Mencari Pangeran Katon
Catatan:
Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detik.com
Jakarta - Pekan ini memasuki Hari Ibu. Sebuah hari dimana perempuan yang melahirkan kita mendapat penghormatan dan penghargaan. Namun di tengah banyaknya kerumitan dan kesulitan yang âdipicuâ perempuan, rasanya, di hari yang penting ini perlu kita bertanya ulang, ibu yang mana yang mendapat peringatan itu.Masalahnya, jika Hari Ibu ditujukan untuk ibu kita masing-masing, maka rasa-rasanya, tak ada anak yang tidak menempatkan ibunya sebagai perempuan terhormat. Ibu adalah tempat mengaduh, meminta restu, dan bersimpuh tatkala problem duniawi terasa keras menghajar diri. Itu pula yang menjadikan orang Jawa menyebut ibunya sebagai pangeran katon. Tuhan yang tampak di dunia ini.Hari Ibu, memang selayaknya diperingati siapa saja. Sebab, melalui rahim ibulah laki dan perempuan dilahirkan ke dunia. Dari guo garbo (grha garba) itu asal manusia âdibentuk dan disemaikanâ, dan melalui âpintuâ itu pula kali pertama manusia diperkenalkan alam nyata yang bernama dunia. Tak berlebihan, jika dalam pandangan masyarakat Hindu di India, bagian tersembunyi dari perempuan itu disakralkan. Dia diidentifikasi sebagai gerbang dari bangun sebuah candi suci.Dalam masyarakat Jawa, sosok ibu juga menempati ruang yang amat terhormat. Dalam konsep lingga-yoni, kendati perempuan dikategorikan sebagai tiyang wingking (orang belakang), namun fungsinya amat strategis bagi kebesaran, kehormatan, dan kemakmuran keluarga. Ibu adalah guru bagi anak-anaknya, daringan bagi stabilitas ekonomi, serta simbol dari kebesaran atau keruntuhan sebuah keluarga. Itu yang menjadikan alasan, mengapa anak-anak perempuan mendapat prioritas pengawasan.Namun sakralitas itu acap ternoda oleh ulah dari perempuan sendiri. Kini dan ke depan telah banyak perempuan yang âwilayah sakralnyaâ diumbar untuk ditransaksikan. Dan tak sedikit pula yang menjadikan âpintu misteriâ itu sebagai barang pajangan yang bebas dipertontonkan pada banyak orang.Malah beberapa tahun lewat, dalam peringatan hari yang sama, secara vulgar beberapa artis kita menampilkan sketsa yang âmenyedihkanâ. Judul sketsa itu Vagina Bicara, dan dalam pengadeganannya, disertai pose mekangkang untuk menonjolkan âkewanitaannyaâ. Sketsa ini amatlah menyedihkan. Adakah untuk menunjukkan eksistensi seorang ibu harus dilakukan dengan cara itu. Apakah ibu tak bisa dikenali tanpa menyodorkan âidentitasnyaâ yang alami? Betapa âibu-ibuâ itu telah bermain-main dengan âkeibuannyaâ dan menggoda âanak-anak yang berbaktiâ ternodai dengan nafsu birahi.Bagi saya, yang mungkin kolot, ibu harusnya tak jauh dari gambaran Nyai Ontosoro dalam Bumi Manusia, novel Pramudya Ananta Toer. Atau kalau tidak, sosok ibu yang dilukiskan Maxim Gorkhy dalam The Mother. Itu adalah figur ibu yang bisa diterima secara universal. Mengapa begitu? Karena dua sosok ibu itu sadar atau tidak telah menggugah batin siapa saja untuk menaruh simpati. Dan tanpa terasa menguras airmata âanak-anakâ yang batinnya tersentuh akibat perbuatan mulia sang ibu. Jikalau dicari ibu yang bergelimang dalam dunia kemaksiatan, maka terdapat dalam diri seorang ledek dari Nganjuk berinisial Mut. Ia menari dan rela berjual diri demi sekolah anak-anaknya dan menghidupi keluarganya. Dan dia menerima dengan lapang dada segala ejekan serta cemoohan siapa saja. Dialah ibu sejati, yang layak mendapat apresiasi di hari ini. Mereka memiliki tanggung jawab sebagai ibu, dan sadar pula terhadap apa yang diperjuangkan dan dikorbankannya sebagai ibu.Hari ini, untuk ibu-ibu yang benar-benar ibu, selamat merayakan hari ibu. Hormat dan sembah dihaturkan, karena di kaki ibulah surga ditempatkan.Keterangan Penulis:Djoko Su'ud Sukahar, pemerhati budaya, tinggal di Jakarta. Alamat e-mail jok5000@yahoo.com.
(Djoko Su\'ud Sukahar/)











































