Perjudian Tutup, Batam 'Mantab'
Catatan:
Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Jakarta - Melihat Kepulauan Riau (Kepri) sekarang, ibarat menyaksikan kejatuhan sebuah dinasti. Kota yang dinamis itu kini berubah lengang tanpa greget, dan dimana-mana orang mengeluh. Pengusaha mengeluh karena lahan usahanya menyempit, dan rakyat tertekan karena lapangan pekerjaan semakin sulit didapatkan. Padahal 'rakyat Batam' itu terlanjur berbondong-bondong meninggalkan daerah asal untuk beradu nasib di 'Kota Harapan' ini.'Kejatuhan' perekonomian Batam itu sebenarnya sudah mulai tampak puluhan tahun lalu. Itu terkait dengan kebijakan pemerintah pusat yang 'mencla-mencle', yang menyebabkan hengkangnya ratusan industri yang tumbuh di kawasan ini.Para pengusaha manca itu melihat India, Vietnam, dan China lebih menjanjikan ketimbang harus menanamkan investasinya di kepulauan yang semula diproyeksikan untuk menyeret 'wisatawan' Singapura dan negeri lain yang bertandang ke Negeri Singa itu. Namun karena perjudian, pelacuran, minuman keras, rokok, dan 'kebebasan' hidup jorok khas Indonesia masih diperbolehkan di Batam, maka penurunan pendapatan Batam tak seberapa terasakan. Pengusaha lokal mengalihkan usahanya di hiburan dan perjudian, dan rakyat bisa menyambung hidup dari sektor yang bertumbuh.Tapi sejak tiga tahun lalu, berbagai kebijakan baru diberlakukan di daerah ini. Perjudian yang menjadi urat nadi perekonomian Batam ditutup. Dampaknya, sekitar 40 ribu perempuan kehilangan mata pencaharian. Itu belum kaum laki-laki yang berjualan rokok, sopir taksi, ojek, serta yang melayani hotel dan kasino.Setelah itu, trafficking yang marak kembali menggoyang Batam. Pelacuran diobok-obok. Mucikari, pelacur, serta tamu yang tersisa dari Singapura, Malaysia, dan Thailand ditangkapi, maka hotel, restoran, serta sendi lain yang bertumpu pada bisnis itu akhirnya runtuh. Ekonomi Batam ambruk.Kejatuhan ekonomi Batam itu gampang dilihat. Jalanan yang dulunya macet, kini lengang. Pertokoan, hotel, dan tempat hiburan banyak yang tutup. Dan yang sangat berarti, sekarang kalau jalan-jalan di kota ini, sudah jarang ketemu orang Singapura dengan taburan dollarnya, atau orang Malaysia dengan Ringgitnya.Itu pula yang menjadikan tiap orang Batam yang ditanya tentang masa depannya selalu menjawab dengan tarikan nafas panjang. Mereka tidak tahu masa depannya, dan juga tidak tahu apa yang bisa dilakukannya. Bahkan para pengusaha yang biasa jenius dalam melihat peluang, kini tak mampu berbuat apa-apa. Secara berkelakar mereka mengatakan, bahwa pengusaha Batam kini Mantap. Itu bukan karena kehebatannya, tapi karena tidak ada yang bisa dikerjakan. "Mantab itu singkatan dari pengusaha 'Makan Tabungan'. Kita tidak bisa bekerja. Sekarang ini pengusaha Batam menganggur, hanya makan dari uang tabungan," kata mereka.Yang lebih lucu lagi adalah kebijakan yang terjadi di Karimun. Di kota itu, operasi pelacuran dilakukan secara gila-gilaan. Semuanya ditangkapi, karena dianggap melanggar hukum dan memalukan daerah. Tapi apa yang terjadi? Tak sampai sebulan, pemerintah daerah kembali 'membuka' bisnis yang ditutupnya. Itu karena 'kebijakan yang baik' itu ternyata melumpuhkan seluruhnya. Mata pencarian rakyat, juga pendapatan pemerintah setempat.Melihat kondisi Batam kini, rasanya pemerintah pusat perlu berpikir ulang. Judi dan pelacuran memang bukan perbuatan baik. Tapi jika kita bicara global, maka dari sector ini akan banyak hal yang bisa tertangani. Toh Malaysia sendiri juga punya Genting Island?Keterangan Penulis:Djoko Su'ud Sukahar, pemerhati budaya, tinggal di Jakarta. Alamat e-mail jok5000@yahoo.com.
(/)











































