Tahun 2025 baru saja kita lewati dan, dari sudut pandang iklim, tahun ini memperlihatkan sejumlah anomali yang menarik untuk dicermati. Salah satu fenomena yang paling banyak dibicarakan di ruang publik adalah apa yang oleh masyarakat disebut sebagai kemarau basah, terutama di wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara Barat.
Sejak Mei 2025, wilayah selatan Indonesia memang mengalami curah hujan yang lebih tinggi dan lebih sering dari biasanya. Kondisi ini memicu kebingungan publik karena secara kalender tahunan, periode tersebut seharusnya telah memasuki musim kemarau.
Fenomena ini menjadi topik hangat dalam percakapan di media sosial. Sepanjang Mei hingga Juni 2025, pertanyaan tentang kapan musim kemarau akan dimulai terus disuarakan netizen. Kejanggalan tersebut bahkan berlanjut hingga September, yang secara klimatologis dikenal sebagai salah satu bulan paling kering di Jawa-Bali-NTB.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Faktanya, pada bulan tersebut justru terjadi hujan lebat yang memicu banjir besar di Bali dan NTB. Kejadian ini menegaskan bahwa yang terjadi bukan sekadar keterlambatan musim kemarau, melainkan sebuah penyimpangan pola hujan dari kondisi normal.
Analisis curah hujan berbasis data CHIRPS (Climate Hazards Group InfraRed Precipitation with Station data) memperjelas fenomena kemarau basah tersebut. Akumulasi curah hujan selama periode Mei hingga Oktober 2025 tercatat sebagai yang tertinggi keempat dalam 45 tahun terakhir, berada di belakang tahun 2016, 2010, dan 2022.
Sebagaimana umum diketahui, periode Mei-Oktober secara klimatologis merupakan periode musim kemarau di Jawa-Bali-NTB. Bahkan, kemarau 2025 tercatat lebih basah dibandingkan kemarau 1998, yang dikenal sebagai tahun dengan pengaruh La NiΓ±a yang kuat.
Fakta ini menunjukkan bahwa dinamika iklim 2025 tidak dapat dijelaskan semata-mata oleh variasi musiman biasa, melainkan justru mengindikasikan sedang terjadinya sistem iklim lain yang berkontribusi pada peningkatan curah hujan di Jawa-Bali-NTB.
Kering di Utara
Ketika wilayah Jawa-Bali-NTB mengalami fenomena kemarau basah, kondisi yang kontras justru terjadi di Sumatera, khususnya di Sumatera Utara dan sebagian Sumatera Barat. Pada periode Mei-Juni-Juli 2025, wilayah ini mengalami defisit curah hujan yang cukup signifikan, sehingga kondisi iklimnya cenderung lebih kering dibandingkan normal.
Analisis data CHIRPS menunjukkan bahwa akumulasi curah hujan selama periode tersebut merupakan yang terkering kedua sejak 1981, menempatkan 2025 sebagai salah satu tahun yang sangat kering bagi wilayah tersebut dalam 45 tahun terakhir.
Rekor tahun terkering untuk periode Mei-Juni-Juli di wilayah tersebut masih dipegang oleh tahun 1997, yang bertepatan dengan kejadian El NiΓ±o sangat kuat dan dikenal luas sebagai salah satu episode kekeringan terparah di Indonesia.
Kedekatan peringkat tahun 2025 dengan tahun ekstrem tersebut memberikan indikasi bahwa kekeringan di Sumatera bagian utara pada 2025 bukanlah anomali kecil, melainkan kejadian yang berdampak nyata.
Tidak mengherankan jika pada periode ini laporan kebakaran hutan dan lahan di Sumatera Utara meningkat. Kontras secara spasial antara wilayah utara dan selatan Indonesia ini sekaligus menegaskan betapa anehnya tahun 2025 dari perspektif iklim.
IOD negatif terkuat
Sejak Agustus 2025, telah terjadi fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) negatif di Samudra Hindia, yaitu penyimpangan sistem laut-atmosfer yang ditandai oleh menghangatnya suhu muka laut di wilayah timur Samudra Hindia, khususnya di sekitar pantai barat Sumatra, dan mendinginnya suhu muka laut di wilayah barat yaitu di sekitar pantai timur Afrika.
Berdasarkan data suhu muka laut dari Japan Meteorological Agency (JMA), indeks IOD pada Oktober 2025 tercatat sebesar -1,63, yang merupakan nilai terendah sejak pencatatan dimulai pada 1950. Dengan demikian, tahun 2025 menandai terjadinya IOD negatif terkuat dalam 75 tahun terakhir.
IOD negatif yang sangat kuat ini secara fisis berkontribusi dalam meningkatkan suplai uap air dan aktivitas konvektif di sebagian wilayah Indonesia, sehingga sangat mungkin beperan dalam peningkatan curah hujan di Jawa-Bali-NTB pada periode Agustus hingga November 2025.
Namun demikian, kemunculan IOD negatif tersebut belum sepenuhnya mampu menjelaskan anomali yang telah terjadi lebih awal, selama periode Mei-Juni-Juli 2025, yakni hujan di atas normal di Jawa-Bali-NTB dan hujan di bawah normal di Sumatra bagian utara.
Kondisi ini mengindikasikan bahwa anomali iklim 2025 mungkin tidak dikendalikan oleh satu faktor tunggal, melainkan merupakan hasil interaksi berbagai proses atmosfer dan laut yang lebih kompleks.
Siklon Tropis Senyar
Keanehan iklim sepanjang 2025 ditutup oleh kemunculan Badai Tropis Senyar pada pekan terakhir November, yang memicu bencana banjir dan longsor berskala besar di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Kehadiran badai tropis ini mengingatkan kita pada Badai Tropis Vamei, yang terbentuk di sekitar Sumatera Utara pada 27 Desember 2001. Kedua peristiwa tersebut sama-sama terjadi di wilayah lintang sangat rendah, yang secara klimatologis dikenal sebagai kawasan yang nyaris bebas dari pembentukan badai tropis.
Secara teoritis, wilayah di sekitar garis khatulistiwa memang sangat jarang mengalami badai tropis akibat lemahnya gaya Coriolis yang diperlukan untuk memberikan "efek berputar" pada sistem badai. CP Chang, seorang pakar cuaca dari Naval Postgraduate School-USA, dalam makalah yang terbit di Geophysical Research Letters (2003), menyatakan bahwa sabuk wilayah sekitar 300 km di kedua sisi ekuator selama ini dianggap bebas dari siklon tropis.
Bahkan, Badai Tropis Vamei disebut sebagai siklon tropis pertama yang tercatat terbentuk dalam jarak 1,5 derajat dari garis ekuator, dengan peluang kejadian serupa diperkirakan hanya sekali dalam rentang 100-400 tahun. Namun kenyataannya, hanya sekitar 25 tahun kemudian, badai tropis lain, yakni Senyar, kembali terbentuk di wilayah yang relatif berdekatan.
Rangkaian kejadian ini menegaskan kembali tentang anomali iklim 2025, sekaligus memperkuat dugaan bahwa kejadian cuaca dan iklim ekstrem kian sering terjadi dengan intensitas yang meningkat, sebagaimana telah lama diproyeksikan oleh para ilmuwan sebagai konsekuensi dari pemanasan global.
Supari. Pakar Iklim dan bekerja di BMKG.
Simak juga Video: Siklon Tropis: Fenomena Alam yang Tak Dapat Terhindarkan











































