Tragedi Lekok Itu
Catatan:
Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Jakarta - Musibah Lekok menyayat hati. Selain orang dewasa tertembak mati, juga wanita hamil serta seorang anak, yang kini masih dirawat. Sebagai sebuah tragedi, peristiwa penembakan itu tak termaafkan. Apalagi yang ditembak adalah rakyat, dan yang menembak adalah tentara.Korban yang jatuh memberi ruang yang besar untuk didramatisasi. Rakyat yang harus dilindungi ternyata ditembak mati. Rakyat yang 'membiayai' harus mati di tangan yang 'dibiayai'. Dan peristiwa itu semakin dramatis, karena tentara ini terkesan sangat barbar. Orang hamil 'dibunuh', dan anak kecil tak berdosa ditembak.Peristiwa yang terjadi di Desa Alastlogo, Lekok, Pasuruan itu, dicari dalil darimana saja pasti ketemu salah. Tentara, dalam hal ini Marinir, tak bisa berkilah. Masyarakat tergiring pada dogma kaku. Dan Marinir sebagai obyek penderita. Membantah salah, tak menyanggah jadi bulan-bulanan hujatan.Yang menakutkan, pembesaran kesalahan terhadap tindakan tentara yang salah itu semakin melebar kemana-mana. Pengurus Nahdlatul Ulama pun ikut mengekploitasi itu. Mereka menampung wadulan penduduk, dan ikut tersinggung, serta bereaksi tak kalah sengit dengan yang lain.Tapi mari kita berpikir jernih. Tentara menembak memang salah. Dan untuk mengurusi kesalahan itu, sudah ada jalur hukum yang akan menjatuhkan sanksi. Tapi yang perlu dijernihkan adalah, benarkah kesalahan itu dilakukan marinir secara barbar dan arogan? Penduduk diam-diam ditembaki. Rakyat tak berbuat apa-apa dibunuhi?Sebagai jurnalis, saya sudah puluhan tahun mengikuti peristiwa yang ada di Grati ini. Itu tak berlebihan, karena kasus sengketa tanah ini sudah muncul sejak tahun 1960 an. Dan sejauh itu, ekses dari kasus ini telah meluber hingga ke jalan raya. Juga sampai dipengadilankan, yang dimenangkan Marinir.Jika kita mau jujur, langkah yang dilakukan Marinir selama ini sudah sangat kompromis. Mereka amat bersahabat. Sebab di era Orde Baru semua tahu bagaimana 'tabiat' tentara. Jangan lagi sampai kasus tanah dengan rakyat. Untuk ketersinggungan saja sudah bisa membawa siapa saja yang terlibat dengan aparatur bersenjata itu memasuki dunia kelam.Tapi itu tak terjadi. Jalur penyelesaian secara hukum tetap diikuti oleh Korp Marinir. Di era Orde Baru itu kita tidak pernah mendengar ada penculikan, penembakan, apalagi pembunuhan yang dilakukannya. Kendati konflik kecil memang acap terjadi di daerah ini.Untuk itu, jika sekarang, di era reformasi ini ada insiden penembakan yang menewaskan beberapa korban di Lekok, rasanya tidak masuk akal kalau itu hanya dimaknai sebagai Marinir 'kepingin' nembak dan bunuh orang. Kalau Marinir kepingin itu, tentu tidak sekarang mereka lakukan, tapi sudah terjadi di era Orde Baru yang suram itu.Tindakan oknum Marinir itu memang salah. Tapi kesalahan itu bukan bentuk barbarisme atau arogansi korp ini. Dengan begitu jangan hanya percaya terhadap kesaksian warga dan berasumsi musibah ini mutlak salah aparat. Latar belakang kasus tanah yang berlarut-larut ini juga perlu ditelaah, hingga kita bisa melihat kesalahan oknum itu pada koridor yang benar.Jika tidak, maka kita sedang terlibat membangun sebuah anarkisme baru hanya gara-gara menelan mentah-mentah kesaksian warga yang secara hukum telah kalah. Keterangan Penulis:Djoko Su'ud Sukahar, pemerhati budaya, tinggal di Jakarta. Alamat e-mail jok5000@yahoo.com.
(/)











































