasar.
Di Balik Melemahnya Rupiah
Kalangan analis kebijakan, melihat pelemahan rupiah ini seperti pisau bermata dua. Jika pemerintah mampu membaca fenomena ini maka posisi itu justru membawa berkah ekonomi.
Dari kacamata produsen misalnya, posisi rupiah yang kompetitif kompetitif bisa jadi stimulus alami sektor ekspor dan hilirisasi.
Presiden Prabowo Subianto berkali-kali menekankan sinyal itu dalam konsep kemandirian ekonomi nasional.
Dengan rupiah di posisi saat ini, barang-barang hasil hilirisasi mulai dari nikel hingga produk olahan manufaktur menjadi lebih menarik dan kompetitif di pasar global. Ini momentum emas bagi para eksportir lokal untuk meraup devisa lebih besar.
Di sisi lain, harga barang impor yang menjadi lebih mahal secara otomatis akan memaksa pasar domestik untuk melirik produk dalam negeri.
Inilah esensi dari penguatan struktur ekonomi nasional: mengurangi ketergantungan impor dan memperkuat konsumsi produk lokal.
Jadi, jangan melulu melihat pelemahan rupiah sebagai kekalahan, melainkan sebagai "insentif paksa" untuk mencintai produk bangsa sendiri.
Prabowonomics di Panggung Davos
Sementara di dalam negeri sibuk berdebat soal kurs, Presiden Prabowo Subianto justru sedang melakukan manuver besar di World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos, Swiss.
Di depan lebih dari 65 kepala negara dan 1.000 CEO global, Presiden membawa satu "senjata" baru bernama Prabowonomics.
Seperti disampaikan Seskab Teddy Indra Wijaya langsung dari Davos Swiss, Presiden memaparkan grand strategi konsep ekonomi Indonesia dalam tajuk Prabowonomics.
Sebuah kristalisasi pemikiran ekonomi Presiden berorientasi pada pertumbuhan tinggi, ketahanan pangan, energi hijau, dan keberpihakan pada rakyat melalui hilirisasi industri.
Indonesia bukan sekadar penonton di rantai pasok global. Melalui Prabowonomics, Indonesia memposisikan diri sebagai episentrum energi hijau dunia. Di tengah dunia haus solusi iklim, Indonesia menawarkan opsi investasi hijau. Melalui langkah berani menarik modal asing (Foreign Direct Investment) ke dalam negeri.
Jika Prabowonomics sukses meyakinkan raksasa global di Davos, aliran modal masuk (inflow) akan masif. Inilah jurus menguatkan rupiah secara fundamental, bukan melalui "senapan" intervensi pasar sporadis.
Prabowonomics bicara tentang membangun kepercayaan dunia, bahwa Indonesia adalah tempat aman dan stabil bagi investasi, progresif, dan memiliki visi jangka panjang.
Sinergi dan Optimisme
Tema WEF "A Spirit of Dialogue" sangat sinkron gaya diplomasi Presiden Prabowo merangkul semua pihak. Di Davos, Indonesia tidak datang meminta-minta, tetapi menawarkan sinergi dan berkolaborasi tentang ekonomi hijau.
Indonesia Pavilion dan Indonesia Night di Swiss menjadi etalase betapa seriusnya pemerintah dalam menjemput bola investasi.
Kembali ke rupiah. Stabilitas ekonomi tidak hanya dibangun dari kebijakan moneter Jakarta, tetapi juga kepercayaan global di di forum internasional seperti Davos. Investor global harus diyakinkan bahwa transisi kepemimpinan di Bank Indonesia berjalan kompeten, ditopang konsep ekonomi solid (Prabowonomics) yang dibawa langsung oleh presidennya.
Maka sentimen negatif terhadap posisi rupiah diyakini luruh.
Pemerintah sedang memainkan "papan catur" strategi ekonomi global. Dalam persepsi kebijakan publik, kontroversi pelemahan rupiah hanyalah riak kecil di tengah arus besar transformasi ekonomi.
Fokus pada hilirisasi, kemandirian pangan, dan hilirisasi digital adalah inti dari Prabowonomics. Dari konsep itu Indonesia diperkirakan bakal melompat dari jebakan pendapatan menengah.
Tanpa Narasi Ketakutan
Pelemahan rupiah merupakan dinamika global yang bisa dikelola. Tidak ada kaitannya dengan suksesi di BI yang bersifat profesional dan teknokratis.
Jadi jangan menimpali narasi kecemasan dalam langkah berani Presiden di Davos. Prabowonomics merupakan manifesto keberanian Indonesia berdikari secara ekonomi, seperti yang pernah didengungkan presiden Soekarno.
Jika dunia saja mulai melirik dan mengapresiasi konsep Prabowonomics di panggung paling bergengsi seperti WEF, mengapa di dalam negeri justru masih sibuk saling menjatuhkan dengan spekulasi tidak produktif?
Biarkan rupiah mencari titik keseimbangan baru, bersamaan dengan ekonomi Indonesia yang lepas landas ke pasar global. Biarkan Davos menjadi saksi, Indonesia memiliki haluannya sendiri, dengan navigator pemimpin yang memiliki konsep ekonomi membumi dan visioner.
Itulah perspektif positif yang harus kita rawat.
Eko Wahyuanto. Pengamat Kebijakan Publik.
Tonton juga video "Prabowo Bakal Sampaikan 'Prabowonomics' di Forum Ekonomi Dunia"
(rdp/rdp)