Sumo Bawuk & Partai Dancuk
Catatan:
Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Jakarta - Partai Gerakan Aceh Merdeka (GAM) bakal hadir. Kontra pada embrio partai ini menyebar kemana-mana. Terbayang, kalau jadi janin, apalagi sampai lahir, destruksinya sebanding kloning massal manusia. Kerukunan terancam, disintegrasi terjadi, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tinggal kenangan. 'Kreatifitas' dari Aceh itu akan menyulut symbol negasi yang lain untuk bermunculan. Berbiak Partai Republik Maluku Selatan (RMS), Partai Bintang Kejora, Partai Komunis, Partai Teroris, Partai Bangsat, Partai Dancuk, Partai Kemaluan, Partai Setan, dan entah partai laknat apalagi.Mbok yao, kalau mau mencari nama, janganlah nama yang melukai hati bangsa ini. Sebab nama yang setara kata itu adalah simbol. Dalam simbol itu tertuang sinyal harapan, atribut, juga muasal ketakutan. Dipandang dari sisi ini, nama adalah segalanya. Dia kohesi kehidupan.Sebagai sebuah simbol, nama membawa watak dan karakter. Semut, misalnya. Yang berwarna merah kalau menggigit memberi efek gatal dan sakit, berkebalikan dengan semut hitam. Kendati ada pula semut hitam yang gigitannya melebihi semut merah.Di jagat lambang, posisi semut itu tetap tak bergeser. Mimpi dikerubungi semut merah dan semut hitam sangat paradoksal. Kerubungan semut merah ditafsirkan sebagai musibah dan bencana, sedang semut hitam dimaknai rejeki dan keberuntungan. Hanya gara-gara nama, pengamal 'ajaran Molimo' Kediri, yang ketika lahir diberi nama orangtuanya cukup keren, Sumo Karidi, sempat mencak-mencak tatkala nama itu secara massal berubah di masyarakat menjadi Sumo Bawuk.Itu perlu dimaklumi, karena jika Sumo Karidi berarti anak laki-laki yang dilahirkan terakhir, tapi setelah ganti Sumo Bawuk, maknanya berubah drastis menjadi laki-laki yang gandrung bawuk. Lelaki yang doyan kemaluan wanita.Begitu pentingnya nama. Ia tak cuma wadag simbol baik dan buruk, tapi juga meluas sampai tataran kecerdasan. Nama anak pemberian orangtua misalnya, adalah lambing harapan dan penalaran ayah dan ibunya. Tapi mengapa dalam sejarah pernah tercatat, Shakespeare 'mengingkari' itu? Kalimat sang pujangga mendegradasi simbol, tatkala ia ditanyai seseorang di keramaian sebuah pasar? Benarkah begitu? Bagi Shakespeare, secara filosofis, hakekatnya yang dijual di pasar adalah kebohongan. Barang yang dijual hanya sarana tawar-menawar. Dusta itu ditransaksikan. Jika terjadi deal, yang mahal bukan barangnya, tetapi dusta itu sendiri. Jika itu realitasnya, maka ketika seseorang bertanya nama sang pujangga, ia pun menjawabnya : "Apalah arti sebuah nama." Karena sebuah nama yang disebut secara 'jujur' di pasar akan tidak bermakna tanpa melibatkan kebohongan dua pihak. Sang pujangga enggan berbohong, dan tak tega kejujurannya ditafsirkan sebagai dusta.Terus bagaimana dengan Partai GAM yang diributkan itu? Jika partai itu sampai lahir, tangkap seluruh pengurus dan anggotanya. Pemerintah harus tegas. Sebab penggagas nama partai itu dipastikan wawasan kebangsaannya rendah dan merusak harmoni heterogenitas bangsa ini.Keterangan Penulis:Djoko Su'ud Sukahar, pemerhati budaya, tinggal di Jakarta. Alamat e-mail jok5000@yahoo.com.
(Djoko Su\'ud Sukahar/)











































