Orang Pintar Jadi Politisi
Catatan:
Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Jakarta - Pengetahuannya tentang ilmu hukum, khususnya hukum tata negara, membuat pendapatnya Yusril Ihza Mahendra didengar oleh banyak pihak. Dalam berbagai kesempatan, dia bisa menjelaskan problem hukum secara gamblang sehingga masyarakat bisa mengikutinya dengan gampang.Memang apa yang disampaikannya tidak selalu disetujui banyak orang. Bahkan mungkin bikin frustasi kolega-koleganya yang duduk di pemerintahan. Namun apa hendak dikata, ketika berembug di forum sesama pejabat pemerintah, konon nyaris tidak ada pihak yang bisa mematahkan argumentasi hukum Yusril.Contoh mutahir adalah soal kontroversi PP No. 37/2006. Sudah bulat, keputusan Menkeu dan Mendagri untuk merevisi PP tersebut. Presiden juga sudah menyetujuinya. Nyaris tak ada pejabat yang menolak, kecuali anggota DPRD yang tergabung dalam Adeksi dan Adkasi. Namun ketika rencana revisi PP tersebut diproses legal formalnya, Yusril selaku Sekretaris Negara menunjuk ada kelemahan hukum atas materi revisi tersebut. Jika kemudian Presiden tak segera meneken PP revisi tersebut, itu memperlihatkan bahwa pendapat Yusril diterima Presiden. Setidaknya pendapatnya menjadi bahan pertimbangan, sehingga proses revisi dihold. Bisa dibayangkan bagaimana perasaan para menteri yang menyodorkan naskah revisi tersebut atas pendapat Yusril. Tentu ada perdebatan di antara keduanya. Namun, sampai sejauh ini Mendagri, tidak memberi tanggapan terbuka. Mendagri kelihatan kesal, kenapa naskah revisi PP tersebut tidak segara diteken.Tanggapan Yusril atas rencana revisi PP No. 37/2006 tersebut mengingatkan peristiwa serupa beberapa tahun lalu. Ingat perdebatan Yusril dengan koleganya tentang Perpu pemberantasan terorisme. Juga bagaimana dia beradu argumentasi dengan para anggota KPU yang menolak turunnya Perpu untuk mengantisipasi kacaunya jadwal Pemilu 2004. Bagi media pernyataan-pernyataan Yusril yang berbeda dari pejabat pemerintah yang lain, itu sangat menarik diikuti, sebab konflik punya nilai berita tinggi. Pendapat hukumnya sangat runtut, logis dan argumentatif sehingga mudah dipahami. Itu itu berarti pendapat Yusril telah memporakporandakan basis argumentasi hukum yang telah dibangun oleh pejabat lain. Pada titik ini, Yusril tampak sebagai seorang guru besar dan ahli hukum tata negara yang mumpuni.Tak kalah menarik dari sosok Yusril adalah pernyataan sinisnya terhadap pendapat-pendapat yang dinilainya salah. Sambil mengkritisi pendapat orang lain, tak jarang Yusril mengeluarkan pernyataan yang kesannya merendahkan orang lain. Sinis dan kesan merendahkan itu akan terasa apabila kita menyaksikan rekaman kamera televisi, di mana mimik dan gestur tubuhnya kelihatan. Nah pada titik inilah, kita menyaksikan sosok Yusril sebagai politisi tangguh, yang tak ragu untuk berhadapan dengan siapapun.Perpaduan antara penguasaan atas masalah hukum tata negara, dengan ketangguhannya dalam mengarungi dunia politik, membuat Yusril jadi figur yang sangat percaya diri. Hanya Yusril-lah, menteri yang berani terang-terangan menceraikan istrinya pada saat menjabat. Ia sadar tindak tanduknya menyedot perhatian media. Namun hal itu justru dia manfaatkan untuk menekan orang-orang yang berseberangan, atau yang memusuhinya.Sebagai politisi, Yusril berhasil. Dia terus menduduki posisi strategis, mulai zaman Soeharto, Habibie, Gus Dur, Megawati hingga SBY. Kalau saat ini Yusril merasa mendapat tekanan dari KPK, tentu menarik dikuti. Memang KPK tidak menempatkannya sebagai tersangka kasus korupsi. Namun meminta keterangan darinya sebagai saksi selama berjam-jam, bisa menimbulkan persepsi buruk publik atas dirinya. Ini yang bikin Yusril balik melawan KPK. Apakah akan berhasil? Kita lihat saja!Keterangan Penulis:Penulis adalah wartawan detikcom. Tulisan ini merupakan pendapat pribadi dan tidak menggambarkan sikap/pendapat tempat institusi penulis bekerja.
(Didik Supriyanto/)











































