Dalam kondisi normal saja mereka sudah termasuk golongan berisiko, apalagi dalam suasana darurat ketika tinggal di pengungsian. Perempuan hamil dan menyusui serta anak-anak balita perlu mendapat perhatian besar mengingat tingkat kerusakan fisik akibat banjir di Sumatra yang sangat luar biasa, demikian pula akibat hancurnya kehidupan sosial dan ekonomi di sana.
Mereka yang selamat dari amukan banjir, kini kondisinya sungguh tak berdaya. Hilangnya harta benda, tempat tinggal dan stres psikologis membuat kaum perempuan dan anak-anak menjadi rentan derajat kesehatan dan gizinya.
Upaya-upaya penanggulangan masalah pengungsi harus terus dimaksimalkan sehingga mereka bisa segera pulih dari penderitaan akibat banjir.
Musibah banjir di Sumatra dengan korban lebih dari 1000 jiwa dan ribuan lainnya menjadi pengungsi dapat memunculkan masalah pangan dan gizi yang serius. Akses pangan terganggu karena habisnya persediaan atau putusnya jalur distribusi.
Jalan-jalan rusak berat membuat pasokan pangan bertambah sulit. Golongan rawan seperti anak balita memerlukan perawatan kesehatan karena terancam diare atau muntaber. Posko-posko kesehatan kini terus bekerja keras untuk menyelamatkan anak bangsa yang sedang tertimpa bencana.
Ketika bencana besar datang menghantam, dapat dibayangkan ribuan masyarakat tiba-tiba menjadi pengungsi secara serentak. Kehidupan mereka untuk beberapa bulan ke depan akan sangat bergantung pada program bantuan yang dikelola pemerintah, masyarakat, atau badan-badan sosial lainnya.
Masalah pangan sangat krusial untuk diperhatikan, demikian pula keterbatasan sarana air bersih dan buruknya lingkungan tempat tinggal sementara. Oleh karena itu diperlukan perencanaan penanganan korban banjir yang holistik mencakup bidang kesehatan, pangan/gizi, sosial dan penyediaan sarana dan prasarana.
Penanganan pengungsi banjir Sumatra memerlukan manajemen yang lebih baik karena derajat kerusakan fisik dan nonfisik yang sangat luar biasa. Pemerintah dan organisasi nonpemerintah harus mengkonsolidasikan diri dan melakukan koordinasi dengan sebaik-baiknya untuk mengantisipasi merosotnya derajat kehidupan, kesehatan, dan status gizi khususnya kaum perempuan dan anak.
Perempuan hamil dan menyusui korban banjir memerlukan asupan gizi yang berkualitas. Dalam situasi normal, perempuan hamil umumnya rawan anemia akibat kurang zat besi. Dalam situasi khusus seperti di pengungsian, risiko kurang zat besi semakin besar karena mereka mengonsumsi pangan bantuan dalam situasi darurat.
Oleh sebab itu posko penanganan bantuan pangan perlu memahami bahwa ransum untuk perempuan hamil perlu tambahan pangan hewani dan sayuran hijau yang kaya zat besi, serta tablet besi untuk keperluan tiga bulan selama kehamilan berlangsung.
Masalah pangan dan gizi juga akan dialami oleh anak-anak balita korban banjir karena mereka termasuk sebagai golongan paling rawan. Meski mereka sudah bisa mengonsumsi makanan orang dewasa, namun sebenarnya golongan umur ini memerlukan asupan gizi yang bermutu.
Pada periode usia balita ini konsumsi protein relatif lebih tinggi untuk menjamin pertumbuhan dan perkembangan yang baik.
Bantuan makanan untuk pengungsi hendaknya jangan hanya dalam bentuk makanan orang dewasa seperti beras, mi instan, gula, minyak goreng, ikan asin dsb. Perlu sejak awal dipikirkan bahwa korban banjir juga ada dari kalangan anak balita dan bayi.
Oleh sebab itu bantuan berupa susu bubuk, susu formula dan bubur bayi juga sangat dibutuhkan. Bantuan pangan untuk anak-anak ini bisa diusahakan dari industri-industri pangan olahan.
Dalam waktu 1-2 minggu kurang pangan, anak-anak balita dan bayi akan berada dalam kondisi kritis dan akhirnya rawan untuk menderita gizi kurang atau gizi buruk. Kondisi ini akan semakin parah karena dipercepat dengan lingkungan sanitasi yang buruk sehingga infeksi merajalela. Sebagaimana diketahui terdapat hubungan sinergistis (saling memperkuat) antara gizi buruk dengan infeksi.
