Deklarasi Partai Sampah
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Deklarasi Partai Sampah

Rabu, 13 Jun 2007 08:56 WIB
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Deklarasi Partai Sampah
Jakarta - Makin banyak saja para pemimpin yang masuk penjara. Dari pejabat sampai wakil rakyat. Itu tanda, bahwa kebejatan moral bangsa ini grafiknya kian meninggi. Secara budaya, bangsa ini telah kehilangan pijakan nilai yang selama ini membuatnya eksis.Jika sudah separah itu kerusakan nilai penjaga harmoni, logikanya kehancuran total bangsa ini tinggal menunggu waktu. Kelak tak ada lagi etnis Jawa, Batak, Dayak, Sunda, Bali, Minahasa, Dawan, atau Madura, karena nilai luhur dalam etnis itu terkubur hedonisme yang menjadi-jadi.Tapi jika kita percaya konsep kosmologi Jawa, maka pesimisme itu masih menyisakan sinar optimisme. Sebab dalam budaya ini, hedonisme diasumsikan sebagai filter untuk memisahkan yang baik dari yang buruk. Paham klasik berlaku, bahwa yang salah kalah dan yang benar menang.Dalam konteks itu, ada sederet pupuh dalam Jangka Jayabaya yang apologis. Katanya, kelak jika sudah berkibaran umbul-umbul klaras (daun pisang kering), tenggelamnya perahu gabus dan mengambangnya batu hitam, maka itu tanda bakal tampilnya Ratu Adil.Umbul-umbul klaras naga-naganya simbolisasi dari banyaknya berdiri partai politik. Realitasnya, sampai saat ini, sudah ratusan partai yang didaftarkan. Jika aturan yang masih digodok tidak memberi pengetatan, maka umbul-umbul (baca : partai) itu memang benar-benar klaras (baca: sampah yang tidak berguna bagi rakyat). Umbul-umbul klaras adalah partai sampah. Jadi, tak lama lagi negeri ini bakal diramaikan deklarasi partai sampah. Para 'pemimpin partai sampah' otomatis tidak dipercaya rakyat. Selain tidak prestisius, belang mereka juga ketahuan. Sebab diyakini, kerja mereka kelak korupsi dan mengkadali rakyat. Kendati sama-sama tahu, akhir dari karier mereka adalah penjara (tenggelamnya perahu gabus).Tanda-tanda yang disiratkan Jangka Jayabaya ini bak cerminan jaman ini. Puluhan Gubernur, Bupati, Ketua DPRD (Wakil Rakyat) masuk penjara. Itu karena mereka yang punya jabatan penting itu terlibat korupsi. Jika gabus-gabus (orang tak punya nalar dan hati nurani) itu tenggelam, maka mulailah batu hitam (orang yang berpikir, humanis, meyakini jabatan sebagai amanah) akan bermunculan ke permukaan (kambang, mengambang).Satu-persatu dari mereka menduduki jabatan penting. Lambat tapi pasti memperbaiki tatanan, sebelum Ratu Adil yang ditunggu datang menyempurnakan kebaikan yang sudah bersemi.Untuk itu, bagi yang menjabat atau akan menjabat, Jangka Jayabaya pupuh ini patut diugemi. Ini pakem menuju kebahagiaan keluarga, bangsa, dan juga kehidupan setelah mati, itu kalau percaya. Jika tidak, jangan menyesal jika karier yang diperjuangkan kelak berakhir di hotel prodeo. Jadi narapidana!Keterangan Penulis:Djoko Su'ud Sukahar, pemerhati budaya, tinggal di Jakarta. Alamat e-mail jok5000@yahoo.com. (Djoko Su\'ud Sukahar/)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads