Sistem Internasional Pasca Invasi AS ke Venezuela 2026
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Kolom

Sistem Internasional Pasca Invasi AS ke Venezuela 2026

Sabtu, 10 Jan 2026 09:35 WIB
Hendra Manurung
Hendra Manurung, Dosen Prodi Magister Diplomasi Pertahanan, Fakultas Strategi Pertahanan, Universitas Pertahanan Republik Indonesia (UNHAN RI).
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Sistem Internasional Pasca Invasi AS ke Venezuela 2026
Foto: Serangan AS Rusak Rumah Warga Venezuela, Warga Kehilangan Tempat Tinggal (REUTERS/Gaby Oraa)
Jakarta -

Peristiwa invasi pasukan militer Amerika Serikat (AS) ke Venezuela pada 3 Januari 2026, berfungsi sebagai lensa analitis untuk memahami dinamika rapuhnya tata kelola global dan kontur ketidakpastian sistem internasional mendefinisikan era kontemporer. Invasi yang didorong oleh alasan campur tangan kemanusiaan, keamanan energi, atau penahanan pengaruh kekuatan revisionis, bukanlah peristiwa terisolasi.

Sebaliknya, invasi tersebut merefleksikan sebuah katalis dan eksaserbator dari tren yang sudah ada sebelumnya, mendorong sistem internasional ke dalam fase momentum ketidakpastian yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Momentum ini ditandai oleh percepatan disintegrasi norma-norma yang telah lama diyakini usai berakhirnya Perang Dingin, fragmentasi kelembagaan multilateral, dan kebangkitan tatanan berbasis blok yang kompetitif.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tulisan ini berargumen bahwa invasi AS ke Venezuela pada 2026 pada akhirnya akan secara permanen mengakhiri sisa-sisa tatanan liberal pasca-Perang Dingin, semakin mempercepat transisi menuju ketidakteraturan multipolar dan menciptakan lanskap global didominasi oleh ketidakstabilan strategis, persaingan ekonomi terfragmentasi, dan melemahnya kemampuan kolektif untuk mampu menangani tantangan transnasional.

Akankan dunia menuju kematian tatanan Liberal Internasional dan membangkitkan Hukum Kekuatan. Prinsip inti tatanan pasca-1945 dan pasca-1991 adalah larangan terhadap akuisisi wilayah dengan kekuatan dan penggunaan kekuatan militer di luar pembelaan diri atau otorisasi Dewan Keamanan PBB (UNSC).

ADVERTISEMENT

Invasi AS yang sepihak, bahkan dengan alasan yang diklaim humaniter, akan menjadi pukulan terakhir bagi prinsip ini. Tindakan tersebut akan menjadi preseden yang disamakan dengan invasi Rusia ke Ukraina pada 2022, namun dengan aktor yang secara historis menjadi penjamin utama tatanan tersebut (Patrick, 2022). Akibatnya, norma kedaulatan akan semakin instrumental dan lebih sewenang-wenang.

Reaksi internasional akan sangat terpolarisasi. Sekutu tradisional AS di NATO, seperti Inggris dan beberapa negara Eropa Timur, mungkin memberikan dukungan diplomatik atau logistik yang terbatas, tetapi negara-negara Eropa Barat seperti Jerman dan Prancis akan sangat kritis, bahkan mempertimbangkan sanksi terhadap AS di forum Uni Eropa.

Kredibilitas institusi seperti PBB akan hancur. Dewan Keamanan akan lumpuh oleh veto dan kecaman yang saling bersilangan, sementara Majelis Umum akan menjadi arena bagi pertempuran naratif tanpa hasil yang jelas (Ikenberry, 2020).

Kehancuran ini nantinya akan mengukuhkan pergeseran dari hukum internasional menuju 'hukum kekuatan' di mana berbagai blok geopolitik akan memberlakukan aturan dan standar mereka sendiri.

Bagaimana memahami fragmentasi Geopolitik Dunia. Invasi AS substansinya akan bertindak sebagai pemisah yang jelas, memaksa negara-negara untuk memilih posisi dalam tatanan global yang baru. Ini akan mempercepat dan menginstitusionalkan fragmentasi keterbelahan dunia internasional yang sudah mulai terjadi.

Transatlantik akan mengalami retakan terbesarnya sejak Perang Irak 2003. Meskipun ada koordinasi intelijen tertentu, pemisahan strategis akan jelas. Eropa akan fokus pada ketahanan energinya (kehilangan kepercayaan pada AS sebagai mitra yang stabil) dan penguatan otonomi strategis melalui kerangka seperti Strategic Compass UE.

