Dongeng SBY dan Bencana Alam dari Palembang
Bagikan opini, gagasan, atau sudut pandang Anda mengenai isu-isu terkini
Kirim Tulisan

Dongeng SBY dan Bencana Alam dari Palembang

Kamis, 04 Jan 2007 07:00 WIB
Catatan: Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Dongeng SBY dan Bencana Alam dari Palembang
- - 5.00 atau 1.000 tahun lalu, ketika ratusan kapal milik kerajaan Sriwijaya, Majapahit, Mataram, dan Kesultanan Palembang Darussalam, plus kapal milik VOC, Inggris, Portugis, karam atau tenggelam di selat Bangka, para korbannya, saya percaya, tidak mengharapkan peristiwa tersebut terulang. Terutama terhadap keturunan mereka. Tetapi, entah kenapa peristiwa tersebut sering kali terjadi. Ada apa?Banyak cerita mistis mengenai keangkeran selat Bangka, terutama di sekitar Tanjung Buyut, yang konon kabarnya menjadi kuburan kapal. Meskipun tidak terlalu mirip, keangkeran Tanjung Buyut, mungkin sama seperti kisah Nyai Roro Kidul di pantai selatan pulau Jawa atau pesisir barat Sumatra.Bedanya, Tanjung Buyut-buyut yang berarti leluhur-diyakini sebagai lokasi makam orang sakti mandraguna. Sedangkan Nyai Roro Kidul diyakini sebagai jin penguasa laut selatan pulau Jawa.Bukti banyaknya kapal-kapal yang karam di selat Bangka, yakni seringnya tim pemburu harta karun yang bekerja di sana. Terutama memburu keramik atau benda-benda berharga dari masa lampau, yang tenggelam ke dasar laut bersama kapal yang karam. Bahkan, sampai saat ini, sejumlah nelayan setempat di Bangka, sering kali melakukan pencarian barang-barang berharga dari kapal-kapal yang pernah tenggelam atau karam.Terlepas soal itu, saat ini mungkin kita bertanya kenapa peristiwa bencana alam seperti gempa bumi, gunung meletus, tsunami, lumpur Lapindo, serta cuaca buruk yang berdampak bencana pada transportasi udara dan laut, terjadi selama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memimpin?Akibatnya, rasionalitas kita pun gugur. Kesimpulan bahwa alam di nusantara ini tidak mendukung kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono menjadi wacana yang berkembang di warung kopi, cafe, ruang kerja pejabat, terminal, hingga di kantor-kantor redaksi media massa. Meskipun sebenarnya, bencana alam tersebut juga terjadi selama Soeharto dan Megawati Soekarnoputri berkuasa.Saya sendiri tidak berani mengambil kesimpulan seperti itu. Tuhan tahu segalanya. Tuhan tahu apa akhir dari keinginnnya. Meskipun kita harus membaca tanda-tanda yang diberikan Tuhan, seperti penyair Taufiq Ismail berteriak dalam puisi "Membaca Tanda-Tanda".Namun, saya punya bacaan-semoga bukan iblis yang membisikkan bacaan ini.Bila dilacak, perjalanan bencana alam selama Megawati Soekarnoputri dan Susilo Bambang Yudhoyono berkuasa, hampir sama seperti perjalanan syiar Islam, Hindu, dan Budha di nusantara, atau setidaknya lokasi bencana hampir di setiap titik penyiaran ketiga ajaran tersebut. Sebut saja bencana dimulai dari gempa bumi di Bengkulu, yang diyakini sebagai lokasi awal kedatangan para penyebar ajaran Hindu dan Budha, sebelum melanjutkan ke pulau Jawa dan Kalimantan.Kemudian bencana tsunami di Aceh, yang kita ketahui sebagai lokasi awal syiar Islam di nusantara. Tidak lama kemudian bencana bergeser ke pesisir barat Sumatra yakni di sekitar Sumatra Barat dan Sumatra Utara. Selanjutnya, bencana dilanjutkan di sekitar pesisir selatan, dan barat pulau Jawa. Termasuk Yogyakarta.Sama seperti masa akhir kejayaan Islam-berdasarkan kerajaan-di nusantara, perjalanan bencana tenggelamnya kapal Tri Star 1 dan Senopati, seperti perjalanan Raden Fatah yang mambangun kerajaan Islam dari Palembang ke pesisir utara Jawa yang berpusat di Demak.Hilangnya pesawat terbang Adam Air juga tak lebih dari perjalanan pembuangan para sultan atau raja-seperti dari Kesultanan Palembang Darussalam ke daerah timur nusantara, seperti Sultan Mahmud Badaruddin II ke Ternate, dan Sultan Najamuddin Prabu Anom ke Menado oleh Belanda. Sebagai informasi makam Sultan Najamuddin Prabu Anom sampai saat ini belum ditemukan di Manado.Saya sendiri pernah berdialog dengan seorang habib di Palembang, bernama Habib Helmi, bahwa pendirian Indonesia ini sebenarnya berdasarkan azas Islam-tapi tetap menghormati ajaran agama lain-yang terbukti dalam pembukaan UUD 1945 dan