Timor Leste, Negara Tanpa Kuasa
Catatan:
Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Jakarta - Ketegangan di negara termiskin di Asia ini bukan persoalan baru. Jika dulu, ketika Timor Leste menjadi bagian Indonesia dimaknai sebagai keinginan rakyat Timor Leste untuk merdeka, maka ketegangan hari ini diasumsikan sebagai dampak arogansi tentara Australia terhadap warga setempat. Konflik berkepanjangan yang terus semakin memanjang itu merupakan konsekuensi logis dari kemajemukan. Heterogenitas suku yang terhimpun dalam sebuah negeri yang belum terbentuk kesepahaman. Ini tidak beda jauh dengan yang pernah terjadi dalam pembentukan negara Amerika Serikat, India pasca lepas dari Inggris yang memunculkan negeri-negeri baru semacam Pakistan dan Banglades, dan juga Indonesia.Timor Leste memang miniatur dari negeri-negeri seperti itu. Di Timor Leste, puluhan suku tinggal. Dari suku komunitas kecil seperti Bunak dan Kemak, sampai suku mayoritas seperti Dawan dan Tetun.Yang lebih menyulitkan, selain suku-suku itu amat protektif yang dilandasi oleh kepercayaan terhadap 'tiga tuhan' yang terdiri dari Uis Neno (tuhan yang tampak yang diwadagkan matahari), Uis Oel (tuhan air) dan Uis Pah (tuhan tanah), mereka juga dihidupi oleh filosofi cecak.Sosok dan karakter binatang ini menjadi semacam panduan untuk segala gerak manusia Timor dalam bertindak. Ini radiks (akar) manusia Timor berpikir dan berprasangka. Di dalamnya terkandung jeroan (Jawa : wadi) suku-suku asli di Pulau Cendana itu dalam melihat sesuatu, menerjemahkan sesuatu, dan menyikapi sesuatu.Ditambah penjajahan yang dilakukan Portugis yang menerapkan strategi konflik, maka manusia Timor muncul sebagai manusia yang keras, peka, gampang berprasangka, penuh intrik, dan punya fanatisme sempit. Itu pula yang menjadi alasan, mengapa perlu melibatkan suku Bali dan Flores dalam merealisasi transmigrasi lokal yang dipusatkan di sepanjang trans Timor. Suku Bali dan beberapa suku dari Flores itu dijadikan penyekat suku setempat. Hasilnya amat positif. Sekarang masih bisa dilihat, baik yang berada di Timor Barat maupun yang masuk Timor Leste.Ke depan, budaya seperti itu amat tidak prospektif. Negara jadi tidak punya kekuasaan. Tanah bukan milik orang atau negara. Tanah merupakan warisan suku yang dipertahankan mati-matian. Dan itu pula jawaban terhadap jalan aspal di Ambeno (Timor Leste) yang mulus itu tetapi di tengahnya harus dipagari kayu.Dari sisi penduduknya, posisi negara juga sama lemahnya. Mereka tidak merasa sebagai warga dari sebuah negara. Keyakinan mereka, dia anggota suku yang dipimpin kepala suku yang disebut Kesar. Untuk itu, tidak ada kewajiban untuk patuh di luar keyakinan itu. Apalagi harus patuh pada Presiden Xanana Gusmao.Dengan kenyataan itu, jika masih banyak pelintas batas, dan ada perkelahian antara 'penduduk' Timor Leste dan 'penduduk' Indonesia, rasanya kita juga jadi bodoh kalau berpikiran itu adalah 'perkelahian dua negara'. Sebab mereka tidak melihat ada negara yang membatasi kehidupannya.Timor Leste memang mimpi kalau cepat maju dan bisa sejahtera. Negeri itu sulit mewujutkan cita-cita itu. Sikap hidup rakyatnya tidak mendukung. Dan entah, dibutuhkan berapa puluh tahun lagi untuk itu. Terkecuali Timor Leste kembali jadi bagian Indonesia. Keterangan Penulis:Djoko Su'ud Sukahar, pemerhati budaya, tinggal di Jakarta. Alamat e-mail jok5000@yahoo.com.
(Djoko Su\'ud Sukahar/)











