NATO akan memasuki fase krisis eksistensial, dengan banyak anggota mempertanyakan relevansi dan tujuan aliansi jika kekuatan pendorongnya terlibat dalam petualangan militer unilateral yang merusak stabilitas global (Walt, 2021).

Tindakan sewenang-wenang AS akan menjadi hadiah strategis bagi China dan Rusia. Kedua negara akan memobilisasi sumber daya diplomatik, ekonomi, dan informasi untuk mengecam AS sebagai kekuatan hegemonik dan perusak perdamaian. Kedua negara major power tersebut akan menggunakan forum seperti BRICS yang kemungkinan besar telah berkembang pesat pada 2026 dan Organisasi Kerjasama Shanghai (SCO) sebagai sandaran untuk terwujudnya tatanan dunia internasional alternatif.

Bantuan militer dan ekonomi ke rezim anti-AS di seluruh negara-negara Global South akan meningkat. Cina, khususnya, akan memposisikan diri sebagai penjaga kedaulatan dan kemandirian, menawarkan "jalan pembangunan yang aman" tanpa intervensi (Allison, 2020). Sedangkan Rusia akan memperdalam pengaruh globalnya di Kawasan Amerika Latin dan Afrika.

Dewasa ini, Global South sebagai medan pertempuran pengaruh diantara negara-negara besar dunia. Negara-negara non-blok akan menghadapi tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk memilih pihak pemenang diantara kekuatan besar dunia.

Invasi akan memperkuat naratif anti-kolonial dan anti-intervensi, memperdalam kecurigaan terhadap Barat. Organisasi seperti Uni Afrika dan ASEAN akan berjuang untuk menjaga kohesi internal sambil menyerukan penyelesaian damai, tetapi pengaruh mereka akan terkikis oleh lobi dan insentif ekonomi dari kedua belah pihak.

"Dunia Ketiga" akan muncul kembali bukan sebagai blok yang kohesif, tetapi sebagai medan pertempuran proxy yang kompetitif untuk pengaruh, akses sumber daya, dan dukungan suara (Mohan & Choong, 2022).

Akankah dunia internasional menuju guncangan ekonomi global dan permainan Zero-Sum. Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia. Invasi akan mengganggu produksi secara drastis, menciptakan guncangan pasokan yang membuat krisis energi 2022 terlihat kecil. Harga minyak akan meloncat di atas $200 per barel, memicu hiperinflasi dan resesi di seluruh ekonomi importir.

Negara-negara produsen, termasuk OPEC+ yang dipimpin oleh Rusia-Arab Saudi, akan menggunakan minyak sebagai senjata geopolitik, menolak untuk menstabilkan pasar demi memberi pelajaran kepada Barat. Pasar komoditas lainnya, seperti logam langka dan pangan, juga akan menjadi sangat volatil karena proteksionisme dan nasionalisme sumber daya meningkat (Bremmer, 2023).

Fragmentasi sistem keuangan dan sistem keuangan global akan terpolarisasi. AS akan membekukan aset Venezuela dan menjatuhkan sanksi sekunder yang parah terhadap siapa pun yang berdagang dengan rezim baru yang didukungnya.

Sebagai respons, Cina, Rusia, dan negara sekutunya akan mengakselerasi adopsi alternatif untuk sistem SWIFT dan penggunaan mata uang dalam penyelesaian perdagangan, seperti yuan digital dan sistem pembayaran bilateral.

Ini akan menciptakan "splinternet" keuangan di mana dua sistem yang hampir terpisah beroperasi, meningkatkan biaya transaksi, mengurangi efisiensi, dan memperdalam pemisahan ekonomi (Tooze, 2021).

Cadangan devisa dunia akan terdiversifikasi secara agresif dari dolar AS, meruntuhkan statusnya sebagai mata uang cadangan global utama.
Kerjasama di Badan Perdagangan Dunia (WTO) akan runtuh.

Blok-blok dagang ini akan memberlakukan hambatan perdagangan yang strategis, menggunakan kontrol ekspor, subsidi domestik yang masif, dan standar teknis yang tidak kompatibel sebagai alat persaingan geopolitik.