Pancasila, yang menempatkan "posisi Tuhan" pada bagian atas, yang tradisi ini terus terpakai dalam setiap pembukaan surat maupun pidato para pejabat, politikus, pengusaha, yang selalu mengatakan "atas nama Tuhan" sebelum menyampaikan segala visi dan misi, termasuk mungkin yang dampaknya buruk terhadap masyarakat.Habib itu kemudian mengatakan perjalanan pemimpin Indonesia, sama seperti para sahabat Rasulllah Muhammad. Dia memulai dengan Sutan Syahrir-dia mengakui sebagai pemimpin pertama Indonesia dengan alasan Indonesia benar-benar merdeka setelah Belanda menarik ekspansi dari Indonesia-sebagai seorang pemimpin yang jujur dan sederhana seperti Abubakar sidik. Selanjutnya Sukarno yang dia samakan dengan Umar bin Khatab yang ahli strategi, lalu Soeharto seperti Usman bin affan, yang berpikir soal pembangunan ekonomi, dan terakhir dia menempatkan Habibie atau Gus Dur seperti Syaidina Ali yang cerdas.Selanjutnya? Habib itu diam.Tapi, saya berharap, ke depan, bila diniatkan berdasarkan keberkahan Tuhan, Indonesia menjadi kekuatan seperti bani Ummayah atau Abbasyiah. Sebagai kekuatan Islam, yang terbuka atas ilmu pengetahuan dari mana pun, termasuk dari mereka yang percaya Tuhan melalui agama lain. Bukan sebagai kekuatan yang mendahului kehendak Tuhan, terhadap semua makhluk ciptaannya, baik yang berada di Amerika Serikat, Aceh, Afrika, maupun di Israel.Apa yang harus kita lakukan saat ini? Seperti yang sering dikatakan para pemimpin agama, marilah kita berdialog dengan Tuhan. Dan, selalu berkurban, agar tamak yang tidak menghancurkan Indonesia.Palembang Dilupakan Ada sebuah kesombongan atau mungkin kejujuran pada sejarah plus dibumbuhi nuansa mistis. Saat ini wong Palembang percaya bila Indonesia selamat, ibu kota pemerintahan Indonesia harus berada di Palembang.Alasannya, pertama, konsep nusantara pertama berasal dari Palembang, seperti yang telah dikembangkan oleh kerajaan Sriwijaya. Selanjutnya diaspora Kesultanan Palembang Darussalam juga seperti itu, yang secara tidak langsung melanjutkan konsep nusantara. Dimulai dari Parameswara yang membangun Singapura dan Malaysia. Bahkan, diasporanya hingga mencapai ke daerah Ternate dan Filipina bagian selatan, sehingga salah satu provinsi di sana bernama Palembang.Mungkin kebetulan, kecuali Suharto dan Habibie, hampir semua pemimpin atau tokoh di Indonesia terkait dengan Palembang. Seperti Sukarno, yang menikahi Fatmawati, yang merupakan orang Palembang yang menyebar ke Bengkulu. Lalu, Try Sutrisno, yang pernah bertugas di Palembang dan kemudian bermantu orang Palembang-anak dari Kemas Fachruddin-selanjutnya Gus Dur yang selalu berkomunikasi dengan para ulama di Palembang, Megawati Soekarnoputri yang bersuamikan wong Palembang, serta Susilo Bambang Yudhoyono yang memiliki "abah" atau orang tua angkat yakni Kemas Zen Sukri, seorang ulama besar di Palembang.Di sisi lain, Palembang dapat dikatakan sebagai salah satu kota teraman di Indonesia. Berdasarkan catatan sejarah, Palembang belum pernah hancur akibat becana gempa bumi, tsunami, atau gunung meletus. Palembang baru hanya mengalami bencana berupa kekeringan dan banjir. Itu pun sejak Belanda berkuasa di Palembang, dengan melakukan pembangunan dengan menimbun sejumlah sungai atau rawa, serta para pengusaha yang menghabisi hutan di Sumatra Selatan-yang di masa lampau disebut sebagai Sriwijaya atau Kesultanan Palembang Darussalam.Terakhir, kekayaan apa yang tidak ada di Sumatra Selatan? Minyak dan gas bumi ada. Batubara banyak. Emas banyak. Gambut banyak. Dan, hampir semua tumbuhan di muka bumi ini dapat tumbuh di Palembang.Sayangnya, Palembang saat ini identik-bahkan dipercaya sejak dahulu-sebagai pusat para bandit atau perompak. Tapi, bukankah setiap daerah yang memiliki sejarah besar banyak mengalami hal yang sama, seperti Philadelphia di Amerika Serikat, yang kini konon menjadi kota para bandit, atau nasib Ethopia-yang dulunya makmur menjadi negara miskin.Demikianlah dongeng saya ini, lantaran saya menyintai Indonesia dan percaya Pancasila adalah ideologi ilmu pengetahuan buat peradaban dunia. Keterangan Penulis:Penulis adalah wartawan detikcom. Tulisan ini merupakan pendapat pribadi dan tidak menggambarkan sikap/pendapat tempat institusi penulis bekerja. (/)


Berita Terkait