Saya begitu masgul mendengar kabar para masayih dan kiai yang duduk di jajaran PBNU berkonflik. Apalagi konflik itu menjadi berita terbuka di mana mana yang disertai dengan saling pecat memecat satu sama lain.
Lebih sedih lagi, perkara konflik bermula dari pengelolaan pertambangan batubara yang diberikan oleh pemerintah kepada organisasi kemasyarakatan, salah satunya Nahdlatul Ulama (NU).
Suatu perkara duniawi yang sesungguhnya kecil sekali derajatnya untuk dijadikan sumber perpecahan. Sebagai pribadi yang sejak kecil, dididik, dan beribadah, bermuamalah dengan tradisi nahdliyah, saya memegang teguh ajaran ajaran tawadu' dan tabayun, serta akhlaqul karimah dalam kitab ta'lim muta'alim.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apakah tradisi ini sudah tidak bisa lagi berjalan di PBNU, sehingga harus pecah menjadi konflik terbuka? Sebagai bagian dari jam'iyah ini, saya sekali lagi sedih dan merasa malu.
Kami meneladani dan senantiasa menjadikan ulama pesantren sebagai contoh akhlakul karimah, namun kenapa kami, jam'iyah ini mendapatkan tontonan seperti ini.
Sungguh, sebagai bagian jam'iyah ini, saya memohon para masayih, dan kiai di PBNU untuk kembali islah. Islah sebagai jalan yang perlu di utamakan. Para musytasar PBNU, para kiai sepuh, para ahlul halli wal aqdi mohon berkenan untuk menjadi jembatan terwujudnya jalan islah ini.
Dengan terpecahnya jajaran di PBNU, yang dirugikan adalah bangsa ini. Dunia mengakui bahwa NU adalah jangkar utama kekuatan Islam Indonesia, bersama dengan Muhammadiyah untuk membangun umat, memberikan pendidikan karakter, sekaligus memberikan berbagai pelayanan ekonomi dan sosial kepada umat.
Bila konflik ini berkepanjangan, maka energi PBNU akan tersedot untuk mengurusi konflik, padahal fokusnya harus ke pelayanan kepada para jamiyah di bawah.
Bila tidak ada jalan islah, dan jalan pecat memecat yang ditempuh, maka akan ada luka, ada perpecahan yang tidak bisa di sudahi dengan sekedar keputusan organisasi, karena ujungnya yang zero sum game (menang kalah), tidak memenangkan semua. Akan ada martabat yang direndahkan.
Saya juga berharap, di kalangan para pendukung untuk tidak saling terus membakar hawa panas melalui berbagai forum, baik di media massa, media sosial, termasuk juga berbagai pertemuan fisik. Saya berharap untuk menahan diri.
Dan menjaga semangat untuk mengupayakan persatuan. Dengan demikian medan konflik tidak semakin meluas.
Saya yakin, dengan keluasan hati, dengan jalan ikhtiar dan tawakal, serta semangat pengabdian kepada umat, para ulama kita bisa mendapatkan menempuh jalan islah, dan kami para jam'iyah mendoakan hal itu segera terwujud. Amin ya rabbal alamin.
Said Abdullah, Warga NU, Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan Dapil Madura, Jatim
(prf/ega)










