Perpecahan dalam rantai pasok global akan menjadi permanen, dengan perusahaan yang menghadapi pilihan pahit untuk melokalisasi atau membangun rantai paralel untuk blok yang berbeda. Persaingan di bidang teknologi kritis, seperti AI, semikonduktor, komputasi kuantum akan menjadi momentum perang dingin terbuka, dengan sedikit ruang untuk kolaborasi ilmiah lintas blok (Garcia-Herrero & Xu, 2022).

Selanjutnya, bagaimana merespon keamanan transnasional dan tantangan eksistensial yang terabaikan. Dalam lingkungan setiap orang untuk diri sendiri, kapasitas dan kemauan untuk mengatasi tantangan bersama umat manusia akan hilang.

Kerjasama iklim global, yang sudah rapuh, akan runtuh. Agenda perubahan iklim akan menjadi pertemuan yang tidak produktif di mana sesama negara besar saling menyalahkan. Alokasi pendanaan iklim dari Utara ke Selatan akan mengering karena prioritas dialihkan ke keamanan nasional.

Komitmen net-zero akan ditinggalkan karena negara-negara mengamankan akses energi apa pun yang mereka bisa, termasuk batubara dan minyak serpih, tanpa mempertimbangkan emisi. Upaya geoengineering unilateral oleh kekuatan besar akan menjadi risiko baru yang menakutkan (Bodansky, 2021).

Kepercayaan dalam sistem peringatan dini dan berbagi data WHO akan hancur. Setiap krisis kesehatan baru akan disertai dengan disinformasi dan diplomasi vaksin yang agresif, di mana vaksin didistribusikan berdasarkan loyalitas geopolitik, bukan kebutuhan. Kerangka akses dan benefit-sharing patogen (PABS) akan menjadi tidak berfungsi.

Negara-negara menengah seperti Indonesia, Meksiko, Australia, Turki, Iran, Korea Utara, Arab Saudi, dan lain-lain menarik pelajaran bahwa dalam dunia saat ini berlaku ketiadaan komitmen dan tanpa aturan, kekuatan nuklir adalah satu-satunya jaminan keamanan internasional.

Ambisi proliferasi akan mendapatkan momentum baru. Perang siber akan merajalela, dengan serangan terhadap infrastruktur kritis (jaringan listrik, pipa, lembaga keuangan) menjadi alat konflik yang umum dan terus-menerus, dilakukan oleh negara dan kelompok proxy.

Invasi AS ke Venezuela pada awal tahun 2026, dalam skenario ini, bukan awal dari ketidakpastian global, tetapi adalah titik puncak perpecahan internasional. Ini adalah peristiwa yang akan mengkristalkan dan mempercepat tren-tren yang sudah menggerogoti tatanan pasca-Perang Dingin. Dunia lebih miskin, berbahaya, dan tidak kooperatif. Dalam momentum ketidakpastian ini, prediktabilitas, norma-norma bersama, dan kelembagaan multilateral akan menjadi barang langka.

Konsep kedaulatan negara akan tetap ada, tetapi hanya sebagai formalitas pembentukan tatanan dunia dan seringkali menjadi justifikasi untuk dimanipulasi kekuatan besar. Konsep Hak Asasi Manusia universal terjebak dalam pertempuran naratif tiada henti.

Masa depan pasca-2026 akan semakin ditandai oleh persaingan multipolar yang intens di semua domain, militer, ekonomi, teknologi, dan informasi. Risiko terjadinya konflik langsung diantara kekuatan besar dunia akan meningkat, disebabkan kurangnya saluran komunikasi dan mekanisme diplomasi.

Namun, ironi besar adalah justru dalam lingkungan ini, saling ketergantungan dalam menghadapi ancaman eksistensial seperti perubahan iklim dan pandemi tetap muncul. Tantangan terbesar bagi para pemimpin dunia pada tahun 2026 dan seterusnya adalah bagaimana menemukan solusi nyata, di tengah-tengah persaingan sengit antar-blok, untuk membangun jembatan interaksi dan mekanisme koeksistensi mencegah ketidakpastian global berubah menjadi bencana global.

Kemungkinan, masa depan sistem internasional akan ditentukan bukan oleh pencarian tatanan baru, tetapi oleh terciptanya tata kelola kekacauan global yang tidak terhindarkan.

Hendra Manurung. Dosen Prodi Magister Diplomasi Pertahanan, Fakultas Strategi Pertahanan, Universitas Pertahanan Republik Indonesia (UNHAN RI).

Simak juga Video 'AS Ambil Alih Kelola 50 Juta Barel Minyak: Demi Rakyat Venezuela':

(rdp/imk)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads