Tak Mau Kehilangan Kota Tua
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Tak Mau Kehilangan Kota Tua

Kamis, 28 Jun 2007 10:15 WIB
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Tak Mau Kehilangan Kota Tua
Jakarta - Satu-satunya kota tua di dunia ini, yang mungkin keberadaannya tidak terjaga adalah Palembang. Ini setidaknya dilihat dari perlakuan terhadap bangunan-bangunan bersejarah dan kampung-kampung tuanya. Tidak seperti di Roma, yang pemerintah dan masyarakatnya sangat hati-hati dalam membangun atau menata kota tua itu. Begitupun pemerintah Turki terhadap kota Istambul, dan Inggris terhadap kota London.Tidak heran, bila sejumlah kawan yang berkunjung ke Palembang, mengaku tidak mendapatkan kesan saat memasuki kota yang dibelah Sungai Musi ini sebagai kota tertua di Indonesia, yang saat ini berumur 1324 tahun. Bahkan, Palembang terkesan sebagai kota yang tengah berkembang. Mereka pun kian terkejut, ketika pemerintah Palembang menargetkan kota ini di masa mendatang sebagai kota metropolis. Ini memberi kesan, selama ratusan tahun, Palembang hanyalah sebuah kota kecil, meskipun dua kerajaan pernah berjaya di Nusantara mengendon di sini, yakni Sriwijaya dan Kesultanan Palembang Darussalam.Mungkin salah satu sudut membaca Palembang merupakan kota metropolis, yakni sebuah kota yang dihidupkan berbagai suku-bangsa di dunia, baik Melayu, Jawa, Tionghoa, Arab, India, Persia, hingga Eropa, melalui penandaan makanan yang ada di Palembang. Berdasarkan komposisi bumbu, bahan baku, serta cara pembuatan, jelas makanan di Palembang merupakan makanan lintas budaya. Ada bumbu dan pengolahan Tionghoa seperti pempek, nasi minyak pengaruh Persia, sambal cengek yang merupakan perpaduan Jawa dan Melayu, serta pindang ikan dan pindang daging yang merupakan kolaborasi bumbu Tionghoa, Arab, dan Melayu. Sementara jenis pengenan sangat dipengaruhi Eropa, Arab, dan Tionghoa, seperti bolu Delapan Jam, Suri, dan 8 Jam. Di sisi lain, melihat bangunan Benteng Kuto Besak yang arsitekturnya mirip benteng di Prancis pada kurun waktu yang sama, rumah Limas yang cerdas sebagai sebuah rumah yang efektif di kawasan pesisir dan daratan, serta memiliki nilai seni yang tinggi, merupakan satu contoh bahwa Palembang merupakan kota terbuka, yang menerima berbagai ilmu pengetahuan dan budaya, sebagai ciri sebuah kota metropolis. Bangunan dan Kampung TuaDilihat dari bangunan, kerajaan Sriwijaya dapat dibilang tidak meninggalkan apa-apa di Palembang sebagai penandaan kejayaannya. Sementara kebanggaan peninggalan Kesultanan Palembang Darussalam seperti Benteng Kuto Besak, saat ini kondisinya tidak seperti dulu. Sebab di dalamnya sudah ada kantor meliter, rumah sakit, dan asrama prajurit meliter. Lalu, Masjid Sulton atau Masjid Sultan Mahmud Badaruddin II juga kondisinya berubah setelah mengalami renovasi, termasuk renovasi yang nyaris total dilakukan pemerintah Sumatra Selatan semasa kepemimpinan Rosihan Arsyad.Mungkin, yang masih bertahan, adalah bangunan-bangunan tua yang merupakan penanda dari kekuasaan kolonial Belanda, seperti gedung Ledeng, Balai Pertemuan, serta sejumlah rumah warga di kawasan Talangsemut. Nah, jika hanya melihat bangunan-bangunan peninggalan kolonial Belanda, saya pikir tidak ada yang istimewa terhadap Palembang bila dibandingkan dengan Jakarta, Medan, Makasar, Semarang, Yogyakarta, atau Surabaya. Bangunan-bangunan itu seakan menutup kebesaran sebelumnya, ketika bangsa Eropa masih hidup di masa kegelapan.Mengapa bangunan hasil peninggalan kerajaan Sriwijaya tidak tersisa di Palembang? Berdasarkan kepercayaan mistis kuno, wilayah kiri dari arah Uluan merupakan wilayah suci, sementara kanan merupakan wilayah pemukiman. Jadi, tidak heran bila berjalan dari daerah pedalaman Sungai Musi, dengan menyusuri sungai, kita akan menemukan makam, arca suci (idol), atau candi, berada di sebelah kiri. Sementara pemukiman berada sebelah kanan