Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menegaskan rasa kecewanya atas tindakan aparat dalam insiden tewasnya pengemudi ojek online, Affan Kurniawan, bukan sekadar ekspresi emosional seorang kepala negara. Dalam politik, setiap kata yang keluar dari seorang presiden adalah gestur yang sarat makna, sekaligus pesan kepada publik dan institusi yang dipimpinnya.
Selama ini, publik lebih sering mendengar pernyataan pejabat yang cenderung defensif ketika menghadapi kasus pelanggaran aparat. Namun, Prabowo memilih jalur berbeda: ia menegaskan kekecewaan secara terbuka, bahkan menekankan bahwa investigasi harus dilakukan secara tuntas dan transparan.
Dalam kacamata politik, ini adalah bentuk political signaling. Menurut teori principal-agent dalam hubungan kekuasaan, seorang pemimpin (principal) kerap berjarak dari agen (aparat birokrasi dan keamanan) yang melaksanakan kebijakan di lapangan. Dengan mengutarakan kekecewaan terang-terangan, Prabowo menegaskan bahwa jarak itu nyata dan publik perlu tahu ia tidak akan menutup mata terhadap kesalahan agen.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gestur ini punya dua lapis pesan. Pertama, kepada publik: Presiden berdiri di pihak rakyat, bukan membela aparat yang bersalah. Kedua, kepada aparat kepolisian: ada garis merah yang tidak boleh dilewati, dan jika dilanggar, presiden sendiri yang akan mengambil sikap.
Sikap seperti ini penting dalam konteks Indonesia yang kerap menghadapi masalah defisit kepercayaan terhadap institusi penegak hukum. Dengan menyatakan kekecewaan secara terang, Prabowo membalik persepsi publik bahwa negara cenderung melindungi aparatnya sendiri.
Dari sisi legitimasi, Prabowo memahami bahwa insiden seperti ini bisa dengan cepat menggerus kepercayaan publik terhadap pemerintah. Karena itu, ekspresi kekecewaan bukan hanya bahasa moral, tetapi juga strategi politik. Dalam teori political legitimacy ala Seymour Martin Lipset, legitimasi rezim ditentukan oleh sejauh mana pemerintah mampu merespons krisis dengan tindakan yang kredibel.
Dengan kata lain, kekecewaan yang diutarakan Prabowo adalah gestur politik preventif untuk menjaga agar legitimasi pemerintah tidak terguncang. Transparansi yang ia tekankan menjadi instrumen untuk merawat stabilitas politik jangka panjang.
Menguji Konsistensi Aparat
Namun, gestur politik ini baru akan bermakna jika diikuti konsistensi. Publik akan menunggu apakah janji investigasi transparan benar-benar dijalankan, atau sekadar retorika. Di sinilah tantangan besar bagi Prabowo, agar ucapannya tidak berhenti di level simbolik dan diwujudkan dalam reformasi nyata di tubuh kepolisian.
Gestur kecewa ini sekaligus menguji sejauh mana aparat kepolisian siap berbenah dan bersikap profesional. Jika tidak, kekecewaan Presiden berpotensi berulang dan bisa berbalik menjadi krisis politik yang lebih besar.
Gestur politik Prabowo dengan mengutarakan kekecewaan terang-terangan adalah hal baru dalam tradisi kepemimpinan Indonesia. Ia menandai era di mana presiden tidak ragu mengkritik aparat di depan publik, sekaligus mengajak rakyat melihat bahwa negara berdiri bersama mereka.
Apabila langkah ini diikuti dengan tindakan nyata yang transparan dan tegas, maka kekecewaan Prabowo bukan hanya gestur politik sesaat, melainkan sinyal lahirnya standar baru dalam hubungan antara pemimpin, aparat, dan rakyat.
Agung Baskoro. Direktur Eksekutif Trias Politika Strategis.
Tonton juga video "Sedih dan Kecewanya Prabowo soal Ojol Tewas Dilindas Rantis Brimob" di sini:
(rdp/tor)