Anak penderita kurang gizi akan rentan untuk menderita infeksi, dan sebaliknya anak yang sudah kena infeksi akan rawan terhadap gizi buruk. Infeksi yang harus diwaspadai terutama adalah diare karena diare akan menguras cairan tubuh dan menyebabkan dehidrasi.
Masalah kurang gizi ini apabila tidak diantisipasi dengan segera akan mengakibatkan meningkatnya angka kematian di kalangan anak balita. Suatu studi menunjukkan bahwa angka kematian meningkat akibat ransum yang diberikan pengungsi kurang memenuhi standar gizi.
Pengalaman dari negara-negara lain menunjukkan bahwa penderita kurang gizi akut (muncul setelah menjadi pengungsi) prevalensinya di antara anak balita bisa berkisar antara 12-70%. Kondisi ini sangat mengkhawatirkan karena mereka benar-benar penderita kurang gizi kasus baru.
Angka ini bisa bertambah apabila memperhitungkan kurang gizi pada periode pra mengungsi. Akibatnya angka kematian juga meningkat. Pada populasi dengan prevalensi gizi kurang (akut) <5%, angka kematian hanya 0,9/1000/bulan.
Sementara pada kalangan pengungsi dengan gizi kurang (akut) >50%, angka kematian bisa mencapai 37/1000/bulan. Ini benar-benar malapetaka yang harus dihindari.
Gizi kurang (akut) umumnya diakibatkan oleh defisiensi energi-protein akibat kurang makan. Oleh sebab itu bantuan pangan untuk golongan rawan (anak balita/bayi) perlu mendapat prioritas.
Pola bantuan pangan dan gizi yang dapat ditawarkan untuk korban banjir adalah perlunya posko-posko khusus untuk golongan rawan gizi. Di sini disediakan bantuan pangan khusus yang bergizi (susu, telur, kacang hijau, bubur susu dan lain sebagainya) serta pelayanan kesehatan.
Masalah gizi lain yang perlu diantisipasi adalah scurvy. Semakin lama korban banjir menjadi pengungsi semakin besar risiko menderita scurvy. Penyakit gizi ini disebabkan oleh defisiensi vitamin C.
Umumnya ransum pengungsi tidak cukup mensuplai sayur dan buah, karena bantuan yang diberikan kebanyakan berupa makanan pokok dan lauk-pauk sekedar jangan sampai mereka kelaparan. Apabila defisiensi vitamin C berlangsung lebih lama, maka kekebalan tubuh pengungsi akan semakin merosot dan akhirnya mudah sakit.
Risiko menderita anemia gizi besi di kalangan anak-anak pengungsi relatif tinggi. Kasus pengungsi di negara lain menunjukkan bahwa anemia di kalangan anak-anak prevalensinya 54,5-73,9%.
Dampak banjir yang menyebabkan memburuknya lingkungan bermain anak-anak bisa menjadi penyebab kecacingan yang kemudian memunculkan anemia. Kondisi ini menjadi lebih parah karena ransum pengungsi kurang cukup mengandung bahan pangan asal hewani yang kaya zat besi. Prevalensi anemia di kalangan anak-anak memang umumnya tinggi, namun kondisi di pengungsian yang kurang sehat bisa meningkatkan risiko menderita anemia.
Mengingat ancaman defisiensi gizi mikro (kurang vitamin C, asam folat, zat besi) maka bantuan multivitamin/mineral perlu dipikirkan. Di sini dituntut peran industri multi vitamin/mineral sehingga korban banjir bisa terhindar dari masalah gizi mikro ini.
Memang yang terbaik adalah memberikan makanan dengan jumlah yang cukup dengan menerapkan prinsip keberagaman. Namun, kehidupan di pengungsian adalah kondisi abnormal. Tidak ada satupun orang, baik dia korban banjir ataupun pemberi bantuan, yang akan berpikir tentang gizi seimbang. Yang penting bantuan pangan bisa terus ada, meski kuantitas dan kualitasnya tidak mencukupi.
Dampak bencana banjir bisa berlangsung lama, maka sebaiknya ada institusi yang profesional untuk mengurus pemenuhan kebutuhan dasar (pangan dan kesehatan) pengungsi kelompok rawan ini sehingga derajat kesehatan dan gizi mereka tidak merosot semakin tajam.
Ali Khomsan. Guru Besar Pangan dan Gizi, Fakultas Ekologi Manusia, IPB. (rdp/imk)











