sungai.Nah, sebenarnya, pusat pemerintahan yang berada di Palembang Ilir atau sebelah kiri dari sungai Musi--dari arah Uluan--yang berlangsung saat ini, secara tidak langsung menimpa atau menutupi wilayah suci yang mungkin telah ditetapkan oleh penguasa Palembang sejak kejayaan Pasemah atau kerajaan Sriwijaya. Jadi tak heran, misalnya, di Palembang Ilir banyak ditemukan lokasi pemakaman, arca suci (idol), atau masjid.Mungkin, saat Islam berkuasa di Palembang, demi pertimbangan kondisi tanah, pembangunan kota Palembang lebih difokuskan ke Palembang Ilir. Dan, pada akhirnya sejumlah bangunan peninggalan kerajaan Sriwijaya seperti candi menjadi tergusur atau hancur oleh pemukiman penduduk dan rumah ibadah. Apalagi Islam secara tegas menolak keberadaan benda-benda mati yang disembah sebagai dewa atau Tuhan.Saat Belanda berkuasa, pembangunan Palembang diteruskan di wilayah Ilir. Bahkan, beberapa anak Sungai Musi--yang tidak pernah dilakukan selama ratusan tahun sebelumnya--mulai ditimbun.Nah, perilaku kolonial Belanda tampaknya diteruskan oleh pemerintah Indonesia. Bahkan, perlakuan terhadap bangunan tua, kondisi alam, melebar pada kampung-kampung tua. Pada awalnya kampung-kampung tua memang tidak digusur. Tapi oritentasi penjagaan terhadap kampung-kampung tua tidak dilangsungkan. Kampung-kampung tua dibiarkan begitu saja berkembang.Dan, selanjutnya, sejumlah kampung tua mulai digusur, dan didirikan bangunan baru. Baik digusur maupun dampak dari perubahaan sosial-ekonomi. Misalnya pengembangan Pasar 16 Ilir, Pasar Cinde, sejumlah pembangunan rumah toko, serta pabrik PT Pupuk Sriwijaya.Puncaknya, peristiwa kebakaran pada empat kampung, yakni 22 Ilir, 24 Ilir, 26 Ilir, dan 27 Ilir, pada 18 Agustus 1981, yang tidak hanya menghancurkan rumah-rumah tua, tapi juga merusak sistem sosial masyarakat atau kampung tua Palembang. Ironinya, di bekas lokasi tersebut, dikembangkan sistem sosial baru dengan cara dibangunnya rumah susun dan sejumlah pusat perbelanjaan. Dampaknya, tradisi yang berkembang bertahun-tahun pada masyarakat Palembang di empat kampung itu mengalami pergeseran sebagai akibat berubahnya bentuk pemukiman.Jangan DiteruskanYang masih membanggakan, sejumlah kampung tua di tepian sungai Musi masih bertahan. Selain tradisi, bangunan tua seperti rumah limas, langgar, masjid, dan kelenteng, sebagian masih bertahan hingga saat ini. Sebut saja kampung kapitan Arab Assegaf, kampung Al-Munawar, kampung kapitan Tionghoa 7 Ulu, kampung Tionghoa 10 Ulu, kampung melayu 1, 3, 4, 5 Ulu, dan Suro, 14 Ilir, Kuto Batu, dan 1 Ilir, serta lainnya.Tapi, yang mengkhawatirkan, kampung-kampung tua yang berada di tepian Sungai Musi beserta bangunan tuanya, terancam tergusur lantaran perencanaan pengembangan kota dan wisata di Sungai Musi. Misalnya sempat adanya rencana pembangunan jembatan Musi III yang menggunakan lokasi kampung Arab Al-Munawar dan Kuto Batu. Untungnya rencana tersebut dibatalkan. Lokasinya dipindahkan eks rumah pemotongan hewan. Lokasi ini juga harus hati-hati lantaran di sekitar Boom Baru, terdapat masjid tua yakni masjid Lawang Kidul. Ancaman lainnya, sejumlah investor juga berminat mengembangkan hotel yang berada di tepi sungai Musi.Bila jembatan Musi III dapat diamankan dari penggusuran kampung tua, bagaimana dengan rencana pembangunan jembatan Musi IV, V, VI, dan seterusnya? Apakah tidak akan menggusur lokasi kampung tua yang ada di tepian sungai Musi? Tidak tahu. Yang jelas, pembangunan jembatan itu kemungkinan besar akan diikuti dengan pembangunan sarana lainnya, seperti hotel, pertokoan, dan home stay. Pembangunan hotel, pertokoan dan home stay tentunya akan mengubah perilaku sosial masyarakat di tepian Sungai Musi, yang banyak dipengaruhi ajaran Islam. Bukan menuduh, sebagai dialektika pembangunan, apabila berdiri sebuah hotel di suatu lingkungan, kecenderungan umum di sekitarnya akan diikuti pembangunan tempat-tempat hiburan, seperti bar, pub, atau diskotik.Jadi, saya sangat berharap bila pemerintahan sekarang tidak mengikuti jejak yang dilakukan kolonial Belanda dulu. Bahkan, sebaiknya pemerintah berusaha mengembalikan kondisi seperti dahulu, seperti melakukan revitalisasi anak sungai Musi, yang sebagian besar hilang lantaran ditimbun atau penyempitan. Lalu, apa solusinya biar pembangunan di Palembang terus berjalan tapi tidak menganggu jejak-jejak sejarah dan budaya? Menurut saya, jadikan Palembang yang ada saat ini sebagai kota tua.Kota TuaSaya memimpikan Palembang dengan batasnya di Ilir pada simpang Charitas, di Ulu batasnya stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring, kemudian Palembang Ilir bagian batas Timurnya lokasi pabrik Pusri dan batas Barat pada Bukit Siguntang, serta Palembang Ulu bagian Timurnya adalah Bagus Kuning serta 1 Ulu pada bagian Barat, dijadikan kota tua. Sebagai kota tua, selain mempertahankan bangunan-bangunan tua dan kampung tua, juga dihidupkan perpustakaan, gedung kesenian, galeri, kegiatan agama, serta peguruan tinggi. Saya membayangkan sepanjang Jalan Jenderal Sudirman bejajar toko buku, toko barang kerajinan dan seni, sementara di sekitar rumah susun berdiri perguruan tinggi sebagai pusat studi dan laboratorium berbagai ilmu pengetahuan. Lalu, di sepanjang sungai Musi, selain hadir perpustakaan, galeri, gedung kesenian, serta pusat perbelanjaan kerajinan.Masyarakat yang berada di kampung-kampung tua dapat terlibat dalam berbagai aktivitas di atas, misalnya mereka menjadi produsen dan pelaku bisnis kerajinan, buku, serta pendukung berbagai aktivis pendidikan, agama, dan seni-budaya. Sementara kantor-kantor pemerintah tetap mengurung keberadaan kota tua ini. Mengapa aktivitas pendidikan, seni, dan budaya, yang berlangsung di kota tua? Sejarah membuktikan aktivitas itu tidak akan merusak jejak sejarah, justru menjadi penjaganya. Dan, bukan tidak mungkin program Visit Musi 2008 memberikan dampak Palembang sebagai kota tua. Lalu, bagaimana dengan aktivitas bisnis dan industri? Saya pikir pemerintah Palembang dapat mengembangkan kota baru. Misalnya di sekitar daerah Tanjung Api-Api dijadikan kota industri, sementara kota bisnis dapat dikembangkan di kawasan Kilometer 5 hingga ke Talangbetutu. Pengembangan wilayah pemukiman dapat dioptimalkan di kawasan Kenten dan Kalidoni. Kawasan Gandus dapat dijadikan pusat agroindustri atau pertanian penunjang. Sementara kawasan Palembang Ulu tetap dijadikan wilayah pemukiman, tapi lantaran sebagian besar daerahnya merupakan resapan air atau dataran rendah, sebaiknya bangunan yang didirikan tidak melakukan penimbunan dan mengutamakan konsep bangunan berbentuk panggung. Serta, di wilayah-wilayah pemukiman penduduk itu juga dibangun berbagai fasilitas publik, seperti taman, sarana olahraga, dan gedung atau gelanggang remaja. Bila ini dilakukan, pembangunan jembatan penunjang transportasi melalui sungai Musi dapat dikembangkan di wilayah Palembang ujung Timur dan Barat. Lokasinya dapat di kawasan Gandus dan Sei-Batang. Jembatan yang membelah kota tua cukup jembatan Ampera, sebab aktivitas bisnis dan industri telah dipindahkan ke Tanjung Api-Api dan Talangbetutu. Bila perlu kendaraan umum dan roda empat melalui jembatan Ampera. Jembatan Ampera hanya boleh dilalui kendaraan tradisional dan ringan, seperti becak, sepeda, atau motor. Tepatnya kota tua ini lebih mengutamakan aktivitas berjalan kaki. Bila aktivitas bisnis dan industri masih melalui atau membutuhkan kota tua ini, saya pikir selain kehilangan jejak sejarah Palembang juga berbagai persoalan perkotaan seperti kemacetan, kekumuhan, banjir, akan terus menghantui Palembang. Jelasnya, saya tidak mau kehilangan Palembang untuk kesekian kalinya.Keterangan Penulis:Penulis adalah wartawan detikcom. Tulisan ini merupakan pendapat pribadi dan tidak menggambarkan sikap/pendapat tempat institusi penulis bekerja. (Taufik Wijaya/)


Berita Terkait